Skip to content

Dari Ucapan Syukur ke Ucapan Syukur Lainnya

 

Allah tidak dapat berdekatan, apalagi berkompromi, dengan dosa. Elohim Yahweh adalah Allah yang kudus. Karena itu, ketika terdapat ketidakkudusan, Allah akan bereaksi terhadapnya. Maka, hal kedua untuk mematikan kodrat dosa manusia lama dalam diri adalah seringlah membaca Alkitab. Mengapa? Dalam 2 Timotius 3:16 tertulis: “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan, dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.” Ketika orang percaya menjadikan firman Allah sebagai “menu utama” dalam kehidupan rohaninya, maka Allah akan mengajarnya, membersihkannya, memperbaikinya, dan membentuknya menjadi manusia yang terdidik dalam kebenaran. Segala tulisan yang diilhamkan Allah menjadi landasan yang kokoh bagi orang-orang percaya dalam menghadapi berbagai peristiwa—baik yang menyenangkan maupun yang sukar.

Dengan memiliki paradigma berpikir seperti ini, seorang anak Allah dapat mengucap syukur dalam setiap keadaan yang dialaminya. Allah selalu memiliki rancangan kebaikan bagi orang yang mengasihi-Nya. Ujung perjalanan hidup orang-orang yang mengasihi-Nya adalah baik, mendatangkan sukacita, dan menghasilkan kemuliaan kekal. Jika kita menengok kembali perjalanan hidup sepanjang tahun 2025, tentu kita menemukan berbagai dinamika kehidupan. Kita mungkin memulai tahun ini dengan segudang harapan dan cita-cita indah, namun kenyataan sering kali berjalan sebaliknya. Seperti bait lagu lawas “Tomorrow Will Be Better,” yang mungkin kini hanya terdengar seperti harapan kosong di tengah ketidakpastian. Hari-hari yang kita anggap akan menjadi “hari yang baik” justru berubah menjadi hari yang menyesakkan. Fakta kehidupan tidak selalu berjalan seiring dengan harapan kita.

Sebagai orang percaya, kita harus menajamkan nalar iman dalam memandang kehidupan. Jangan berpikir bahwa orang percaya akan terhindar dari krisis atau kesulitan yang dialami manusia lain. Sebab status anak-anak Allah bukanlah penangkal terhadap badai kehidupan. Ketika dunia mengalami resesi ekonomi, pengetatan anggaran, pengurangan karyawan karena efisiensi, atau epidemi global, orang percaya pun dapat terdampak.

Allah tidak pernah menjanjikan bahwa langit hidup orang percaya akan selalu cerah. Ia juga tidak memberikan garansi bahwa jalan hidup kita akan selalu mulus tanpa rintangan. Namun, satu hal yang pasti: Allah tidak pernah meninggalkan kita. Ia tidak berdiam diri ketika langit hidup kita gelap pekat, dan Ia tidak berpaling ketika jalan hidup kita terasa berat dan penuh air mata. Sebaliknya, Ia menjanjikan penyertaan dan pertolongan-Nya yang tidak pernah gagal.

Yang terkasih, Pdt. Erastus Sabdono menulis bait-bait lagu untuk mengokohkan rencana Tuhan dalam kehidupan orang percaya sebagai berikut:

 

Langit hidupku tak s’lalu cerah dan tak berawan

Kadang gelap membayang, badai pun datang

Namun di balik hujan nampak p’langi yang indah

Penghiburan Tuhanku datang

 

Jalan hidupku tak s’lalu rata tiada rintangan

Kadang lembah yang curam hadang di depan

Namun kasih Tuhanku tetap s’lalu sertaku

Dia b’riku kekuatan s’panjang langkahku

 

Chorus:

Kupercaya kesetiaan-Mu di kelam kabut hidupku

Bagai burung rajawali di kepak-Mu ‘ku terbang tinggi

Ke dalam kemuliaan-Mu yang lebih besar

Bagai burung rajawali di kepak-Mu ‘ku terbang tinggi

Ke dalam kemuliaan-Mu yang makin besar

 

Lagu ini tidak lahir di ruang studi atau dari sekadar membaca buku-buku teologi, tetapi dari dapur kehidupan yang nyata—dari perjalanan panjang seorang hamba Tuhan yang mengalami, menjalaninya, dan menekuninya bersama Allah. Pdt. Erastus Sabdono menulis lagu ini bukan dari teori, melainkan dari relung jiwa yang pernah menatap “langit kelam” kehidupan. Ia telah merasakan badai, pergumulan, dan penderitaan yang menyakitkan; namun di tengah semua itu, ia menemukan kebenaran dan penyertaan Tuhan.