Jadi, jika seseorang tidak bersedia berjuang dengan segenap hidup sebagai harga yang harus dibayar, maka ia tidak akan pernah memiliki Kerajaan Surga. Banyak orang Kristen tidak mengetahui hal ini. Sangat memprihatinkan. Sekarang, hendaklah kita sadar. Itulah sebabnya Tuhan Yesus sendiri berkata, “Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” Dalam Lukas 12:32–33 Tuhan berkata, “Janganlah takut, hai kamu kawanan kecil! Karena Bapamu telah berkenan memberikan kamu Kerajaan itu. Juallah segala milikmu dan berikanlah sedekah! Buatlah bagimu pundi-pundi yang tidak dapat menjadi tua, suatu harta di sorga yang tidak akan habis, yang tidak dapat didekati pencuri dan yang tidak dirusakkan ngengat.”
Jika kita tidak memindahkan hati dari dunia, kita tidak akan pernah dapat memiliki Kerajaan itu. Betapa jahatnya jika ada orang yang mengajarkan, “Asal mengaku percaya, kamu otomatis memperoleh Kerajaan Surga.” Ini adalah penyesatan dan pembodohan yang membuat orang Kristen terparkir di bumi, bukan berorientasi ke surga. Faktanya, banyak orang Kristen masih terparkir hatinya di bumi. Padahal Tuhan berkata, “Di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.” Artinya, hati kita harus dipindahkan. Maka firman Tuhan berkata, “Juallah segala milikmu dan berikanlah sedekah! Buatlah bagimu pundi-pundi yang tidak dapat menjadi tua, suatu harta di sorga yang tidak akan habis, yang tidak dapat didekati pencuri dan yang tidak dirusakkan ngengat.” Secara harfiah, pernyataan ini memang demikian, tetapi secara maknawi, maksudnya adalah agar hati kita tidak terikat pada dunia.
Demikian pula halnya dengan perdamaian dengan Allah. Tanpa pengurbanan Yesus di kayu salib, tidak ada satu pun pintu yang terbuka untuk memiliki dan mengalami perdamaian dengan Allah. Namun, isi dan maksud perdamaian itu hanya dapat dialami dan dimiliki melalui perjuangan. Jadi, oleh pengurbanan Yesus di kayu salib, pintu pendamaian dengan Allah dibukakan. Akan tetapi, isi dan maksud pendamaian tersebut harus dialami dan dimiliki melalui perjuangan hidup orang percaya. Kita dengan Allah telah berdamai, tetapi apakah ada dialog? Apa isi dan maksud perdamaian itu? Kerusakannya adalah ketika orang Kristen merasa sudah berdamai, lalu cukup dengan pergi ke gereja. Itu dianggap sebagai isi perdamaian. Padahal, jika kita sungguh berdamai dengan Allah, tidak cukup hanya statusnya saja. Harus ada implikasi nyata dari isi perdamaian yang dijalani. Percuma mengadakan perdamaian dengan Allah jika tidak ada sesuatu yang dicapai melalui perdamaian itu.
Perdamaian bukan hanya membuat kita berstatus telah berdamai dengan Allah, melainkan melalui perdamaian itu seseorang menjadi warga Kerajaan Surga, yaitu sekutu Allah. Secara teologis, para teolog dapat dengan cakap menjelaskan konsep pendamaian dalam soteriologi. Namun pertanyaannya: apa isinya? Seseorang tidak mungkin hidup dalam perdamaian dengan Allah jika ia tidak hidup sebagai warga Kerajaan Surga sesuai dengan maksud panggilan orang percaya. Kita dipanggil untuk menjadi warga Kerajaan Surga, bahkan lebih dari itu, menjadi anggota keluarga Kerajaan Allah, yaitu anak-anak Allah. Oleh sebab itu, kita harus menghayati keberadaan kita sebagai warga negara surga.
Ironisnya, banyak orang tidak menghayati bahwa dirinya adalah warga Kerajaan Surga. Akibatnya, mereka tidak hidup sesuai dengan maksud panggilan tersebut. Pada akhirnya, mereka akan ditolak, dan Tuhan berkata, “Aku tidak mengenal kamu.” Orang yang tidak menghayati bahwa dirinya adalah warga Kerajaan Surga tidak mungkin hidup dalam perdamaian dengan Allah. Sebaliknya, jika orang Kristen menghayati hidupnya sebagai warga Kerajaan Surga, maka ia dapat bersekutu dengan Allah.
Bersekutu dengan Allah—dalam dunia teologi—sering disebut sebagai menjadi sekutu Allah. Apa artinya? Bersekutu dengan Allah berarti memiliki kesatuan perasaan dan kesatuan pikiran dalam satu perjuangan bagi kepentingan Kerajaan Allah. Kepentingan Kerajaan Allah berpusat pada Pribadi Sang Pencipta dan Pemilik kehidupan, yaitu Allah Bapa. Dengan demikian, kepentingan Kerajaan Allah pada akhirnya adalah menyukakan hati Allah Bapa.