Matius 9:36
Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala.
Ada perbedaan besar antara sekadar melihat dan sungguh-sungguh memperhatikan. Banyak orang dapat melihat keadaan seseorang, tetapi tidak semua orang mampu melihat penderitaan yang tersembunyi di baliknya. Banyak orang dapat menyaksikan kelemahan orang lain, tetapi hanya sedikit yang hatinya tergerak untuk menolong. Matius menggambarkan Yesus sebagai Pribadi yang bukan hanya melihat orang banyak, melainkan melihat mereka dengan hati yang penuh belas kasihan. Sepanjang perjalanan-Nya, Yesus menyaksikan kehidupan masyarakat Israel yang begitu memprihatinkan. Mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala. Gambaran domba tanpa gembala menunjukkan keadaan yang sangat rentan karena domba membutuhkan gembala untuk melindungi, menuntun, mencarikan padang rumput, dan membawanya kembali ketika tersesat. Tanpa gembala, domba mudah kehilangan arah dan menjadi mangsa.
Namun, keadaan tersebut bukan semata-mata karena mereka tidak memiliki pemimpin. Mereka memiliki para pemimpin agama. Ada orang-orang yang memahami hukum Taurat dan mengajarkannya kepada umat. Persoalannya, mereka memiliki posisi sebagai pemimpin tanpa memiliki hati seorang gembala. Mereka mampu berbicara tentang kebenaran, tetapi gagal menghadirkan kasih dan belas kasihan kepada orang-orang yang mereka layani.
Hal itu terlihat ketika Yesus makan bersama Matius dan para pemungut cukai. Orang-orang Farisi mempertanyakan tindakan Yesus, “Mengapa gurumu makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?” (Mat. 9:11). Bagi mereka, orang berdosa adalah kelompok yang harus dijauhi. Namun, bagi Yesus, orang berdosa adalah orang-orang yang membutuhkan pertolongan. Perbedaan ini menunjukkan bahwa seseorang dapat sangat dekat dengan hal-hal rohani, tetapi hatinya tetap jauh dari hati Allah. Yesus melihat manusia bukan berdasarkan label yang melekat pada mereka, melainkan berdasarkan kebutuhan mereka yang terdalam. Ia melihat kelelahan, keterhilangan, luka, dan kerinduan mereka akan pemulihan. Belas kasihan Yesus bukan sekadar perasaan iba. Belas kasihan itu mendorong-Nya untuk bertindak, mengajar, menyembuhkan, dan memanggil murid-murid untuk terlibat dalam pekerjaan Allah.
Gambaran kedua yang muncul adalah tentang tuaian yang banyak, tetapi pekerja sedikit. Ladang sudah siap dituai, tetapi tidak cukup banyak orang yang bersedia mengambil bagian dalam pekerjaan tersebut. Ini menjadi teguran sekaligus panggilan. Di sekitar kita ada begitu banyak orang yang membutuhkan perhatian, pendampingan, penguatan, dan arah kehidupan. Persoalannya bukan karena tidak ada orang yang membutuhkan, melainkan karena terlalu sedikit orang yang bersedia berhenti, melihat, dan hadir bagi mereka.
Pertanyaan bagi kita sekarang adalah, “Bagaimana kita melihat orang-orang di sekitar kita? Apakah kita melihat mereka sebagai orang berdosa yang layak dijauhi atau sebagai jiwa yang sedang membutuhkan kasih karunia Tuhan?” Menjadi pengikut Kristus berarti belajar memiliki cara pandang Kristus. Kita dipanggil bukan hanya untuk mengetahui kebenaran, tetapi juga untuk memiliki hati yang berbelas kasihan. Gereja, keluarga, komunitas, dan pelayanan membutuhkan orang-orang yang tidak hanya mampu menjadi “pemimpin”, tetapi sungguh-sungguh memiliki hati seorang gembala. Sebab terkadang, mukjizat terbesar dalam hidup seseorang bukanlah ketika kita memberikan jawaban atas masalahnya, melainkan ketika melalui kehadiran kita, ia kembali merasakan bahwa dirinya masih dilihat, dikasihi, dan tidak ditinggalkan oleh Tuhan.