Skip to content

Berkat Rohani

 

Ratapan 3:22–23

“ “Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!” ”

Dulu ada sebuah lagu yang sering dinyanyikan dengan lirik yang diambil dari ayat Alkitab Perjanjian Lama, yaitu Ratapan 3:22–23. Di dalamnya termuat janji Tuhan bahwa Ia akan memberkati kita dengan berkat yang baru yang Tuhan sediakan setiap hari. Dahulu kita memahami hal ini sebagai berkat jasmani yang Tuhan berikan. Karena itu, kita menasihati orang untuk tidak takut dan khawatir, sebab berkat-Nya yang baru akan diberikan setiap hari.

Namun, pernahkah kita berpikir tentang orang-orang Kristen yang hidup di zaman aniaya, atau mereka yang hidup berkekurangan—yang tidak melihat “berkat baru” setiap hari? Bagaimana ayat ini berlaku dalam hidup mereka? Jika kita jujur, berarti pemahaman kita tentang ayat ini keliru.

Ayat tersebut terdapat di Perjanjian Lama yang orientasinya memang berkat jasmani—selama umat taat, Tuhan membuat mereka menang atas musuh, panen mereka berhasil, dan mereka diberkati dalam hal lahiriah. Tetapi hal ini tidak dapat langsung diterapkan kepada umat Perjanjian Baru. Masalahnya, banyak orang Kristen yang tidak mau memindahkan hatinya; entah karena tidak tahu, atau karena sudah terlalu disesatkan oleh pemahaman lama.

Bagi umat Perjanjian Baru, berkat Tuhan adalah berkat rohani. Ketika kita bangun pagi, kita berkata, “Tuhan, terima kasih untuk mutiara rohani yang Kau sediakan bagiku. Tolong aku agar bisa menangkapnya.” Dan setiap hari, tidak mungkin tidak ada berkat rohani yang Tuhan berikan.

Tuhan adalah Pribadi yang memiliki rancangan-rancangan ilahi. Masalahnya, bagaimana Ia mengubah setiap pribadi agar menjadi sesuai dengan rancangan-Nya. Setiap kita memiliki kepribadian yang berbeda-beda, dan inilah yang menjadi kekayaan Kerajaan Allah. Kita sungguh-sungguh dihadirkan di bumi ini secara unik—tidak ada duanya. Tuhan merancang agar setiap kita tidak binasa.

Di Perjanjian Lama, proyek ini belum bisa digelar karena belum ada penebusan dalam Yesus Kristus. Melalui penebusan, kita dibeli dan diberi peluang untuk menjadi huios (anak yang sah). Memang semua manusia disebut anak-anak Allah, tetapi tidak semua sah sebagai anak (nothos). Sebelum ada salib, semua manusia berada dalam status nothos, tertutup peluang untuk menjadi huios.

Penebusanlah yang memindahkan posisi kita dari nothos menjadi huios. Pemindahan posisi ini sangat mahal. Tidak ada cara lain kecuali melalui salib Kristus. Karena itu, kita harus menjunjung tinggi dan menghargai karya salib ini. Dan jika Tuhan sudah memindahkan kita, jangan kita merasa sudah selamat begitu saja.

Selamat itu apa? Banyak orang belum benar-benar selamat; mereka baru berada di langkah awal perjuangan menuju keselamatan. Salib memindahkan posisi kita dari nothos menjadi huios, tetapi tidak mengubah kita secara otomatis. Dalam 70–80 tahun masa hidup yang Tuhan berikan, Ia sedang merancang dan menggarap kita agar berubah sesuai kehendak-Nya. Proses ini tidak mudah. Jika mudah, Tuhan Yesus tidak akan berkata, “Berjuanglah kamu masuk melalui pintu yang sempit,” dan “Banyak yang dipanggil, sedikit yang dipilih.”

Ironis, ketika orang menganggap bahwa keselamatan itu mudah dan masuk surga itu otomatis, akibatnya orientasi berpikir manusia tertuju pada berkat jasmani. Mereka berkata bahwa setelah menjadi anak-anak Allah, kita dijamin dipelihara dan dijagai secara khusus. Walaupun tidak diucapkan secara langsung, kesan yang muncul adalah bahwa berkat Tuhan akan lebih mudah didapat; doa akan lebih cepat dijawab karena kita menyebut nama Yesus.

Akhirnya, fokus yang seharusnya tertuju pada penggarapan diri oleh Tuhan malah bergeser. Hari demi hari berlalu tanpa pertumbuhan rohani yang nyata. Banyak orang masih berkubang dalam pemenuhan kebutuhan jasmani.

Apalagi jika sudah terinfus racun dunia. Standar hidup pun berubah: harus memiliki mobil tertentu, harus memakai pakaian dengan harga tertentu, harus tampil dengan ukuran dunia. Orang mulai mengejar hal-hal itu. Padahal, yang seharusnya kita lakukan adalah melihat kebenaran, melihat standar kesucian Tuhan, agar standar kesucian kita semakin dinaikkan.

Mengenai hal-hal jasmani, asal ada makan, minum, dan pakaian, itu sudah cukup. Tetapi kesucian Tuhan, kesempurnaan, itulah yang mutlak harus kita gumuli. Kebutuhan jasmani itu relatif; kesucian adalah absolut.