Berkat atau Kutuk

Dari sejarah kehidupan bangsa Israel, kita memperoleh banyak pelajaran rohani yang sangat berharga dan berguna bagi kehidupan kita, orang percaya saat ini. Seperti misalnya perjalanan bangsa Israel dari Mesir ke Kanaan, bisa menjadi gambaran kehidupan orang percaya yang juga ada dalam perjalanan dari dunia ini ke langit baru bumi baru; Kanaan Surgawi. Dalam 1 Korintus 10:11 tertulis, “semuanya ini telah menimpa mereka sebagai contoh, dan dituliskan untuk menjadi peringatan bagi kita yang hidup pada waktu dimana zaman akhir telah tiba.” Dituliskan “untuk menjadi peringatan bagi kita,” artinya apa yang mereka alami, itu mengandung pelajaran kehidupan untuk kita. Apa yang Allah lakukan untuk mereka, itu juga bisa Allah lakukan untuk kita. Karenanya, kita patut sungguh-sungguh memperhatikan fakta sejarah, fakta empiris dari kehidupan bangsa Israel ini. Setelah tiba di tanah Kanaan, banyak peristiwa yang terjadi dalam kehidupan bangsa Israel yang juga bisa menjadi pelajaran rohani bagi kita. Salah satu pelajaran rohani yang dapat kita petik adalah mengenai ketidaktaatan bangsa Israel yang mengakibatkan mereka tidak hidup di dalam kelimpahan Allah. 

Allah memang berjanji menyertai bangsa itu. Memberikan sebuah tanah yang berlimpah susu dan madu, memberikan kemakmuran dan kejayaan. Tetapi fakta yang terjadi dari pengalaman yang ada atau fakta empiris menunjukkan bahwa sering kali bangsa Israel hidup dalam penderitaan. Panen yang gagal karena berbagai penyebab, seperti adanya belalang pelahap. Mereka juga ditimpa berbagai bencana, ditindas oleh bangsa asing, dan berbagai penderitaan lainnya. Dan puncaknya adalah ketika bangsa Israel terusir dari tanah perjanjian, terserak di seluruh dunia, yang dikenal sebagai diaspora. Dan itu terjadi sekitar 600 tahun sM. Negeri terakhir mereka—Yehuda, yang berkedudukan di Yerusalem—runtuh oleh Babel. Dan sejak itu, bangsa Israel tidak pernah memiliki kerajaan. Sesaat, orang-orang Yahudi yang dipimpin oleh anak-anak Makabe di abad 2 sM, juga mau membangun sebuah pemerintahan, tetapi digilas habis oleh kekaisaran Romawi. Dan itu juga bagian dari terseraknya bangsa Israel ke seluruh dunia. 

Di perantauan pun mereka mengalami penderitaan yang sangat berat. Kisah sekitar Holocaust yang dikenal dengan Shoah di dalam perang dunia ke-2 dari tahun 1939 sampai tahun 1945, dan khususnya usaha genosida—yaitu pemunahan suatu suku bangsa dengan cara membunuh bangsa itu—terjadi atas Israel di tahun 1941-1945, dimana 6 juta orang Yahudi dibantai. Sejarah kehidupan bangsa itu tragis. Memberi pelajaran yang sangat mahal bagi kita, orang percaya, yang hidup pada zaman ini. Penderitaan yang sangat mengerikan ini membuat kita bisa takut dan gentar terhadap Allah. Oleh sebab itu, jangan main-main dengan Allah. Jangan sembarangan terhadap Allah yang hidup. Namun, mengapa bencana itu terjadi atas bangsa Israel yang adalah umat pilihan Allah? Jawabnya yang tepat adalah karena mereka tidak dengar-dengaran kepada Allah. Mereka tidak taat, mereka tidak hidup menurut jalan yang Allah tunjukkan. Itulah sebabnya Tuhan memberikan kepada mereka perintah yang tegas mengenai kenyataan adanya berkat dan kutuk (Ul. 28). Kalau mereka hidup dalam ketaatan, mereka akan diberkati, dan semua janji Allah akan terpenuhi. Tetapi kalau mereka tidak hidup dalam ketaatan, maka kutuklah yang akan menimpa mereka.

Ayat-ayat firman Tuhan ini mestinya membuat kita gentar, takut akan Yahweh Elohim yang Mahakudus, yang kedaulatan-Nya sempurna. Dan Allah menegakkan tatanan dalam kedaulatan-Nya secara konsekuen dan konsisten. Jadi kalau dilanggar, Allah sendiri tidak bisa menghindarkan kutuk dan hukuman atas orang-orang yang sebenarnya Allah kasihi. Itulah kedaulatan Allah dalam tatanan-Nya. Tidak ada kompromi dengan siapa pun dan apa pun. Dan hal ini mestinya menggetarkan jiwa kita. Membuat kita benar-benar gentar dan takut akan Allah dengan segala kehormatan. Dalam hidup ini, kita benar-benar berhadapan dengan Pribadi Mahaagung yang menciptakan segala sesuatu; Pribadi Agung yang memiliki kuasa, kerajaan, dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Pribadi Agung yang berkata kepada kita umat pilihan-Nya, “kuduslah kamu, sebab Aku kudus” (1Ptr. 1:16-17). 

Dia memperhatikan semua perbuatan kita; kudus atau tidak. Dari setiap kata yang kita ucapkan, dari setiap kata yang kita tulis di gadget kita, dari setiap renungan hati, pikiran dan perbuatan kita, jangan sembarangan. Setiap manusia diberi kehendak bebas untuk menentukan keadaan dirinya sendiri. Dari kehendak bebas inilah manusia akan memperoleh apa yang patut diterimanya, apakah berkat atau kutuk; apakah rahmat atau laknat; apakah kelimpahan atau kemiskinan; hidup kekal dalam kemuliaan atau kebinasaan. Kita harus memilih, menentukan, dan memetakan hidup kita sendiri. Dalam hal ini, manusia menentukan keadaannya sendiri; keadaan kita sejak di bumi ini, juga sampai nanti di kekekalan.

Manusia diberi kehendak bebas untuk menentukan keadaan dirinya sendiri, maka manusia akan memperoleh apa yang patut diterimanya, apakah berkat atau kutuk.