Skip to content

Berani Menghadapi Goncangan Hidup

 

Kita harus mulai menyeberangkan hidup kita ke dalam Kerajaan Surga. Jika tidak dilakukan sejak sekarang, kita tidak akan pernah bisa. Marilah kita memohon kepada Tuhan agar Ia memberi petunjuk bagaimana cara mengikuti Tuhan Yesus dan memiliki gairah seperti para murid-Nya pada masa mula-mula, yang akhirnya lulus dalam ujian iman. Mereka disalibkan dengan kepala di bawah, digoreng dalam belanga panas, dipancung, bahkan dimakan binatang buas—itulah kelulusan mereka. Kita memang tidak mengalami penderitaan fisik seperti itu, tetapi pasti ada penderitaan batin yang harus kita tanggung. Namun, bagi orang yang telah mengenal Tuhan, penderitaan batin pun menjadi suatu kenikmatan dan keindahan.

Bagi setiap kita yang belum sungguh-sungguh, marilah kita mulai mengikut Tuhan dengan kesungguhan hati. Jika tidak, kita rugi menjadi orang Kristen yang telah menerima anugerah besar. Sebab anugerah itu adalah sebuah paket: pertama, pendewasaan atau penyempurnaan untuk menjadi serupa dengan Yesus; kedua, salib. Tuhan berkata, “Pikullah kuk yang Kupasang.” Kuk berbicara tentang pembentukan agar kita tidak liar, dan juga melambangkan perhambaan atau salib. Jika kita sudah sampai pada tingkat penyerahan seperti ini, kita tidak perlu lagi mengatakan, “Jangan takut menghadapi ini dan itu,” sebab keberanian itu akan muncul dengan sendirinya. Kita tidak akan pernah sanggup menghadapi goncangan hidup di depan jika tidak memiliki penyerahan yang benar. Penyerahan yang benar bukan hanya kesediaan menyerahkan persoalan hidup supaya kita tertolong oleh Tuhan, tetapi lebih dari itu—yaitu memilih Kerajaan-Nya. Ini berat, tetapi Tuhan akan memimpin kita.

Mengikut Tuhan Yesus adalah hal yang sangat pribadi. Gairah pengiringan setiap orang berbeda-beda, namun pasti orang yang mengalami perjumpaan dengan Tuhan akan dibentuk karakternya dan bertumbuh dalam kedewasaan rohani, hingga akhirnya ia tidak lagi memiliki kepentingan apa pun selain melayani Tuhan. Hidupnya hanya untuk kepentingan Tuhan.

Sayangnya, banyak orang sudah menjadi bebal dan tidak mengerti. Padahal, ini seharusnya menjadi pergumulan hidup kita: bagaimana kita mau menyeberangkan hati dari dunia ini kepada perkara-perkara yang di atas. Sebab, ketika kita bertemu dengan Tuhan dalam keagungan dan kemuliaan-Nya nanti, tetapi tidak memberikan porsi yang pantas bagi-Nya selama hidup di dunia, kita akan menyesal. Rasanya seperti ingin kembali ke bumi untuk melayani Tuhan dan mengiring Dia dengan standar kedewasaan seperti Kristus, bahkan menderita untuk Dia—memikul salib dan terlibat dalam pekerjaan-Nya. Tetapi kesempatan itu sudah tidak ada lagi, karena waktu tidak bisa diulang.

Itulah sebabnya orang-orang yang tidak hidup dalam kebenaran akan mengalami ratap tangis dan kertak gigi. Penderitaan fisik seperti dibakar oleh api atau dipotong tangannya mungkin masih lebih ringan daripada penyesalan yang akan mereka alami. Ratap tangis dan kertak gigi itu bukan sekadar jeritan karena panas atau pukulan, tetapi penyesalan dan kemarahan batin—karena menyadari bahwa kesempatan telah berlalu.

Lebih baik kita menegur dan memarahi diri sendiri sekarang, daripada menyesal nanti. Lebih baik kita takut akan Allah hari ini, supaya kelak di hadapan-Nya kita tidak perlu takut lagi. Orang yang selama hidup di dunia belajar takut akan Allah, kelak ketika berjumpa dengan Tuhan Yesus akan merasakan damai dan kerinduan, bukan ketakutan.

Coba masing-masing kita bertanya kepada diri sendiri: “Apakah aku sungguh merindukan Tuhan?” Jika hati kita mulai bercabang, dan kerinduan kepada Tuhan mulai melemah, berarti kita sedang mengalami distorsi. Kita tidak boleh membiarkan hal itu terjadi. Semakin hari, kita harus semakin murni, tidak terdistorsi oleh dunia. Memang pencobaan akan semakin banyak, tetapi justru di situlah kita belajar menjadi kokoh. Persiapan yang harus kita miliki untuk menyongsong kematian dan pengadilan Tuhan adalah memilih Kerajaan-Nya. Jika kita memilih Kerajaan-Nya, itu berarti kita telah menyerahkan diri dan tidak lagi memiliki kepentingan pribadi selain menyenangkan hati Bapa. Orang-orang seperti inilah yang akan sanggup berdiri di hadapan Anak Manusia tanpa gentar. Mereka tidak takut menghadapi kematian.

Jika ada orang mencibir, biarkan saja. Kita tidak perlu menanggapinya. Justru di situlah kita akan mengalami kemerdekaan sejati. Ketika kita benar-benar memilih Kerajaan Surga, barulah kita menjadi Kristen yang sejati. Kurang dari itu, bukan Kristen. Maka Tuhan Yesus berkata dalam Matius 10:39, “Barangsiapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.” Jangan ada sesuatu pun yang masih kita genggam. Ingatlah, dunia ini serba tidak menentu. Jangan menunggu tua untuk melepaskan segalanya. Orang muda pun harus berani melepaskan segala sesuatu. Kuncinya adalah: tidak ada kebahagiaan di luar Tuhan. Hanya Tuhanlah kebahagiaan sejati kita.