Skip to content

Bersyukur di Setiap Musim

 

Hidup manusia tidak berjalan hanya dalam satu musim kehidupan saja. Pengkhotbah 3:1 berkata, “Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apa pun di bawah langit ada waktunya.” Ada masanya kita menanam dan ada juga masa untuk menuai; ada waktu menangis dan ada waktu tertawa; ada masanya kita meratap, tetapi ada juga waktu untuk bersukacita. Seperti bumi yang berputar dan musim yang silih berganti, demikian pula perjalanan hidup kita sepanjang tahun ini penuh dengan perubahan dan warna kehidupan. Namun, satu hal yang tidak pernah berubah ialah kebaikan dan kesetiaan Tuhan di setiap musim hidup kita.

Tidak sulit bagi kita untuk bersyukur di musim keberhasilan. Ketika doa-doa dijawab, ketika memperoleh promosi jabatan, atau ketika kesehatan dipulihkan, dengan mudah kita berkata, “Tuhan baik!” Tetapi bagaimana ketika yang datang adalah musim kemarau—masa ketika harapan belum terwujud, doa belum dijawab; atau bahkan musim badai, ketika kehilangan pekerjaan, mengalami kecelakaan, dan menghadapi musibah? Pada saat-saat seperti itulah iman diuji: sanggupkah kita tetap bersyukur, bukan karena perubahan keadaan, tetapi karena kehadiran Tuhan yang tidak pernah berubah?

Pengkhotbah pasal 3 mengingatkan bahwa setiap musim memiliki tujuan ilahi. Tidak ada satu pun musim yang diizinkan Tuhan terjadi tanpa makna yang perlu kita pahami. Dalam musim penantian, Tuhan sedang membentuk kesabaran; dalam musim kehilangan, Ia sedang menanamkan pengertian tentang kasih yang lebih dalam; sehingga ketika musim kelimpahan tiba, Ia telah melatih kita tentang kerendahhatian dan tanggung jawab. Ketika kita memandang segala sesuatu dari kacamata ilahi, maka setiap musim menjadi ladang untuk menumbuhkan ucapan syukur.

Rasul Paulus menulis, “Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu” (1Tes. 5:18). Ini bukanlah perintah yang mudah, melainkan disiplin rohani yang memperkuat otot-otot iman kita. Syukur seharusnya bukan sekadar reaksi terhadap keadaan, melainkan keputusan hati yang tahu berterima kasih atas segala kebaikan Tuhan. Kita belajar berkata, “Tuhan, sering kali aku tidak mengerti jalan-jalan-Mu, tetapi aku percaya akan kedaulatan-Mu.” Di situlah syukur sejati bertumbuh—di tengah ketidakpastian, kebimbangan, dan keraguan—namun tetap berpaut pada keyakinan bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan kita.

Jika kita menengok kembali perjalanan hidup di sepanjang tahun 2025, mungkin ada hal-hal yang terjadi tidak sesuai harapan. Ada doa yang belum dijawab, rencana yang tertunda, bahkan mungkin masih ada luka yang terasa. Namun, bukankah kita masih berdiri tegak hari ini karena pemeliharaan Tuhan? Nafas kehidupan yang masih Ia beri, keluarga yang mengasihi dan mendukung kita, serta kekuatan yang terus diperbarui setiap pagi—semuanya adalah bukti kasih setia-Nya. Bersyukur di setiap musim berarti belajar melihat karya Tuhan di balik setiap perubahan hidup. Ketika daun gugur, kita tahu pohon sedang bersiap menumbuhkan tunas baru. Demikian pula Tuhan menyiapkan sesuatu yang baru di balik musim kemarau kehidupan kita. Kadang berkat tidak langsung terlihat karena sedang dalam proses packaging (pengemasan), tetapi bila waktunya tepat, segala sesuatu akan menjadi indah pada waktunya.

Di penghujung tahun ini, marilah kita berdoa dengan hati yang bersyukur—bukan karena hidup selalu mudah, tetapi karena Tuhan selalu beserta kita. Mari ucapkan syukur atas setiap musim yang telah kita lalui: musim tawa, musim tangis, musim menanam, musim menunggu, dan musim menuai; sebab di dalam semuanya itu, tangan Tuhan senantiasa berkarya, menganugerahkan yang terbaik bagi setiap kita yang mengasihi-Nya.