Skip to content

Dasar Pengampunan

 

Dalam Kristianitas, pengampunan bermula dari pengampunan Allah sendiri. Roma 5:8 mengatakan, “Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.” Tindakan Allah untuk memperdamaikan manusia dengan diri-Nya melalui kematian Yesus merupakan inisiatif untuk mengampuni dan memulihkan hubungan antara diri-Nya dan manusia. Bahkan, sebelum Yesus menjadi pendamaian bagi dosa manusia, Taman Eden telah menjadi saksi bisu bagaimana pengampunan ilahi dicurahkan. Manusia yang seharusnya langsung mati setelah memakan buah tersebut justru memperoleh kemurahan Allah, dengan kematian yang dieksekusi jauh setelah pengusiran dari Eden. Selain kisah Eden, pelangi yang terbit setelah air bah menambah deret panjang inisiatif Allah sepanjang Alkitab dalam mengampuni peradaban manusia dan dengan demikian memberi kesempatan baginya untuk terus berada di hadapan-Nya. Pengampunan, dalam berbagai bentuk, dimulai dari Allah sendiri.

Tidak hanya dimulai dari Allah, pengampunan itu juga selanjutnya berpusat pada Allah. Artinya, dari pengampunan itulah manusia kemudian memiliki tanggung jawab untuk melakukan hal serupa terhadap sesamanya sebagai tanda syukur atas pengampunan yang telah diberikan Allah. Pengampunan itu harus dilakukan secara timbal balik kepada Allah melalui kemurahan hati kepada sesama. Doa Bapa Kami menggambarkan hal ini secara eksplisit: “Dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami.” Perumpamaan tentang hamba yang tidak mengampuni (Mat. 18:21–35) juga menunjukkan bahwa pengampunan yang telah diberikan oleh Allah perlu direspons dengan rekonsiliasi dengan sesama. Dua bagian ini memberi petunjuk yang jelas bahwa pengampunan terhadap sesama tidak pernah hanya terisolasi pada hubungan antarmanusia saja. Pengampunan kita terhadap sesama berpengaruh pada hubungan kita dengan Allah sendiri. Jadi, pada hakikatnya, pengampunan selalu berpusat kepada Allah. Kita mengampuni karena Allah dan mampu mengampuni juga karena Dia.

Dasar pengampunan Kristiani yang dimulai dari Allah dan berpusat pada Allah sendiri memberi implikasi yang kuat bagi kita. Implikasi pertama ialah bahwa pengampunan Kristiani bukanlah sekadar pelepasan beban mental. Keterlibatan unsur psikologis dalam pengampunan memang tidak dapat dihindari, tetapi tidak berhenti di situ. Pengampunan juga merupakan persoalan teologis—urusan kita dengan Allah. Sehat atau tidaknya relasi dengan Allah dicerminkan oleh keterbukaan kita untuk mengampuni sesama. Meski tidak selalu instan, setidaknya arah hati seseorang—apakah mau mengampuni atau tidak—telanjang di hadapan Allah. Kita perlu menyadari bahwa pengampunan adalah syarat keterhubungan dengan Allah. Setidak-tidaknya, kesediaan untuk membuka hati menuju pengampunan merupakan tanda bahwa kita memiliki relasi yang sehat dengan Allah.

Implikasi terakhir yang tidak kalah kuatnya ialah bahwa pengampunan Kristiani tidak dilakukan seorang diri. Kita bersama dengan Pribadi yang lemah lembut, penuh pengertian, dan berbelas kasih. Ia tahu betul bahwa mengampuni terkadang menjadi keputusan yang sangat sulit dan menempatkan kita pada titik nadir. Oleh karena itu, Ia tidak datang dengan wajah penghakiman, melainkan wajah penguatan. Ia tidak terburu-buru meminta kita melepaskan pengampunan seolah-olah kita tidak memiliki perasaan. Sebaliknya, Ia turut berbelarasa dengan luka yang kita rasakan dan menyadarkan kita untuk menerimanya sepenuhnya. Pelan-pelan, Ia membebat kita, menghadirkan penghiburan dan kejadian-kejadian yang diperlukan untuk membalut luka itu, serta mengimpartasikan kekuatan dalam batin kita untuk melalui semuanya. Tanpa disadari, kita mulai dapat membuka hati terhadap mereka yang melukai kita dan mengampuninya. Kita tidak mampu sendiri. Namun, karena pengampunan berdasar dan berpusat pada Allah, kita ditemani oleh Roh-Nya. Inilah kabar baik dalam pengampunan Kristiani: pengampunan bukan hanya sebuah keputusan pribadi, melainkan juga proses kelahiran kesadaran baru yang dibidani oleh Allah sendiri.