Skip to content

Berhenti Mempersalahkan Orang Lain

 

Jika Tuhan membuat goresan-goresan dalam jiwa kita, jangan mempersalahkan siapa pun, sebab memang kita ingin dibentuk oleh-Nya. Sering kali kita lupa bahwa Tuhan bekerja dengan cara-cara yang di luar selera dan keinginan kita. Percayakanlah kepada Tuhan, karena Ia tahu bagaimana menggores jiwa kita supaya kita menjadi pribadi yang agung. Tanpa kelemahlembutan, seseorang tidak akan mau dibentuk. Anak-anak Allah yang sungguh-sungguh memberi diri dibentuk Tuhan—walaupun tidak mengerti apa yang sedang dikerjakan-Nya—akan tetap belajar mengucap syukur. Kita harus jujur jika memang tidak mengerti proses yang sedang Tuhan kerjakan. Percayalah, Tuhan sangat cerdas merancang proses untuk membawa kita kepada kesempurnaan. Jika kita memahami hal ini, semuanya akan bernilai kekal dalam hidup kita.

Berhentilah mempersalahkan orang lain atas keadaan yang terjadi dalam hidup kita. Ketika kita berhenti menyalahkan, kita akan merasakan kemerdekaan, dan proses pembentukan itu menjadi produktif dalam mengubah batin kita. Sebelum kita menutup mata, kiranya kita telah membentuk karakter seperti Tuhan kita yang mulia, yaitu karakter anak Allah yang agung. Inilah prestasi abadi kita. Dalam Galatia 5:23, kelemahlembutan (prautes) adalah buah Roh, bukan karunia. Untuk memiliki buah Roh ini, seseorang harus mengoptimalkan rasionya dan membangun pengalaman bersama Allah setiap hari.

Paulus berkata, “Kejarlah kelemahlembutan” (1Tim. 6:11). Ini bukan bakat atau talenta, melainkan buah Roh yang harus diusahakan. Buah Roh tidak dimiliki secara otomatis hanya melalui doa. Kita berbuah tergantung dengan respons kita terhadap setiap peristiwa hidup. Lemah lembut tidak berarti tidak bisa marah, tetapi mampu mengelola perasaan sesuai dengan perasaan Tuhan. Kita harus peka kapan harus diam dan kapan harus marah. Orang tua, misalnya, perlu marah pada saat yang tepat agar anak mengerti benar dan salah. Seseorang harus memiliki rentang perasaan yang fleksibel—dapat marah dengan tegas atau diam dengan tenang—sesuai komando Tuhan. Segala sesuatu yang kita lakukan harus selaras dengan pikiran dan perasaan Tuhan.

Jika pikiran kita dipenuhi firman Allah, hidup kita akan tenang dan mengalami damai sejahtera. Segala tindakan berawal dari benih dalam pikiran. Orang yang jatuh dalam dosa tidak terjadi secara tiba-tiba; ada benihnya. Jika pikiran dipenuhi kebenaran dan kesucian, tidak akan ada ruang untuk kebencian, perzinaan, iri hati, atau dendam. Pertanyaannya, apa yang memenuhi pikiran kita? Bagaimana kualitasnya?

Kita tahu bahwa kita masih lemah dan sering salah, tetapi jangan berhenti berubah dan berjuang. Targetnya adalah hidup tidak bercacat dan tidak bercela. Allah tidak mengubah seseorang tanpa peristiwa dan proses kehidupan yang melibatkan manusia bersama Roh Kudus; sekalipun kita belum sempurna, kita tetap dapat mengasihi Tuhan. Orang yang mengasihi Tuhan pasti mengasihi sesama, termasuk pasangan hidupnya. Kelemahan pasangan bukan alasan untuk terpuruk. Jika seseorang menganggap masalah terpisah dari hadirat Allah bukan masalah besar, maka pasti ada masalah lain yang dianggap lebih besar, dan itu dapat membuatnya tidak setia kepada Tuhan serta ceroboh dalam hidup.