Skip to content

Bersyukur Sebagai Perhentian

 

Mazmur 63:2 berbunyi, “Ya Allah, Engkaulah Allahku, aku mencari Engkau; jiwaku haus kepada-Mu, tubuhku rindu kepada-Mu, seperti tanah yang kering dan tandus, tiada berair.” Kehausan seseorang akan Allah berbanding lurus dengan rasa syukurnya kepada Allah. Seseorang tidak dapat benar-benar merasa haus akan Allah apabila ia tidak memiliki rasa syukur.

Hal ini dapat dipahami lebih jelas dalam kaitannya dengan keinginan manusia. Keinginan manusia ibarat sumur tak berdasar yang terus mendambakan banyak hal demi diri dan kepentingannya sendiri. Dapat dibayangkan, apabila seseorang terus-menerus berusaha memenuhi segala keinginannya, ia tidak akan pernah mencapai kepuasan sejati.

Seseorang yang berusaha memenuhi keinginannya adalah seperti orang yang mencoba mengasinkan laut dengan menaburkan segenggam garam. Upaya itu sia-sia. Ketika seseorang berusaha memuaskan keinginannya, ia akan sadar bahwa dengan segala keterbatasannya sebagai manusia, ia tidak akan mampu memenuhi apa yang diinginkannya. Maka, keinginan disebut seperti sumur tak berdasar karena dua hal: pertama, karena keinginan itu sendiri tidak pernah habis; dan kedua, karena manusia terbatas dalam usahanya untuk mendapatkan apa yang diinginkannya. Lalu, bagaimana kita dapat berhenti dari pencarian duniawi yang tak berujung itu?

Saya teringat sebuah ilustrasi yang saya lihat di sebuah pusat perbelanjaan. Suatu kali, saya dan keluarga mengunjungi toko hewan yang kini lebih dikenal dengan sebutan pet hotel. Ada banyak hewan peliharaan yang menggemaskan di tempat itu. Namun, satu yang menarik perhatian saya adalah seekor hamster yang sedang berlari di roda putar. Hamster itu tampak sangat sibuk hingga kelelahan. Setelah beberapa saat, roda itu berhenti—bukan karena keajaiban, melainkan karena hamster itu turun dari rodanya. Ia mengakhiri permainannya yang tanpa ujung. Seperti itulah manusia dengan segala keinginannya. Kita tidak akan pernah berhenti dari keinginan sampai kita sendiri yang memutuskan untuk berhenti darinya.

Maka akhirnya, bersyukur adalah keputusan untuk berhenti dari keinginan yang melelahkan dan tak berujung. Ketika seseorang bersyukur, ia sebenarnya sedang berkata “cukup” terhadap apa yang dimilikinya. Ketika seseorang berkata, “Aku bersyukur atas makanan ini,” itu adalah momen ketika ia menyadari bahwa makanan yang ada di depannya adalah yang terbaik baginya saat ini.

Apakah ada makanan yang lebih lezat? Tentu ada, bahkan berlimpah di hotel-hotel mewah. Namun ucapan syukur atas makanan itu menyiratkan bahwa ia tidak perlu mencari makanan terenak untuk memuaskan rasa laparnya. Makanan yang tersedia sudah cukup untuk mengenyangkan. Ini adalah suatu perhentian. Rasa syukur membawa kita untuk tidak lagi melihat apa yang belum kita miliki, tetapi sebaliknya mencukupkan diri dengan apa yang telah tersaji dan berhenti mencari yang lebih baik atau luar biasa.

Jika ini kita lakukan, barulah Tuhan dapat menjadi kehausan kita. Dengan berhenti dari kehausan akan hal-hal fana, kita mulai mengarahkan pandangan pada hal-hal kekal. Tuhan tidak akan pernah terasa manis selama masih ada sesuatu yang kita anggap lebih manis daripada pengenalan akan Dia. Dunia dan segala keinginannya sering kali tampak manis, namun pada akhirnya, semua itu menjerat kita dalam kelelahan dan kebingungan rohani. Kehausan akan hal-hal duniawi—kekayaan, kehormatan, popularitas—tidak memiliki ujung dan hanya membawa distraksi dari yang seharusnya menjadi pusat kerinduan kita, yaitu Tuhan dan Kerajaan-Nya.

Oleh karena itu, hari ini marilah kita berhenti sejenak dan bersyukur. Bersyukur atas apa yang telah Tuhan berikan, agar kita sungguh dapat merasa haus akan Dia seperti yang digambarkan oleh Pemazmur.