Skip to content

Berutang Hidup

 

Tuhan Yesus sendiri memerintahkan orang percaya untuk menjadi sempurna seperti Bapa. Di bagian lain Ia mengatakan bahwa hidup kita tidak boleh bercacat dan tidak boleh bercela. Di bagian lain lagi firman Tuhan mengatakan bahwa Dia menjadi pokok keselamatan bagi orang yang percaya. Pokok keselamatan itu adalah aithios, yang berarti penggubah atau sumber keselamatan bagi orang yang taat. Ibrani 5:9 berkata, “Dan sesudah Ia mencapai kesempurnaan-Nya, Ia menjadi pokok keselamatan yang abadi bagi semua orang yang taat kepada-Nya.” Taat kepada-Nya berarti orang yang berusaha meneladani gaya hidup-Nya. Untuk itu seseorang harus berjuang dengan sungguh-sungguh. Hukum Taurat bersumber pada Dekalog. Dekalog diringkas lagi menjadi kasih kepada Tuhan Allah dengan segenap hati, segenap jiwa, dan segenap akal budi, serta kasih kepada sesama manusia seperti diri sendiri. Seluruh hukum dan kitab para nabi bergantung pada dua hal ini.

Jadi ketika Tuhan berkata, “Aku datang bukan untuk meniadakan, tetapi untuk menggenapi,” artinya Dia tidak mengajak kita berkhianat kepada Taurat. Dia tidak mengajak kita hidup tanpa hukum, melainkan datang untuk menggenapinya. Menggenapi bukan berarti menambah jumlah butir hukum, melainkan melakukan hukum itu dan menjadi teladan. Setelah Dia berhasil melakukannya, Dia juga membawa orang-orang yang taat kepada-Nya. Ketika Tuhan Yesus telah menjadi pokok keselamatan, maka kita juga harus melakukan hal yang sama. Jangan berpikir bahwa Tuhan yang melakukan semuanya untuk kita, lalu kita sudah merasa selamat karena Dia yang melakukannya. Tidak demikian. Hukum itu bukan ditiadakan, melainkan digenapi.

Rusaknya banyak pemikiran orang adalah: pertama, keselamatan bukan karena perbuatan baik; dan kedua, fakta bahwa dalam perjalanan hidup manusia tidak ada seorang pun yang benar-benar baik. Ajaran seperti ini dapat membuat seseorang tidak sungguh-sungguh hidup benar, hanya menjalani kehidupan rohani secara seadanya karena berpikir bahwa Tuhan sudah menyelesaikan semuanya. Itu keliru. Jika Tuhan mencapai standar 100, maka kita juga harus mencapai 100. Dan harus diingat bahwa Sepuluh Perintah Tuhan diberikan langsung oleh Tuhan di Gunung Sinai; Allah sendiri yang menuliskannya dengan tangan-Nya.

Semua dosa kita memang telah ditebus oleh Tuhan Yesus. Semua dosa kita telah diselesaikan, dan kita diselamatkan bukan karena perbuatan baik. Namun jika sekarang kita hidup benar, itu bukan supaya kita selamat. Kita sudah diselamatkan, artinya dosa-dosa kita telah dipikul oleh Tuhan. Itu dalam konteks selamat dari penghukuman, bukan berarti kita dibebaskan dari proses pembaruan karakter. Tuhan telah menebus semua dosa kita sehingga kita merdeka. Jadi jika sekarang kita melakukan apa yang baik atau menjalankan hukum, itu karena kita berutang untuk hidup menurut hukum.

Inilah perbedaan kita dengan orang Yahudi. Orang Yahudi menjalankan hukum supaya tidak dihukum, sedangkan kita menjalankan hukum karena kita sudah tidak dihukum. Tetapi jika seseorang tidak hidup menurut hukum dan tidak taat kepada Tuhan Yesus sebagai pokok keselamatan, berarti ia menolak keselamatan itu sendiri. Tuhan Yesus datang untuk menggenapi hukum dalam hidup-Nya, dan kita yang mengikuti Dia juga harus menggenapinya dalam hidup kita. Itu baru satu aspek. Aspek lain adalah: jika Tuhan Yesus tidak mati di kayu salib, sekalipun Taurat dilakukan dengan sempurna, manusia tetap tidak selamat. Jadi dasar kita melakukan hukum bukan untuk dibebaskan dari hukuman—karena Tuhan sudah memikul semua hukuman—melainkan karena kita berutang kepada Tuhan untuk hidup menurut hukum-Nya. Tujuan Tuhan datang adalah supaya kita melakukan hukum. Maka tidak masuk akal jika sekarang kita justru hidup tanpa hukum.

Jadi pada akhirnya, jika kita tidak melakukan hukum, masalahnya bukan hanya karena dosa itu sendiri—yaitu pelanggaran terhadap hukum—melainkan karena kita menghina darah yang telah ditumpahkan bagi kita. Kita melakukan hukum karena kita tidak lagi berada di bawah hukuman (lihat kitab Roma), dan kita berutang untuk hidup menurut hukum. Setelah seseorang melakukan hukum, ia naik lagi ke tingkat berikutnya: “Jual segala milikmu, bagikan kepada orang miskin, lalu datanglah kemari dan ikutlah Aku.” Ketika hukum diberikan kepada bangsa Israel, ada satu konteks yang perlu diingat. Bangsa Israel adalah bangsa budak yang selama ratusan tahun hidup di Mesir sebagai budak. Mereka tentu kurang berpendidikan, kurang beradab, dan kurang memiliki kesantunan hidup. Namun ketika mereka menjadi umat pilihan, Tuhan memberikan Hukum Taurat agar mereka dibentuk menjadi bangsa yang santun.