Skip to content

Berikanlah Kami Pada Hari Ini

 

Matius 6:11

“Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya.”

Ada dua kata yang menarik dari doa yang diajarkan oleh Tuhan Yesus, terutama dalam kalimat ini. Dua kata tersebut adalah “hari ini” dan “secukupnya.” Mengapa Yesus menggunakan dua kata ini? Bukankah ini menjadi seperti “pembatasan” dalam hal berkat jasmani? Jikalau kita memahami kalimat ini dengan pola pikir yang serakah, maka kita akan menilai bahwa Tuhan tidak mau memberkati kita secara total. Padahal, setiap kata yang Yesus ucapkan dalam doa ini mengandung kebenaran yang luar biasa, melebihi sekadar pemenuhan kebutuhan atau berkat jasmani.

Dalam terjemahan King James Version, kalimat ini dituliskan, “Give us this day our daily bread,” yang berarti, “Berikanlah kami pada hari ini roti harian kami.” Perhatikan kata “hari ini” atau this day. Mengapa Yesus tidak menggunakan istilah “minggu ini,” “bulan ini,” “tahun ini,” atau bahkan “seumur hidup kami”? Penggunaan kata atau istilah “hari ini” dimaksudkan agar kita hidup dalam ketergantungan kepada Tuhan setiap hari. Inilah hubungan yang sebenarnya terjalin ketika manusia belum jatuh ke dalam dosa. Adam dan Hawa hidup dalam ketergantungan kepada Tuhan, dan seharusnya tetap demikian sampai selama-lamanya. Sebab Adam dan Hawa tidak akan pernah dapat terlepas dari Tuhan Semesta Alam, Bapa Sumber Segala Berkat. Di sini, secara implisit, Allah menghendaki keintiman dengan manusia terjalin secara terus-menerus, yaitu suatu hubungan yang menyatakan bahwa manusia tidak dapat terpisah dari Tuhan sekalipun selama satu hari. Manusia memiliki ketergantungan kepada Allah karena memang itulah agenda Allah, yaitu agar manusia tinggal dalam keintiman dengan-Nya.

Dalam suatu perjalanan bangsa Israel menuju Tanah Perjanjian, Allah memberikan roti manna kepada bangsa Israel. Ketika bangsa Israel hendak mengumpulkan roti manna tersebut, Musa berkata kepada bangsa itu, “‘Makanlah itu pada hari ini, sebab hari ini adalah hari Sabat bagi TUHAN; pada hari ini tidaklah kamu mendapatnya di padang. Enam hari lamanya kamu memungutnya, tetapi pada hari yang ketujuh adalah hari Sabat; maka roti itu tidak ada pada hari itu.” (Keluaran 16:25–26). Bukanlah suatu kebetulan bahwa prinsip ketergantungan ini juga sudah terlihat sejak bangsa Israel keluar dari Mesir. Dalam Keluaran 16:14–26, dituliskan bahwa ketika Tuhan memberikan manna di padang gurun, Ia menyuruh umat-Nya mengambil manna secukupnya untuk satu hari, kecuali menjelang hari Sabat.

Dengan memungut manna setiap hari, Allah hendak mengajar bangsa Israel untuk menjalin hubungan dengan-Nya secara terus-menerus atau setiap hari. Setiap hari bangsa Israel harus menengadah ke langit, menyaksikan roti manna yang diturunkan Tuhan. Setiap hari mereka melihat tangan Tuhan yang Maha Pemurah menurunkan berkat. Tuhan menghendaki agar setiap hari kita datang kepada-Nya, sebab Ia selalu menyediakan berkat-Nya yang baru bagi kita.

Ratapan 3:22–23 menyatakan, “Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!” Ayat ini menjelaskan bahwa Tuhan memberikan berkat yang selalu baru setiap pagi. Dalam ayat ini, kata “baru” dalam bahasa Ibrani ditulis חָדָשׁ (chadash), yang berarti “sesuatu yang baru” dan juga “sesuatu yang segar.” Tuhan mau memberikan berkat-Nya yang segar setiap hari kepada anak-anak-Nya, bukan berkat yang basi. Ada agenda yang luar biasa di balik berkat jasmani yang diturunkan Tuhan tersebut. Di balik manna yang turun setiap hari, Tuhan hendak menarik anak-anak-Nya supaya datang kepada-Nya. Manakala anak-anak-Nya datang kepada-Nya, terjalinlah keintiman. Manakala ada keintiman, di situ ada berkat rohani yang berasal dari-Nya.

Jadi, inilah sesuatu yang lebih penting di balik berkat jasmani yang Tuhan turunkan setiap hari. Dengan hidup dalam ketergantungan dan keintiman dengan Allah, manusia tidak hanya menerima makanan atau berkat jasmani, tetapi lebih daripada itu, manusia juga menerima berkat rohani yang mendewasakan dan menyempurnakan.