Skip to content

Berharganya Jiwa Seorang Anak

 

Dengan pesatnya perkembangan teknologi dewasa ini, informasi begitu cepat sampai ke tangan kita. Baik informasi yang berupa kabar baik maupun kabar buruk dengan sigap menyerbu gawai kita. Hati kita mulai gusar ketika menerima kabar buruk, apalagi yang menyentuh sisi kemanusiaan kita. Salah satunya adalah berita tentang anak-anak yang ditelantarkan oleh orang tuanya. Entah karena orang tua tersebut mengalami kehamilan yang tidak diinginkan, desakan ekonomi, permasalahan emosional, atau alasan lainnya. Pernah beredar di media sosial sebuah berita tentang bayi yang berusia kurang dari satu minggu ditemukan di semak-semak di tepi jalan di Sumatra tanpa sehelai kain yang menempel di tubuhnya. Berita tentang anak yang ditelantarkan selalu membuat kita bertanya-tanya, bagaimana mungkin ada orang tua yang tega melakukan hal tersebut kepada manusia kecil yang tidak berdaya.

Namun, disadari atau tidak, meskipun kita tidak menelantarkan anak dalam kasus ekstrem seperti di atas, kita sering kali kurang menghargai jiwa seorang anak. Hal tersebut ditunjukkan atau dimulai dengan gestur sederhana, misalnya lebih memilih meninggalkan anak dengan gawainya agar kita tidak dipusingkan dengan keharusan berinteraksi dan bermain dengannya. Sungguh dapat dipahami apabila dalam situasi tertentu, misalnya seorang orang tua tunggal (single parent) yang harus bekerja, terkadang mau tidak mau harus membiarkan anaknya lebih banyak berinteraksi dengan gawai. Apalagi jika tidak ada yang membantu pekerjaan di rumah. Situasi-situasi sulit semacam itu terkadang dapat dipahami karena kompleksitas yang tidak mudah diurai. Akan tetapi, hendaknya kesibukan tidak menjadi alasan untuk membiarkan anak bersama gawai tanpa pengawasan dan batasan yang jelas. Peran dan kehadiran orang tua tidak dapat digantikan oleh apa pun. Ada rongga kosong dalam jiwa anak yang hanya dapat dibentuk oleh orang tua yang mengasihi Tuhan.

Dalam Alkitab, kita menemukan seorang kepala rumah ibadah bernama Yairus. Matius 9:18–19 mengisahkan bahwa Yairus begitu sedih karena anak perempuannya sedang sekarat dan hampir mati. Bahkan di Lukas 8:41–42 menjelaskan bahwa anak itu adalah anak perempuan satu-satunya dari Yairus yang berumur dua belas tahun. Dalam keputusasaan, Yairus mendatangi Yesus untuk memohon belas kasihan agar anaknya dapat disembuhkan. Bahkan dalam narasi Matius, anak tersebut dianggap sudah meninggal dan Yesus diminta untuk membangkitkannya. Menarik melihat respons Yesus terhadap permohonan Yairus ini. Pada ayat ke-19 digambarkan bahwa Yesus langsung bangun dan pergi ke rumah Yairus untuk menjumpai anaknya. Tidak ada dialog panjang dari Yesus yang dicatat dalam kisah versi Matius. Hal ini menunjukkan penekanan tentang pribadi Yesus yang sangat peduli terhadap jiwa seorang anak. Tanpa mengulur waktu, Ia mengarahkan langkah-Nya secepat mungkin menuju anak itu. Ia tahu kehadiran-Nya dinantikan dan tidak dapat digantikan oleh siapa pun.

Sikap Yesus seharusnya menjadi sikap kita sebagai orang tua. Orang tua tidak hanya menunjuk pada mereka yang memiliki relasi biologis dengan seorang anak, tetapi juga setiap kita yang berada di sekitar anak-anak. Kita adalah para “orang tua” yang mereka percayai dan tiru. Mereka sungguh menantikan kehadiran kita sebagai orang-orang yang menghadirkan wajah Tuhan bagi mereka. Jika kita menunda untuk hadir dan bersama mereka, dunia dengan segala keindahannya akan dengan senang hati bergegas menghampiri mereka melalui berbagai konten di layar kaca. Yesus memberi kita teladan tentang kesigapan untuk menarik mereka dari gelapnya kerajaan maut.

Memang tidak mudah untuk berinteraksi dengan seorang anak, apalagi jika ia masih kecil. Interaksi dengan mereka dapat menghabiskan “baterai mental” kita. Belum lagi jika anak itu aktif bergerak; tenaga kita juga ikut terserap olehnya. Namun, tidak ada orang yang mengasihi Tuhan dan berhasil dalam hidupnya secara tiba-tiba. Anak-anak kita tidak dapat berhasil dalam kehidupan rohani maupun jasmaninya tanpa bantuan orang-orang dewasa di sekitarnya. Apa yang kita lakukan kepada setiap anak adalah “investasi” terhadap masa depannya. Investasi tersebut akan dituai cepat atau lambat. Oleh karena itu, mari kita sungguh berhati-hati dengan apa yang kita investasikan dalam hidup seorang anak. Jangan sampai kita hanya menginvestasikan uang dan kemewahan hidup, tetapi gagal menginvestasikan Tuhan dalam hidup mereka.