Hal utama yang harus kita perhatikan adalah seluruh hidup kita harus menjadi persembahan yang menyenangkan Tuhan; itulah ibadah yang sejati. Yang kita sembah adalah Allah semesta alam yang memiliki segala Kerajaan, kuasa, dan kemuliaan. Pasti kita akan dipelihara, dan tidak akan dipermalukan. Tapi ingat! Tidak mungkin kita masuk surga kalau kita bersikap sewenang-wenang terhadap pasangan, tidak berlaku adil, menindas, atau malas. Ibadah kita adalah menyembah Allah dalam roh dan kebenaran, di mana ini sifatnya pribadi, yaitu seluruh hidup kita.
Ciri lain dari agama adalah adanya dominasi tokoh; dalam hal ini dominasi pemimpin agama seakan-akan mereka menjadi wakil Tuhan. Memang kita harus menjadi wakil Tuhan, namun tidak terus-menerus kita mewakili Tuhan untuk jemaat. Karena jemaat harus bisa berurusan langsung dengan Tuhan secara langsung. Kalau tidak, maka jemaat akan mengkultuskan pemimpinnya. Jangan kita seakan-akan tidak bisa menjumpai Tuhan sedekat pendeta atau hamba Tuhan. Pendeta harus dekat, itu betul. Tiap hari harus hidup suci, bergaul dengan Allah, dan harus lebih di depan dari jemaat. Tapi jemaat juga harus diajar berjalan dengan Tuhan, jangan bergantung dengan pendeta.
Jangan berpikir ada ukuran ganda kalau pendeta itu harus hidup suci dan full time untuk Tuhan. Kalau jemaat, tidak full time karena kita adalah seorang pedagang, ibu rumah tangga, karyawan, bukan hamba Tuhan. Ini pendapat yang salah. Kita semua adalah hamba Tuhan, dan kita semua ini full time. Full time kita tidak diukur dari waktu, tidak diukur dari profesi. Kalau pendeta tidak kerja dunia, ya, tidak jadi pedagang, tidak jadi karyawan kantor pekerjaan sekuler itu namanya full time.
Rumah ibadah kita adalah tempat di mana kita melakukan aktivitas. Dan di situ kita jadi hamba Tuhan. Jadi, bekerjalah dengan rajin dan maksimalkan semua potensi. Yang membuat jabatan atau pekerjaan kita rohani atau duniawi itu bukan jenis pekerjaannya, melainkan motivasi kita dalam melakukan pekerjaan tersebut. Seorang pendeta yang hanya mau cari duit, bukanlah pekerjaan rohani. Malah bisa-bisa ia lebih jahat dari pedagang. Jadi setiap kita adalah full timer-Nya Tuhan. Semua yang menunjukkan kita full timer atau tidak, adalah hati. Kalau full heart, pasti full timer. Biar jadi pendeta, kalau tidak full heart, dia bukan full timer.
Kalau kita menjadi full timer-Nya Tuhan, maka Tuhan pasti pelihara kita. Urus rumah tangga dengan baik, jadi kesaksian untuk para tetangga, jangan bicara kotor, ramah, tidak membalas kejahatan dan lainnya. Jadi kalau kita lakukan itu, berarti kita adalah seorang full timer. Jadi, tidak ada ukuran ganda: pendeta (imam) dan jemaat (awam). Standarnya kesucian hidupnya juga harus sama. Jangan sombong, semua kita akan mati dan menghadap takhta pengadilan Tuhan, maka hidup kita harus bersih. Ada Allah yang menjadi hakim.
Kita tidak pernah ada di daerah netral. Selalu kita ada di dalam lingkup Allah yang menjadi Tuan rumah. Dan kalau kita percaya bahwa Ia adalah penguasa alam semesta—termasuk penguasa hidup kita—maka jangan pernah kita membuka celah untuk apa pun dan siapa pun menguasai hidup kita. Jangan terintimidasi dengan bisikan si jahat yang membuat kita merasa tidak layak untuk menghampiri Dia, sekalipun itu mungkin karena pengalaman masa lalu kita yang rusak. Serusak apa pun, Tuhan bisa pulihkan, karena Tuhan mau berurusan dengan kita hari ini dan mau jadi apa kita ke depan, bukan dengan kita yang kemarin. Jangan pasif, beranilah memilih untuk mengikut Dia!