Skip to content

Berkat Baru

 

Sejujurnya, kita mendapati ada orang yang datang ke gereja hanya untuk meningkatkan taraf hidup. Dulu pernah terkesan bahwa gereja X adalah “gerejanya orang kaya,” dan jika seseorang beribadah di sana, ia pasti diberkati. Bahkan pendetanya pernah berkata, “Saya tidak mau tahun depan ada yang masih naik kendaraan roda dua lagi, ya….” Standar hidup mereka berubah, dan jemaat pun dikejar untuk memenuhi standar hidup yang meningkat itu.

Akhirnya, menjadi sesat. Sebab fokusnya bukan lagi bagaimana orang percaya dikembalikan ke rancangan semula atau standar Allah, melainkan standar hidup duniawi. Karena itu bisa sangat dimengerti ketika Tuhan Yesus berkata, “Kalau kamu tidak melepaskan segala sesuatu dari dirimu, kamu tidak dapat menjadi murid-Ku.” Hati harus dipindahkan dulu. Jika kita tidak melepaskan beban dan dosa, kita tidak dapat diproses menjadi seperti Yesus.

Ibrani 12:5–7 Dan sudah lupakah kamu akan nasihat yang berbicara kepada kamu seperti kepada anak-anak: “Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya; karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak.” Jika kamu harus menanggung ganjaran, Allah memperlakukan kamu seperti anak. Di manakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya?

Setiap hari Tuhan pasti memberikan berkat-Nya. Jika kita tekun, kita dapat menangkap gerak Tuhan yang mengubah kita. Kita juga akan melihat kekurangan dan kelemahan kita. Hati kita ini seperti belantara—ketidaktulusan, kesombongan terselubung yang tidak mampu kita baca, tetapi Tuhan akan menunjukkannya.

Namun berubah itu sangatlah sukar (Mat. 19). Bahkan dikatakan, lebih mudah seekor unta masuk melalui lubang jarum. Jika Tuhan berkenan memakai mukjizat untuk langsung mengubah kita, tentu kita akan memohon demikian. Tetapi tidak. Ada tatanan yang Tuhan tidak akan langgar. Tatanan itu bernama proses, dan proses itu berlangsung bertahap. Di dalam proses ini dibutuhkan sikap berjaga-jaga. Kita bertemu Tuhan di pagi hari, dan jika tidak bertemu, kekuatan rohani kita berbeda.

Kadang ada suara di hati kita: “Kalau kamu tidak berdoa hari ini, kamu jatuh, loh. Kamu salah. Hidupmu tidak bersih….” Namun kita sering beralasan, “Yang penting hatiku melekat kepada Tuhan. Walaupun aku tidak berlutut, aku tetap berdoa 24 jam di hadirat Tuhan.”

Ternyata tidak bisa. Harus ada waktu khusus di mana kita bertemu Tuhan. Pada waktu itulah Tuhan berbicara kepada kita. Dan setiap pertemuan selalu ada sesuatu yang kita dapat dari Tuhan. Jika seorang hamba Tuhan tidak punya jam doa, pasti rohaninya kering. Ia bisa berkhotbah, tetapi tidak dengan kedalaman hati yang basah oleh perjumpaan dengan Tuhan. Berkat baru setiap hari kita terima pada waktu kita berdoa dan melalui pengalaman hidup yang Tuhan izinkan terjadi.

Roma 8:28–30 menulis: “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya.” Ada kalimat, “kita tahu sekarang.” Mengapa sekarang?

Kita harus membaca ayat sebelumnya, Roma 8:17; “Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris—maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah—yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia.” Kita adalah ahli waris. Kita dipersiapkan untuk menerima warisan. Gonjang-ganjing masalah dunia ini tidak berarti dibandingkan kekekalan. Dulu kita mudah terganggu. Sekarang kita tidak mau lagi terganggu oleh hal-hal kecil.

Kita adalah orang yang mendapat tempat luar biasa sebagai ahli waris. Maka berpikirlah sebagai bangsawan surgawi! Kita harus belajar menenangkan dan meneduhkan diri karena kita adalah ahli waris Kerajaan Allah. Dan warna hidup seseorang yang benar-benar mewarisi Kerajaan bersama Tuhan Yesus pasti tampak dalam hidupnya.