Skip to content

Berharga di Mata Tuhan

 

Gembala-gembala di padang Efrata tidak menganggap domba-dombanya lebih berharga daripada berkat Natal. Padahal mereka bisa kehilangan sebagian, bahkan banyak dari domba-domba mereka. Namun, perjumpaan dengan Sang Mesias jauh lebih penting dan lebih berharga. Demikian juga orang-orang Majus yang datang untuk menyembah Raja orang Yahudi; Juru Selamat yang mereka nilai lebih berharga daripada harta dan nyawa mereka sendiri. Sangat mungkin mereka tidak pernah kembali ke tanah asal. Dengan segala perhitungan, mereka bisa kehilangan segala-galanya. Namun, mereka bersedia membayar harga demi pertemuan dengan Mesias, Raja orang Yahudi itu. Mereka berani melepaskan segala sesuatu demi perjumpaan dengan Raja yang baru lahir ini.

Satu kalimat penting yang harus kita tahu adalah: kekristenan bukan jalan yang mudah. Namun dalam pikiran banyak orang Kristen, seakan-akan keselamatan itu murahan. Pokoknya sudah merayakan Natal, pasti selamat. Mengakui fakta sejarah bahwa Yesus Juru Selamat telah datang dianggap cukup untuk menempatkan dirinya dalam kelompok orang-orang yang diselamatkan. Padahal keselamatan bukan sesuatu yang murahan. Orang percaya harus mengerjakan keselamatannya, bahkan Alkitab mengatakan, “dengan takut dan gentar.” Secara logika sederhana—dan ini mudah dipahami—bagaimana mungkin Tuhan Yesus menyambut orang yang hidup seenaknya masuk ke dalam Kerajaan Surga?

Kita harus jujur mengakui, rata-rata kekristenan yang dimiliki banyak orang Kristen dewasa ini adalah kekristenan yang lebih menghargai dunia, lebih memuaskan daging daripada melakukan kehendak Bapa; masih memuaskan hawa nafsu, masih mencintai harta dunia, dan pada praktiknya menganggap Tuhan tidak perlu ada dalam semua aspek hidup. Urusan dengan Tuhan hanya di gereja. Inilah yang menyedihkan. Itulah sebabnya kita harus memperkarakan: bila suatu saat kita berhadapan dengan Tuhan Yesus, apakah kita berharga di mata-Nya? Dan hal ini sangat ditentukan oleh seberapa berharga Tuhan di mata kita.

Kita semua berharga di mata Tuhan, itulah sebabnya Tuhan Yesus mati di kayu salib dan mempertaruhkan segenap hidup-Nya. Dia yang kaya menjadi miskin, supaya kita yang miskin menjadi kaya. Namun jangan segera berpikir tentang berkat jasmani. Yang harus kita teladani adalah bagaimana Ia mengosongkan diri, yang dalam segala hal menjadi sama dengan manusia, dan bagaimana Ia belajar taat kepada Bapa di surga. Itu yang harus diperhatikan, sehingga kita memiliki kelayakan untuk masuk ke dalam Kerajaan-Nya.

Jika Tuhan menyelamatkan kita, itu supaya kita berubah, supaya kita bertumbuh, supaya kita memiliki kelayakan untuk menjadi anggota keluarga Kerajaan. Itulah harga dari perjumpaan dengan Tuhan Yesus. Firman Tuhan berkata, “Keluar kamu dari antara mereka, jangan menjamah apa yang najis. Maka Aku akan menerima kamu sebagai anak-Ku laki-laki dan anak-Ku perempuan.” Itu harganya.

Namun banyak orang Kristen merasa sudah menjadi Kristen hanya karena merayakan Natal, sehingga otomatis nanti akan diterima Tuhan. Kita harus berani menggugat kekristenan yang sudah keluar dari relnya. Lihat saja di banyak gereja: Tuhan Yesus ditinggikan sebagai Pribadi yang kuat, perkasa, dan dahsyat—yang tentu benar dalam konteks keilahian-Nya—tetapi tanpa disadari, cara penyampaian seperti itu sering “membunuh” karakter Yesus yang dinyatakan dalam konteks karya keselamatan.

Dalam konteks keselamatan, Yesus datang dalam kehinaan. Ia menyelesaikan tugas penyelamatan-Nya dengan lemah lembut, sampai mati di kayu salib. Tuhan mengajar kita, “Seperti Aku hidup, begitu juga kamu harus hidup. Kamu harus mengasihi musuhmu. Kalau pun ada pembalasan, itu hak-Ku nanti.” Namun apa yang sering kita dengar sekarang? Seakan-akan Tuhan seperti jagoan yang siap membalas semua yang menyakiti kita; seakan-akan setiap masalah akan otomatis disingkirkan, setiap lawan akan dilumpuhkan.

Sesungguhnya, kita ini ikut Yesus yang mana? Yesus seperti apa yang kita ikuti?

Kalau kita mengikuti Tuhan Yesus, jangan hanya berhenti di kota Betlehem. Jangan hanya ikut Dia ketika Ia mengubah air menjadi anggur. Jangan hanya mengikuti-Nya saat Ia menyembuhkan orang sakit. Jangan hanya mengiring Dia ketika Ia membangkitkan orang mati. Justru kita harus mengikut Dia ketika Ia masuk ke taman Getsemani; ketika Ia naik ke bukit Kalvari. Di sanalah puncak kemenangan-Nya. Maka Tuhan berkata, “Kalau kamu tidak memikul salib, kamu tidak layak bagi-Ku. Kamu tidak bisa bertemu Aku.”