Mat. 3:17
“Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.”
Ada sesuatu yang menarik dari peristiwa Yesus dibaptis oleh Yohanes Pembaptis. Suara dari surga itu bukan muncul setelah Yesus melakukan mukjizat, menyembuhkan orang sakit, maupun setelah Ia mati dan bangkit. Sebaliknya, pengakuan itu justru diberikan sebelum pelayanan besar-Nya dimulai.
Secara manusiawi, kita terbiasa berpikir bahwa pengakuan datang setelah pencapaian. Kita dipuji karena ada hasil, dihargai karena prestasi, dan dianggap berhasil setelah menyelesaikan tugas. Namun dalam peristiwa ini, Bapa di surga justru menyatakan perkenanan-Nya kepada Yesus sebelum semua karya keselamatan itu terjadi. Mengapa demikian?
Jawabannya terdapat pada sikap hati Yesus. Dalam Matius 3:15, Yesus berkata kepada Yohanes Pembaptis, “Biarlah hal itu terjadi, karena demikianlah sepatutnya kita menggenapkan seluruh kehendak Allah.” Kalimat inilah yang menunjukkan sesuatu yang sangat dalam: Yesus tidak datang untuk menonjolkan diri, melainkan untuk taat sepenuhnya melakukan kehendak Bapa. Padahal, Yohanes sendiri merasa tidak layak untuk membaptis Yesus. Namun Yesus tetap datang, merendahkan diri-Nya sebagai manusia yang taat. Di sinilah letak kerendahan hati yang sejati: kesediaan untuk tunduk kepada kehendak Allah, bahkan ketika merasa tidak memerlukannya.
Perkenanan Allah tidak semata-mata didasarkan pada apa yang kita kerjakan, tetapi pada bagaimana kita merespons kehendak-Nya. Yesus mendapatkan perkenanan di hadapan Bapa karena Ia hidup dalam ketaatan total (unconditional submission). Ia menghormati Bapa bukan hanya dengan kata-kata, tetapi dengan tindakan nyata: datang, merendahkan diri, dan taat.
Seperti yang tertulis dalam Filipi 2:8, “Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.” Ketaatan Yesus bukan ketaatan yang setengah-setengah, melainkan ketaatan yang total, dimulai bahkan sejak awal pelayanan-Nya.
Sering kali dalam hidup, kita merasa perlu “membuktikan diri” terlebih dahulu agar layak diterima atau dikasihi. Kita berpikir bahwa Tuhan akan berkenan jika kita sudah cukup melayani, cukup memberi, atau cukup berhasil. Padahal, melalui rangkaian peristiwa baptisan ini, kita dapat belajar bahwa perkenanan Allah dimulai dari relasi dan ketaatan, bukan sekadar hasil. Tuhan melihat hati yang mau tunduk. Ketaatan kecil yang dilakukan dengan hati yang benar jauh lebih berharga daripada pencapaian besar tanpa penyerahan diri.
Yesus memberikan teladan bahwa hidup yang berkenan kepada Allah adalah hidup yang siap berkata, “Biarlah hal itu terjadi,” sekalipun jalan itu adalah jalan kerendahan hati. Mungkin Tuhan tidak sedang meminta kita untuk melakukan hal yang besar. Mungkin hanya ketaatan sederhana: mengampuni, setia dalam tanggung jawab kecil, atau tetap hidup benar di tengah tekanan. Jangan remehkan itu. Justru di sanalah hati kita diuji.
Ingatlah, perkenanan Allah tidak menunggu kita selesai berkarya. Perkenanan itu hadir ketika kita memilih untuk taat. Karena pada akhirnya, bukan seberapa besar yang kita lakukan yang Tuhan cari, tetapi seberapa dalam kita mengasihi dan menaati-Nya.