Surat Paulus kepada jemaat di Korintus dikenal sebagai severe letter atau “surat kemarahan.” Mengapa demikian? Karena jemaat Korintus adalah jemaat yang terkenal tidak tertib, bahkan sangat duniawi. Paulus menulis dalam 1 Korintus 3:3, “Karena kamu masih manusia duniawi. Sebab, jika di antara kamu ada iri hati dan perselisihan, bukankah hal itu menunjukkan bahwa kamu manusia duniawi dan bahwa kamu hidup secara manusiawi?” Konteks ini dapat dimengerti karena Korintus pada masa itu adalah kota pelabuhan dan pusat perdagangan besar. Di sana berkumpul berbagai suku bangsa, termasuk orang Yahudi. Dalam lingkungan seperti itulah jemaat Kristen pertama di Korintus lahir.
Namun, pengaruh dunia Korintus sangat kuat dan jahat. Bahkan pada masa itu muncul istilah Corinthian gestai, yang berarti “bejat seperti orang Korintus.” Kota ini menjadi simbol kebejatan moral. Dalam pertunjukan sandiwara Yunani kuno, tokoh pria Korintus sering digambarkan dengan segelas anggur di tangannya—simbol kebejatan dan pesta pora. Tentu tidak semua orang Korintus demikian, tetapi hal itu menggambarkan citra umum masyarakat pada waktu itu. Maka, tidak heran jika moralitas kota itu ikut memengaruhi kehidupan jemaat Kristen di sana.
Paulus merasakan dukacita yang mendalam atas keadaan jemaat tersebut. Karena itulah ia menulis dengan nada keras. Namun, kemarahan dan tegurannya bukanlah amarah manusiawi, melainkan teguran kasih yang diilhami oleh Roh Kudus. Dan puji Tuhan, teguran itu ternyata mengena. Jemaat Korintus berdukacita karena mereka menyadari kondisi rohani mereka yang belum seperti yang Allah kehendaki. Inilah yang dimaksud dengan dukacita menurut kehendak Allah—dukacita yang menuntun pada pertobatan sejati.
Yesus sendiri menyatakan hal serupa dalam Khotbah di Bukit (Matius 5:3): “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.” Yang dimaksud dengan “miskin di hadapan Allah” bukanlah kemiskinan materi, melainkan kesadaran rohani bahwa diri kita belum seperti yang Allah kehendaki. Orang yang “miskin di hadapan Allah” menyadari bahwa karakter, moral, watak, dan kepribadiannya masih perlu dibentuk oleh Tuhan.
Sayangnya, banyak orang justru berdukacita karena hal-hal duniawi—karena kekurangan materi, kehilangan harta, atau gagal memenuhi ambisi pribadi. Dukacita seperti ini tidak membawa perubahan rohani. Ketika seseorang berdukacita hanya karena urusan dunia maka tidak mungkin ia bisa menempatkan keadaannya secara benar di hadapan Allah. Namun, ketika seseorang bertumbuh dalam Tuhan, hal-hal duniawi tidak lagi menjadi sumber utama dukacitanya. Ia tidak akan mudah terguncang oleh kekurangan atau penderitaan fisik, karena hatinya berlabuh pada Allah. Ia belajar berkata, “Yang penting aku dapat melewati hari ini tanpa mendukakan Tuhan dan tetap menyenangkan hati-Nya.”
Inilah prinsip hidup yang benar: setiap hari adalah kesempatan untuk membuat Tuhan tersenyum. Setiap kali kita menyenangkan hati-Nya, kita sedang mengumpulkan harta di surga—menambah kilau pada mahkota yang kelak akan diberikan-Nya. Maka, jangan sibuk dengan masalah-masalah dunia sampai kita tidak lagi memperhatikan perasaan Tuhan. Tuhan menghendaki kita bukan hanya menjaga diri, tetapi juga melindungi sesama. Sebab, ketika kita melindungi orang lain, Tuhan pun akan melindungi kita. Ironisnya, banyak orang rajin merawat tubuh dan wajahnya, tetapi tidak memiliki hati yang melindungi orang lain. Lalu, di akhir tahun, mereka mengucap syukur atas “pemeliharaan Tuhan,” padahal mereka tidak pernah peduli pada sesamanya. Betapa miskinnya pengertian seperti itu! Orang yang tidak berbelas kasih akan binasa, karena hatinya jauh dari hati Allah.
Banyak orang berdukacita karena hal-hal duniawi, tetapi tidak pernah berdukacita karena dirinya telah melukai hati Tuhan. Padahal, itulah dukacita yang sejati—dukacita yang menuntun pada perubahan hidup. Maka, jangan lagi berdukacita karena kehilangan dunia, tetapi berdukacitalah karena kondisi rohani kita yang belum seperti yang Allah kehendaki. Dari dukacita seperti inilah akan lahir semangat baru untuk hidup sesuai dengan kehendak Tuhan.