Skip to content

Bejana Pikiran dan Perasaan Tuhan

 

Bagaimana caranya kita dapat melakukan sesuatu yang sesuai dengan pikiran dan perasaan Tuhan? Yaitu dengan belajar kebenaran firman Tuhan setiap hari dan membangun hubungan yang harmonis dengan-Nya. Melalui latihan terus-menerus dalam perjalanan yang panjang, sampai kita dapat menangis bersama Tuhan. Hingga pada suatu hari, ketika kita bertemu dengan-Nya, Tuhan dapat berkata, “Inilah sahabat-Ku; ia bagian dari hidup-Ku. Aku menitikkan air mata melalui air matanya.” Dalam Kolose 3:12 Paulus berkata, “Kenakanlah belas kasihan.” Itu bukan belas kasihan secara umum, melainkan belas kasihan yang lahir dari perasaan Tuhan. Di sinilah kita mulai mengerti ketika Paulus berkata, “Hidupku bukannya aku lagi, tetapi Kristus yang hidup di dalam aku.”

Orang yang murah hati akan beroleh kemurahan. Maksudnya adalah orang yang memiliki pikiran dan perasaan Tuhan. Betapa agungnya hidup orang seperti ini, sebab hidupnya bukan lagi dirinya sendiri, melainkan Kristus yang hidup di dalamnya. Ada perbedaan antara perkataan Tuhan, “Ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum,” dengan pengertian bahwa kita menjadi bejana Tuhan untuk melakukan apa yang Ia kehendaki. Semua yang kita lakukan sebenarnya merupakan tindakan yang memuaskan pikiran dan perasaan-Nya. Di sini Tuhan menjadi subjek, bukan sekadar objek dari perbuatan baik kita. Berbuat baik lalu diperhitungkan sebagai kebaikan memang baik, tetapi yang lebih sempurna adalah ketika kita memperagakan pikiran dan perasaan Tuhan sendiri. Hal ini sangat tinggi dan sulit dicapai, namun Tuhan memungkinkan kita untuk mencapainya.

Karena itu kita harus belajar kebenaran dari hari ke hari dan menyediakan waktu untuk bertemu dengan Tuhan dalam doa pribadi setiap hari. Jika kita dapat melakukan sesuatu sesuai dengan pikiran dan perasaan Tuhan, hal itu tidak akan menjadi kebanggaan pribadi, sebab kita melakukannya secara natural. Tuhan menyampaikan pesan-Nya kepada orang-orang di sekitar kita melalui tindakan kita—bukan karena kita ingin terlihat baik, melainkan karena kita telah menemukan kebaikan Tuhan. Sampai pada tahap di mana orang lain merasakan bahwa tindakan kita bukan tindakan biasa, melainkan tindakan seorang manusia Allah, dan mereka memuliakan Bapa karena melihat perbuatan kita.

Betapa luar biasanya jika kita dapat menyalurkan pikiran dan perasaan Tuhan. Meskipun terkadang perbuatan kita tidak disambut dengan baik, semuanya akan terbuka dengan jelas pada waktunya. Jika ada orang yang menjahati kita, jangan melawan, sebab segala sesuatu akan berakhir dan akan ada perhitungan pada hari penghakiman. Ironisnya, sangat jarang orang berani memberikan kuota tak terbatas bagi pekerjaan Tuhan. Jika ingin memiliki kuota tak terbatas, kita harus terus belajar kebenaran. Kita tidak kehilangan kepribadian kita, tetapi kepribadian itu diubahkan menjadi serupa dengan Tuhan Yesus. Orang-orang seperti inilah yang akan masuk ke dalam Kerajaan Surga.

Untuk memiliki pribadi seperti ini, kita harus mengerti arti keselamatan dan betapa mahalnya keselamatan yang Tuhan Yesus kerjakan—sesuatu yang tak ternilai dan tak dapat dibeli. Yesus, yang dalam segala hal disamakan dengan kita sebagai saudara-saudara-Nya, setia menjaga kesucian dan taat sampai mati di kayu salib untuk menyelamatkan orang berdosa. Setelah itu Ia dibangkitkan dan ditinggikan oleh tangan Allah yang kuat, sehingga Yesus menjadi Tuhan dan Kristus. Karena itu firman Tuhan berkata, “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus.” Inilah cara menghargai keselamatan itu.

Jadi, jika kita ingin memiliki beban seperti yang Tuhan kehendaki, maka:
Pertama, hayatilah keselamatan yang telah Tuhan berikan melalui pengorbanan-Nya yang tak terkira. Kedua, sadari nilai jiwa manusia yang kekal. Mari kita berjuang untuk mengalami perubahan sesuai dengan rancangan-Nya.