Skip to content

Bertahap

 

Kalau kita membaca Matius 5, Tuhan Yesus berkata, “Supaya kamu menjadi anak-anak Bapa di surga.” Dan beberapa kali dikatakan, “supaya kamu…” Menjadi anak-anak Allah bukanlah sebuah otomatisasi. Dalam Ibrani 12:16–17 diingatkan:      “Janganlah ada orang yang menjadi cabul atau yang mempunyai nafsu yang rendah seperti Esau, yang menjual hak kesulungannya untuk sepiring makanan. Sebab kamu tahu bahwa kemudian, ketika ia hendak menerima berkat itu, ia ditolak, sebab ia tidak beroleh kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya sekalipun ia mencarinya dengan mencucurkan air mata.”  Nafsu yang rendah (Yunani: bebelos) sama dengan duniawi. Kita adalah produk-produk dunia. Tidak ada orang yang tidak duniawi. Karena duniawi, maka menjadi anak-anak dunia.

Sekarang, kita mau menjadi anak-anak Allah. Itu berarti kita harus tidak duniawi lagi, tetapi rohani atau surgawi. Namun, untuk berubah dari orang yang duniawi menjadi rohani itu sangat sulit—atau jujurnya: mustahil.  Orang muda yang kaya yang diceritakan dalam Alkitab adalah orang yang tampak rohani menurut kacamata orang beragama. Jadi, kalau ada orang yang taat hukum, rajin ke rumah ibadah, dan memberikan dukungan terhadap kegiatan pelayanan, biasanya langsung dikategorikan sebagai rohani. Tetapi di mata Tuhan, ia belum tentu rohani.  Di sini kita bisa lihat betapa sulitnya—atau mustahilnya—beralih dari duniawi menjadi rohani.

Namun, itu tidak mustahil bagi Tuhan. Tuhan akan menggarap setiap kita, asal kita tidak berhenti mengasihi Tuhan. Dan kasih kepada Tuhan memiliki standar: melepaskan hak. Kalau belum sampai melepaskan hak, berarti belum sungguh-sungguh mengasihi Tuhan.  Mengasihi Tuhan itu ternyata juga bertumbuh—progresif atau bertahap. Jadi, tidak statis. Seperti seorang anak mencintai orang tuanya pun bertahap. Waktu kecil, kasih kepada Mama dan Papa lebih banyak bersifat sentimental—karena ada pelukan, ciuman, kebersamaan. Terutama karena adanya ketergantungan. Ketergantungan anak kepada orang tua menciptakan perasaan cinta. Tapi ketika anak mulai dewasa, ia melihat perjuangan orang tua, maka ia akan lebih tahu diri, bahkan ikut membantu.

Tahapan itu sangat ditentukan, dipengaruhi, dan diperankan oleh:  Pertama, pengetahuan kognitif akan Tuhan—tentang keselamatan, tentang kekekalan, dan lainnya. Kita mesti menghayati bahwa alam semesta yang dahsyat ini diciptakan oleh Dia yang Mahaagung. Banyak yang harus kita pahami! Karya-karya-Nya luar biasa dan tidak terbatas.  Mengasihi Tuhan itu bertahap, maka pelepasan hak pun bertahap. Jadi, kita tidak bisa memaksa orang melepaskan hak kalau dia belum mengenal kebenaran. Ia pasti masih bersikukuh dengan hak-haknya, pendapatnya, atau argumentasinya.

Ayo, mari masing-masing kita mencari Tuhan. Kita akan melihat rapor kita di kekekalan nanti. Sekarang, Tuhan ingin meningkatkan kita ke ukuran yang sempurna. Namun, sangat sedikit yang mau.  Pada saat kita mau melakukan terobosan, dibutuhkan keberanian! Terobosan itu harus ada—dan terobosan itu pun bertahap, terus sampai kita bisa melepaskan hak.  Nanti, ketika kita mulai mendekati hari-hari pelepasan hak itu, kita akan merasa lemas melihat dunia dan keinginan daging yang masih tersisa. Seperti orang mati sebelum mati. Orang-orang saleh Tuhan pasti mengalami proses itu—sampai mereka merasa tidak ada tempat untuk berlindung atau bernaung, selain Tuhan. Maka, mereka pasti merindukan Tuhan dan Kerajaan-Nya.

Kedua, pengenalan langsung. Maka kita harus mengalami Tuhan. Dia hidup! Dia hadir! Dan ketika kita masuk ke wilayah ini, kita makin sedikit punya teman. Bahkan, kita pun tidak mencari teman. Tapi Tuhan pasti menyisakan orang-orang yang menemani kita menuju surga.  Ini sangat pribadi sifatnya. Tuhan bisa, dengan cara yang ajaib, membidik kesombongan kita, ketidaktulusan kita, dan seluruh karakter duniawi kita—dan Dia membidiknya dengan sangat tepat.  Di sinilah kita bisa membuktikan bahwa Dia hidup. Maka, yang kita rindukan sekarang adalah Tuhan membentuk kita menjadi sempurna, segera!  Orang yang sudah melepaskan keinginan-keinginan dunia, tidak bisa tidak, pasti ingin sempurna. Dan itu… indah sekali!