Ada dua kesalahan besar banyak orang Kristen dalam merayakan Natal, seperti yang terjadi sekarang ini di banyak tempat. Kesalahan pertama, banyak orang Kristen merasa bahwa Natal membuat orang Kristen otomatis sudah selamat. Mereka merasa berhak meyakini bahwa dirinya adalah umat Tuhan, berhak meyakini bahwa ia boleh masuk surga. Bagi mereka, yang penting sudah mengakui bahwa Yesus adalah Juru Selamat. Inilah yang membuat banyak orang Kristen merayakan Natal tanpa tanggung jawab; orang-orang Kristen yang buta terhadap panggilan sebagai umat pilihan. Jadi tidak heran kalau dari tahun ke tahun, hidup kekristenannya tidak berubah secara signifikan, sebab merasa bahwa sudah menjadi umat pilihan, menjadi anggota keluarga Kerajaan, bersimpati kepada Tuhan Yesus, dan meyakini keselamatannya.
Yang kedua, banyak orang Kristen merasa bahwa proyek keselamatan bagi dunia sudah selesai, sebab dari pulau ke pulau, dari benua ke benua, terdengar terus pujian. Seakan-akan berita Injil sudah usai diberitakan, dan maksud keselamatan yang Tuhan sediakan bagi dunia sudah selesai, sehingga tidak perlu lagi ada perjuangan yang berarti. Karena hal ini, Natal dirayakan dengan sukacita tanpa beban sama sekali. Padahal seharusnya, setiap kali Natal dirayakan, orang Kristen diingatkan akan perjuangan yang begitu berat yang dikerjakan oleh Tuhan Yesus. Setiap kali Natal dirayakan, bagi orang Kristen yang dewasa, yang akil-balik, yang mengerti kebenaran, justru akan merasakan beban yang dalam, sebab keselamatan belum selesai dalam arti harus terus diteruskan, agar maksud kedatangan Tuhan Yesus itu benar-benar digenapi atau dipenuhi.
Dengan kedatangan Tuhan Yesus, orang yang menerima Dia sebagai Juru Selamat harus berjuang memenuhi maksud kedatangan-Nya. Dengan kedatangan-Nya dan kemenangan-Nya di kayu salib, maka yang pertama, Iblis tidak memiliki tempat berpijak lagi di surga (Why. 12:10–11). Tetapi Iblis masih memiliki tempat berpijak di bumi, dan sekarang adalah tugas kita menyelesaikannya. Sebagian besar kita pasti pernah mendengar apa yang diamanatkan Tuhan: “Jadikan semua bangsa murid-Ku.” Tetapi perintah itu diawali dengan kalimat dalam Matius 28:18, “Segala kuasa di surga dan di bumi telah diberikan kepada-Ku.” Kira-kira apa yang ada dalam benak kita dalam memahami pernyataan Tuhan ini? Marilah kita memperkarakan hal ini dan menemukan makna orisinal, makna yang sejati, makna yang benar dari pernyataan Tuhan tersebut.
Kiranya kita tidak menghubungkan “kuasa” ini hanya dengan hal lahiriah atau fisik. Kata “kuasa” (exousia) memang berarti juga “hak”, tetapi juga berarti “otoritas” untuk menguasai atau mengontrol. Biasanya orang menghubungkannya dengan kesembuhan, mukjizat, dan pengusiran setan. Itu tidak salah—itu bagian di dalamnya—tetapi intinya bukan itu.
Yang kedua, dunia akan terus mengalami pergolakan menjelang zaman baru. Pergolakan-pergolakan harus terjadi sebelum Tuhan Yesus datang dan membangun Kerajaan-Nya (Why. 5:5). Ketika Yohanes berada di Pulau Patmos, ia melihat tidak ada yang bisa membuka meterai, sehingga ia menangis. Tetapi seorang dari tua-tua berkata, “Jangan menangis! Sesungguhnya, Singa dari suku Yehuda, yaitu Tunas Daud, telah menang, sehingga Ia dapat membuka gulungan kitab itu dan ketujuh meterainya.”
Meterai dibuka, kuda putih muncul, lalu kuda-kuda berikutnya muncul. Kuda-kuda itu berbicara mengenai pergolakan-pergolakan yang Tuhan legalkan. Sekarang kontrol ada di tangan Tuhan, sebab ini merupakan persiapan dari Kerajaan Tuhan Yesus yang akan dihadirkan, dunia baru yang dinantikan oleh Abraham dan semua orang saleh masa lalu.
Selama ini kita merayakan Natal sebagai orang Kristen yang tidak dewasa. Banyak acara Natal hanya menjadikan Yesus sebagai objek. Dengan asumsi bahwa Dia datang sebagai bayi kecil yang hina dan tidak berdaya di palungan, lalu kita semua bernostalgia terhadap peristiwa sejarah yang memang heroik itu. Kita merasa sedang menunjukkan dukungan dan partisipasi terhadap perjuangan Tuhan Yesus, atau paling tidak menunjukkan simpati dan persetujuan kita terhadap kepahlawanan-Nya. Kalau sudah demikian, kita merasa sudah berada di pihak Tuhan.
Pertanyaannya, cukup puaskah Tuhan Yesus dengan sikap seperti ini? Tentu hal ini bukan sikap yang sepenuhnya keliru, bukan salah sama sekali. Tetapi kita harus melihat sejarah dan proyek keselamatan secara utuh. Kita harus memahami bahwa tugas penyelamatan Tuhan Yesus bukan hanya sampai di Betlehem; itu baru merupakan perjuangan awal. Sebab, kalau Dia tidak menuntaskan sampai bukit Kalvari dan kebangkitan-Nya di makam Yusuf Arimatea, maka tidak pernah ada keselamatan.