Kita harus yakin bahwa kita bisa sempurna. Jangan memandang Tuhan seolah-olah berdusta. Jika Tuhan berkata, “Kamu harus sempurna”; “Tuhan Yesus menjadi yang sulung di antara banyak saudara”; “Kuduslah kamu seperti Aku kudus, jangan menyentuh apa yang najis”; “Kamu dipanggil bukan untuk melakukan apa yang cemar, hiduplah sebagai orang-orang yang tidak bercacat dan tidak bercela,” maka semua itu dapat diwujudkan dan bukan omong kosong. Ketika kita memandang standar kesucian Tuhan sebagai tujuan hidup, kita akan mengalami dukacita karena melihat jarak yang begitu jauh antara keadaan kita sekarang dan standar yang Tuhan kehendaki.
Jangan menjadikan manusia mana pun sebagai cermin hidup kita; Yesuslah satu-satunya cermin hidup kita. Walaupun memang seharusnya sebagai pelayan jemaat kita mencerminkan Kristus, tetap Kristuslah standar kita. Jika kita sungguh mengasihi Tuhan dan terus bergumul untuk mencapai kesempurnaan, walaupun mengalami jatuh bangun, kita membawa kesalahan itu ke hadapan Tuhan dengan dukacita—dan dukacita seperti inilah yang Tuhan kehendaki. Seakan-akan kita berkata, “Kali ini saja aku berbuat salah. Besok aku tidak akan berbuat salah. Beri aku kesempatan untuk hidup suci. Percayai aku untuk tidak berbuat salah lagi, walaupun ada kemungkinan aku bisa jatuh pada kesalahan yang sama.” Dalam perkataan itu terdapat dukacita yang dalam, tetapi di balik dukacita tersebut ada tekad yang kuat untuk sungguh-sungguh berubah. Tuhan berkenan atas hal seperti itu. Namun manusia daging kita sering berkata, “Untuk hal kecil seperti itu tidak usah sampai menangis.”
Padahal kebohongan kecil, kesombongan yang terselubung pun harus kita sesali secara mendalam, karena kita ingin kudus dan bersih dalam segala hal. Semua kesaksian dan cerita tidak boleh ditambahi atau dikurangi. Jika salah, kita harus memperkarakannya di hadapan Tuhan dan meminta maaf. Tuhan senang ketika kita bergulat, jatuh bangun, dan semakin optimis untuk menjadi sempurna.
Setiap kita harus memiliki cermin untuk melihat kekudusan Tuhan. Kita harus senantiasa belajar jujur seperti dalam Mazmur 139:23-24, “Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku; ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku. Lihatlah apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal.” Banyak dari kita tanpa sadar mengingini dunia: merasa tidak tenang jika belum memiliki rumah, merasa kurang bergengsi jika mobil kurang bagus, atau mencintai seseorang atau sesuatu lebih daripada mencintai Tuhan. Ketika kita terobsesi akan sesuatu dan tidak lagi melihat rencana Allah dalam hidup kita, sejatinya itulah meleset—sebuah perselingkuhan rohani.
Jadikanlah Tuhan sebagai Pribadi yang paling berharga dalam hidup kita. Kita harus sungguh-sungguh menjadikan Tuhan sebagai tujuan hidup ini. Kita harus mencintai Tuhan lebih dari nyawa kita sendiri. Kita perlu memberi waktu untuk berdiam diri di hadapan-Nya. Jika memiliki jam doa, jangan hanya diisi dengan seruan “haleluya,” tetapi juga sediakan waktu untuk berdiam. Inilah seni berdoa: berbicara dan bercakap-cakap dengan Tuhan, “Tuhan, aku mencari wajah-Mu. Berbicaralah kepadaku. Jika ada sesuatu yang salah dalam hidupku, tolong buat aku mengerti.”
Ketika kita berdoa, “Tuhan, ampunilah dosaku yang tidak kusadari dan yang tidak kutahu,” kalimat itu boleh kita ucapkan setelah sungguh-sungguh mengoreksi diri. Jangan tanpa pemeriksaan diri kita langsung berkata, “Tuhan, ampunilah semua dosaku.” Semua yang mana? “Semua yang kusadari maupun yang tidak kusadari.” Sikap seperti ini bisa membuat kita tidak bertanggung jawab. Seharusnya kita mencari dan memeriksa diri sampai titik maksimal. Setelah kita teliti, barulah kita berkata, “Jika masih ada yang kurang tepat, baik yang kusadari maupun yang tidak kusadari, ampunilah aku, ya Tuhan.” Untuk kesalahan yang disengaja, seharusnya kita sudah mengetahuinya tanpa perlu Tuhan memberi tahu. Untuk kesalahan yang tidak disengaja, Tuhan akan menunjukkannya.
Sering kali kita tidak mau tahu. Kesalahan yang kita sadari pun tidak kita akui dan tidak kita perkarakan, apalagi kesalahan yang tidak kita sadari. Salah satu alasan mengapa Iblis tidak bisa diampuni adalah karena ia tidak bisa diperbaiki. Jika kita masih bisa meminta ampun, itu berarti kita masih bisa diperbaiki. Karena itu, mutlak kita harus menyediakan waktu untuk berada di hadapan Tuhan, memeriksa diri, dan menyediakan ruang untuk berdoa. Kita harus jujur terhadap diri sendiri dan tidak menjadi orang yang sombong secara terselubung. Ketika kita jujur di hadapan Tuhan, Roh Kudus akan menolong kita. Kita akan heran bagaimana kesalahan yang sebelumnya tidak kita sadari menjadi kita sadari. Kita akan takjub bahwa Tuhan masih mau memakai kita yang berdosa ini. Maka, kita harus mau belajar dan kita harus mau menjadi benar.