Skip to content

Belajar Membatasi Diri

 

Jarang sekali Alkitab mencatat bahwa Tuhan Yesus menangis, meskipun Ia menderita hebat di kayu salib. Namun, Tuhan Yesus menangis ketika menghadapi kematian Lazarus, sahabat yang dikasihi-Nya. “Maka menangislah Yesus.” (Yoh. 11:35). Kesempatan kedua adalah ketika Ia menangisi kota Yerusalem (Luk. 19:41-44).

Mengapa Tuhan Yesus menangisi Yerusalem? Tentu yang ditangisi bukanlah kota secara fisik, melainkan penduduknya. Ketika Tuhan Yesus berkata, “Wahai, betapa baiknya jika pada hari ini juga engkau mengerti apa yang perlu untuk damai sejahteramu! Tetapi sekarang hal itu tersembunyi bagi matamu,” pernyataan ini disampaikan sekitar tahun 30 Masehi.

Empat puluh tahun kemudian, pada tahun 70 Masehi, Yerusalem yang berada di bawah kekuasaan Romawi memberontak. Pemberontakan ini dibalas oleh Romawi di bawah pimpinan Jenderal Titus. Yerusalem dihancurkan. Sejarawan Yahudi bernama Flavius Josephus, yang menjadi saksi mata, mencatat bahwa mayat-mayat bergelimpangan di jalan-jalan kota Yerusalem — mayat para pemberontak dari golongan Zelot, orang-orang tua, ibu hamil, hingga anak-anak. Yerusalem bermandi darah.

Tuhan Yesus bahkan menyatakan bahwa penderitaan yang akan menimpa Yerusalem belum pernah terjadi sejak dunia dijadikan, dan tidak akan terulang hingga dunia berakhir. Bait Allah, simbol kebanggaan dan kehadiran Tuhan, serta lambang persatuan bangsa Yahudi, dihancurkan. Karena diyakini bahwa di bawah pondasinya tersimpan lempengan emas, bukan hanya bangunannya yang dihancurkan, melainkan pondasinya pun digali. Tuhan Yesus telah melihat ini 40 tahun sebelumnya.

Ini menunjukkan betapa dalam kasih Tuhan kepada umat pilihan-Nya. Namun, sebesar apa pun kasih Tuhan, Ia tidak menghindarkan Yerusalem dari bencana itu. Bukan karena Tuhan tidak mampu, tetapi karena penduduk Yerusalem tidak bertobat dan tidak mau mengerti kehendak Tuhan. Tuhan tidak menolong bukan karena tidak bisa, melainkan karena tidak mau melanggar prinsip keadilan dan integritas-Nya. Dalam kedaulatan-Nya, Tuhan memberi kebebasan kepada setiap individu dan bangsa untuk memilih. Dan konsekuensi dari pilihan itu tidak bisa dibatalkan, bahkan oleh Tuhan sendiri.

Hal ini harus kita pahami dengan benar. Allah tidak terbatas dalam banyak hal, tetapi dalam kehendak-Nya, Ia membatasi diri. Sebagai Allah yang kudus, adil, penuh kasih, berhikmat, dan bijaksana, segala tindakan-Nya tunduk pada tatanan ilahi. Ada sistem aturan (rule system) dalam diri-Nya. Jika orang berdosa tidak dihukum, Allah menjadi tidak adil. Ia tidak memberi pelajaran kepada pelaku maupun peringatan bagi yang lain. Maka, ketika Allah tidak mau, itu bukan karena tidak mampu, tetapi karena sifat-Nya yang tidak mengizinkan-Nya untuk bertindak sembarangan.

Inilah pelajaran berharga bagi kita: jangan karena mampu lalu kita lakukan semua yang kita mau. Kita harus belajar membatasi diri. Kitab Nahum 1:2-3 mengatakan bahwa Allah panjang sabar, tetapi Ia tidak akan membiarkan orang bersalah luput dari hukuman. Ketika Kain hendak membunuh Habel, Tuhan sudah mengingatkannya. Tetapi ketika Kain bersikeras, Tuhan tidak mencegahnya. Tuhan membatasi diri untuk tidak mencegah, dan terjadilah pembunuhan itu.

Demikian pula Yerusalem. Tuhan Yesus meratapi kota itu, namun Ia tidak mencegah bencana yang menimpanya. Itu adalah pilihan penduduknya. Mereka memilih satu jalan dan harus menuai apa yang mereka tabur. Mungkin kita berkata, “Tuhan, celikkan saja matanya supaya ia mengerti!” — tetapi itu pun tidak bisa dilakukan. Bila seseorang memang tidak mau mengerti dan tidak mengingini apa yang Tuhan ingini, maka mereka tidak bisa mengerti. Sebab mereka memilih untuk mengingini apa yang mereka kehendaki sendiri.