Ada satu prestasi hidup yang harus kita capai, yang mana jika kita belum mencapainya, maka kita harus terus berjuang dengan segenap tenaga, segenap hati, dan segenap jiwa kita. Prestasi itu adalah hidup kita yang dapat dinikmati oleh Tuhan. Sebab memang manusia diciptakan untuk Tuhan. Namun, hal ini jangan hanya dimengerti sebagai menjadi aktivis gereja, pendeta, atau fulltimer. Itu pemikiran yang pendek, dangkal, dan bisa keliru. Memiliki hidup yang dapat dinikmati Tuhan berarti segala hal yang kita lakukan dan pikirkan digerakkan oleh perasaan dan pikiran Tuhan; apa yang kita lakukan benar-benar mengekspresikan dan mewujudkan perasaan serta pikiran Tuhan.
Di dalam Injil Yohanes 17:20 dikatakan, “Dan bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya kepada-Ku oleh pemberitaan mereka, supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau dan mereka di dalam Kita.”
Ada persekutuan dengan Allah, ada persekutuan dengan Tuhan Yesus. Persekutuan ini bukanlah persekutuan sesaat pada waktu di gereja atau saat kita berdoa, melainkan persekutuan yang terus-menerus sepanjang waktu. “Engkau di dalam aku, ya Tuhan, dan aku di dalam Engkau.” Itu berarti, semua tindakan dan perbuatan kita harus seiring dengan Tuhan. Dengan kata lain, Tuhan menghendaki agar apa yang kita lakukan seirama dan selaras dengan-Nya. Sebab jika tidak, berarti tidak sinkron. Itulah sebabnya dikatakan dalam Galatia 5:24–25 agar kita hidup menurut Roh.
Mengapa Tuhan berkata agar kita memiliki pikiran dan perasaan Kristus? Supaya tindakan kita seirama dengan pikiran dan perasaan Kristus; seirama dengan pikiran dan perasaan Allah Bapa. Maka, bukan sesuatu yang sulit dimengerti ketika Yesus berkata dalam Matius 5:48: “Kamu harus sempurna, seperti Bapa di surga sempurna.” Ini bukan berarti kita menyamai Allah Bapa, melainkan agar apa pun yang kita lakukan seirama dengan Dia. Memang tidak mungkin kita bisa menyamai Allah Bapa, tetapi tindakan kita sehari-hari dapat selaras dengan pikiran dan perasaan-Nya. Dan meskipun ini sulit, kita harus terus belajar agar kita bisa menjadi bejana—tempat atau wadah—di mana Allah bersekutu dan dapat mengekspresikan serta mewujudkan perasaan-Nya melalui tindakan kita. Saat itulah Allah dapat menikmati kita.
Jadi, jika Alkitab berkata, “Tubuhmu adalah bait Roh Kudus”, itu berarti organ tubuh ini harus digerakkan oleh Roh Kudus; bahwa tubuh kita bertindak seiring dengan pikiran dan perasaan-Nya. Gereja harus membawa jemaat sampai pada prestasi ini—yakni menjadi wadah atau bejana Tuhan, di mana Tuhan dapat bergerak dalam hidup mereka. Allah adalah Roh, dan tubuh kita menjadi bait-Nya. Maka, persoalannya adalah: bagaimana Allah dapat menggerakkan tubuh kita sesuai dengan kehendak-Nya—dan menikmati itu?
Oleh karena itu, kalau kita hanya berbuat baik, itu memang baik dan tidak salah, tetapi orang di luar Kristen pun bisa melakukan hal yang sama—bahkan terkadang lebih baik. Sebab sejatinya, hukum orang Kristen adalah Tuhan sendiri. Maka, setiap gerak hidup kita seharusnya merupakan wujud dari apa yang ada dalam pikiran dan perasaan Allah. Jika kita telah memiliki persekutuan yang indah dengan Tuhan, dan memiliki perasaan Tuhan, maka pasti kita akan digerakkan oleh Tuhan dalam melakukan ini dan itu. Menolong orang ini—bagaimana? Berapa? Kapan? Roh Kudus akan memimpin.
Itulah sebabnya dalam 1 Korintus 6:19–20 firman Tuhan mengatakan: “Atau tidak tahukah kamu bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah—dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri? Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar. Karena itu, muliakanlah Allah dengan tubuhmu!” Jadikan tubuh kita sebagai alat Tuhan untuk menggerakkan sesuatu. Ini bukan fantasi. Justru, inilah kekristenan yang sejati. Maka, kita disebut Kristen, yang artinya seperti Kristus.