Skip to content

Beban atas Penderitaan Sesama

 

Orang yang murah hati adalah pribadi yang memiliki beban terhadap penderitaan orang lain. Bukan karena kewajiban berbelaskasihan, bukan pula sekadar karena harus menolong atau memberi sesuatu, melainkan karena ia memiliki kodrat berbelas kasihan. Orang seperti ini tidak kecewa ketika kebaikannya tidak dihargai atau tidak dibalas dengan ucapan terima kasih. Mengenai kodrat manusia, kita jangan selalu memandangnya secara negatif. Ada orang yang memang suka memberi dan menolong; jika hal itu dibiasakan, ia bisa memberi bahkan mengorbankan apa pun. Namun kodrat Ilahi yang kita maksud di sini adalah pengembangan karakter dan moral Allah di dalam diri kita.

Seseorang harus mengalami kelahiran baru, dan kelahiran baru itu dibangun dari kebenaran-kebenaran Injil. Memberi adalah tindakan kasih. Walaupun seseorang dapat memberikan seluruh hartanya, tetapi jika tanpa kasih, semuanya sia-sia. Kasih adalah tindakan yang selaras dengan pikiran dan perasaan Allah. Karena itu, kita harus mengembangkan kepekaan untuk mengerti pikiran dan perasaan Tuhan. Beban terhadap orang lain harus seiring dengan pikiran dan perasaan-Nya. Jika Tuhan terbeban atas sesuatu, kita pun harus merasakan dan bersedia memikul beban itu, sesulit dan seberat apa pun; tetapi jika itu bukan beban Tuhan, seringan apa pun, janganlah dipikul.

Jika kita dapat bertindak demikian, tindakan kita akan mulia, meskipun belum tentu dihargai manusia. Hal ini menyangkut kerendahan hati, ketulusan, dan kejujuran dalam segala aspek. Ketika Tuhan melihat penderitaan manusia, Ia menjatuhkan belas kasihan. Banyak peristiwa dalam Alkitab menunjukkan hal ini (Mat. 9:36; 15:32; 18:27; 20:34; Mrk. 6:34; Luk. 7:13). Betapa indahnya jika pikiran dan perasaan kita menjadi bejana bagi pikiran dan perasaan Tuhan sendiri. Tuhan memakai orang-orang yang mau menjadi bejana-Nya untuk menyalurkan hati-Nya, supaya Kerajaan-Nya nyata di bumi. Anak-anak Allah harus menjadi saluran di mana pikiran dan perasaan Tuhan mengalir. Inilah orang-orang yang berkenan kepada Bapa—yang menderita bersama Kristus dan rela berbuat apa pun tanpa batas, karena Tuhan adalah pusat kehidupannya.

Perlu diperhatikan, ada perbedaan yang sangat tipis antara melakukan sesuatu karena simpati atau belas kasihan manusiawi dan melakukan sesuatu karena Allah menghendakinya. Setiap orang yang mau menjadi bejana Tuhan harus memiliki kapasitas yang terus diperbesar, sejalan dengan kapasitas hati Tuhan. Kita harus memiliki mental anak-anak Allah. Apa pun yang kita lakukan harus dalam rangka melayani perasaan Tuhan, bukan sekadar melayani pekerjaan itu sendiri. Perbedaannya sangat tipis: apakah kita melakukannya karena Tuhan atau karena kita ingin melakukan sesuatu.

Tuhan pernah berkata kepada murid-murid-Nya agar mereka memberi makan lima ribu orang yang mengikuti-Nya. Para murid merasa tidak mungkin karena jumlahnya terlalu banyak. Di sini terlihat kapasitas mereka terbatas dan mereka membatasi diri dengan perhitungan kuota. Namun orang yang sungguh mengasihi Tuhan tidak memiliki kuota. Ia membuka diri tanpa batas, siap melakukan apa pun bagi Tuhan, sekalipun tidak menguntungkan dirinya. Ia tidak perhitungan dalam pekerjaan Tuhan.

Banyak orang dapat melakukan banyak hal, tetapi ketika menolong sesama, ia memanipulasinya untuk kepentingan diri sendiri. Ia tidak sungguh-sungguh bertanya kepada Tuhan apa yang patut dilakukan dan apa yang tidak. Memang, bisa saja apa yang ia lakukan tampak benar dan bahkan bermanfaat, tetapi apakah itu benar-benar kehendak Tuhan? Ataukah ia sekadar memuaskan dirinya sendiri? Tuhan menghargai tindakan yang lahir dari hati yang tulus dan selaras dengan kehendak-Nya.