Kalimat “oleh ketaatan satu orang, semua orang menjadi orang benar” dimaksudkan bahwa oleh ketaatan Yesus—“semua orang” di sini menunjuk kepada orang percaya—manusia menjadi benar. Bukan hanya dianggap benar, melainkan dimungkinkan untuk benar-benar berkeadaan benar. Karena itulah, di dalam Yesus ada proses pemuridan. Yesus berkata, “Jadikanlah semua bangsa murid-Ku.” Mengapa? Supaya mereka semua menjadi seperti Yesus. Itulah sebabnya firman Tuhan berkata, “Kerjakanlah keselamatanmu dengan takut dan gentar.”
Jadi, kalimat “hukum Taurat ditambahkan supaya pelanggaran menjadi semakin banyak, dan di mana dosa bertambah banyak, di sana kasih karunia menjadi berlimpah-limpah” harus dipahami dalam konteks sejarah keselamatan. Selama periode panjang sebelum zaman anugerah, Allah membiarkan manusia hidup dalam kelakuan yang menyimpang dan rusak. Namun, setelah zaman anugerah tiba, ada orang-orang yang hidup di dalam kasih karunia—orang-orang yang dimungkinkan untuk mengenakan kehidupan sesuai dengan rancangan Allah semula. Kehidupan itulah yang dikenakan oleh Yesus.
Karena itu dikatakan, “Sama seperti dosa berkuasa dalam alam maut, demikian kasih karunia akan berkuasa oleh kebenaran untuk hidup yang kekal, oleh Yesus Kristus, Tuhan kita” (Rm. 5:21). Artinya, jika dahulu manusia hidup dalam dosa tanpa jalan keluar dan menuju maut, sekarang di dalam Yesus Kristus manusia dapat hidup di dalam kebenaran menuju hidup yang kekal. Hidup di dalam kebenaran bukan hanya berarti dianggap benar, melainkan benar-benar berkeadaan benar.
Dengan demikian, kalimat “kasih karunia akan berkuasa oleh kebenaran untuk hidup yang kekal” mengandung pengertian bahwa di dalam kasih karunia terdapat kehidupan yang sesuai dengan kehendak Allah, yang mempersiapkan manusia bagi kehidupan kekal di langit baru dan bumi baru. Orang Kristen tidak cukup hanya memiliki keyakinan akan kurban Kristus dan merasa sudah memiliki kasih karunia atau anugerah, tetapi harus berjuang mengisi anugerah tersebut dengan kehidupan yang benar.
Itulah sebabnya Paulus, dalam Galatia 5, menyampaikan pernyataan yang sejalan dengan apa yang ia ajarkan kepada jemaat Roma: “Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu, berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan” (Gal. 5:1). Jika kita membaca ayat-ayat berikutnya, kita akan menemukan perintah, “Hiduplah oleh Roh; jangan turuti keinginan daging” (lih. Gal. 5:24–25). “Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya.” Tidak menyalibkan daging dengan segala hawa nafsunya berarti tetap hidup dalam kematian rohani dan tidak mungkin berdamai dengan Allah. Sebab hanya orang yang hidup dipimpin oleh Roh Kudus yang disebut anak-anak Allah. Jika seseorang hidup menurut daging, ia bukan anak Allah, dan suatu hari ia akan mendengar Tuhan berkata, “Aku tidak mengenal kamu.”
Ketika Paulus mengatakan bahwa kita telah dimerdekakan dari dosa dan menjadi hamba kebenaran, hal itu tidak berarti bahwa seseorang secara otomatis bebas dari dosa dan langsung hidup dalam kebenaran. Semua itu harus dilalui melalui perjuangan. Yesus sendiri, sekalipun Ia adalah Anak Allah, belajar taat dari apa yang diderita-Nya. Kita harus memahami bahwa Allah tidak menskenariokan kemenangan Yesus secara mudah. Ada perjuangan yang nyata. Demikian pula kita.
Karena itu, jangan sekali-kali kita mengikuti pengajaran yang mengatakan bahwa Allah semata-mata menentukan siapa yang diselamatkan tanpa keterlibatan manusia. Yang benar adalah bahwa manusia memiliki kebebasan untuk memilih apakah ia mau memperjuangkan keselamatannya dengan benar atau tidak. Jangan pula mencoba mengaitkan kemahatahuan Allah dengan logika manusia secara sembrono. Itu tidak mungkin. Kita harus bersikap etis sebagai manusia dan sebagai orang yang ber-Tuhan, dengan menghormati Allah. Lakukan bagian kita, dan Allah pasti melakukan bagian-Nya. Itulah sebabnya kita harus berjuang mengerjakan keselamatan kita.
Karena itu, dalam Roma 6:19 Paulus mengatakan, “Sebab sama seperti kamu dahulu menyerahkan anggota-anggota tubuhmu menjadi hamba kecemaran dan kedurhakaan yang membawa kamu kepada kedurhakaan, demikianlah sekarang kamu harus menyerahkan anggota-anggota tubuhmu menjadi hamba kebenaran yang membawa kamu kepada pengudusan.” Jika hal ini kita lakukan, kita akan menghasilkan buah yang membawa kepada pengudusan, dan kesudahannya adalah hidup yang kekal.