Batiniah Serupa dengan Yesus

Tuhan Yesus datang membawa terang agar manusia dapat menyelenggarakan hidup sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Prinsip kita sebagai anak Allah adalah “kehendak Bapa adalah hukumku.” Orang percaya dipanggil untuk memiliki kualitas hidup seperti yang Yesus yang prinsip-Nya adalah melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya (Yoh. 4:34). Kenyataannya, banyak orang Kristen merasa bahwa ia sudah sudah menjadi orang Kristen yang benar, padahal tidak sama sekali. Sebenarnya, mereka sedang tersesat oleh gambar diri yang salah. Sungguh menyesatkan kalau gereja mengajarkan bahwa kalau seseorang sudah mengambil bagian dalam kegiatan gereja, berarti sudah memenuhi standar hidup melayani Tuhan. Sekalipun sudah bergereja dan mengambil bagian dalam kegiatan pelayanan gereja, tetapi kalau tidak memiliki sikap batiniah seperti Yesus, berarti belum menjadi anak Allah yang sah.

Kehidupan yang dikehendaki oleh Allah Bapa bukan hanya menjadi orang beragama Kristen yang bermoral baik di mata masyarakat. Kehidupan yang dikehendaki oleh Allah adalah pada sikap batin seperti yang dimiliki Yesus. Ini adalah kemampuan berpikir dan berperasaan seperti Yesus. Pada umumnya, manusia hanya mampu memahami kebaikan moral secara umum berdasarkan hukum. Sebenarnya, hukum diberikan karena keadaan manusia yang tidak bisa mengerti kehendak Allah secara penuh atau sempurna. Hanya Injil yang dapat membawa manusia pada kehidupan mengerti kehendak Allah secara penuh dan sempurna. Hanya Tuhan Yesus yang dapat mengajarkan pikiran dan perasaan Bapa. Itulah sebabnya, Yesus berkata agar kita menjadi sempurna seperti Bapa. 

Orang percaya yang sungguh-sungguh mau diajar oleh Tuhan Yesus, tidak lagi mempersoalkan perkara-perkara dunia. Mereka juga tidak akan merindukan dan meminta apa pun, selain berusaha memahami apa yang diinginkan oleh Bapa untuk dapat dilakukannya. Mereka memberi diri sepenuhnya untuk melakukan rencana Bapa untuk diselesaikan. Itu berarti mempersembahkan segenap hidup tanpa batas untuk kesukaan Bapa. Pada akhirnya, semua orang percaya harus memiliki sikap batin seperti ini. Ini berarti setiap orang percaya memiliki memiliki standar yang sama yaitu menjadi serupa dengan Yesus Kristus. 

Harus disadari bahwa halangan terbesar untuk memiliki batiniah seperti Yesus adalah kedagingan atau manusia lama kita. Dalam diri kita, mengalir hasrat keinginan daging berupa nafsu yang bertalian dengan tubuh jasmani, yaitu makan, minum, dan seks. Kalau seseorang sudah terikat dengan keinginan daging ini, sukarlah baginya untuk dapat melepaskannya. Keinginan daging yang tidak sesuai dengan kesucian Tuhan akan menuntut terus untuk dipuaskan. Dalam diri kita, terdapat berbagai keinginan-keinginan yang sudah mengakar sehingga menjadi semacam “ikatan.” Inilah yang membuat banyak orang tertawan oleh keinginannya sendiri. Banyak orang Kristen menganggap hal ini sebagai sesuatu yang wajar. Mereka membiarkan diri mereka terus dalam belenggu berbagai keinginan yang tidak sesuai dengan keinginan Allah. Firman Allah mengatakan agar kehidupan lama harus ditanggalkan, dan manusia baru yang terus-menerus diperbarui harus dikenakan. Kalau manusia lama masih dihidupi, seseorang tidak pernah memiliki batiniah seperti Kristus. Ini juga berarti orang itu tidak akan pernah menjadi anak-anak Allah yang sah. 

Oleh sebab itu, orang percaya harus menguasai dan menaklukkan diri sendiri di bawah otoritas Allah. Kalau tidak, maka manusia lama akan tetap hidup dan menguasai kehidupannya sehingga Allah tidak dapat memiliki dirinya. Harus ada kesediaan untuk meninggalkan sama sekali cara berpikir, pola hidup, dan gaya hidup yang tidak sesuai dengan kehendak Allah. Betapa ironisnya, banyak orang Kristen yang sementara bergereja, tetapi sejatinya mereka tidak menerima dan tidak memiliki Tuhan Yesus. Orang yang memiliki Tuhan Yesus adalah mereka yang membuang manusia lamanya. Dalam hal ini, berlaku firman bahwa seseorang tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Lagipula, terang tidak dapat dipersekutukan dengan gelap.

Orang percaya harus membuka diri untuk selalu dipenuhi Roh Kudus melalui persekutuan dengan Tuhan Yesus. Melalui proses ini, segala keinginan dan cita-cita kita yang tidak sesuai dengan kehendak Allah dapat tersingkirkan. Proses ini merupakan proses mengalami kematian dari manusia lama kita. Kesediaan meninggalkan manusia lama menunjukkan bahwa seseorang mengasihi Tuhan. Sejak ada kesediaan itu, seseorang akan digarap Tuhan. Tanpa kesediaan yang tulus atau sikap hati yang mengasihi Tuhan dengan benar, seseorang tidak akan mengalami penggarapan Allah. Dalam hal ini, respons manusia sangat menentukan, sebab hanya orang-orang yang mengasihi Tuhan yang akan mengalami proses keselamatan, sehingga dapat memiliki batiniah serupa dengan Yesus. Orang percaya yang berani melakukan hal ini akan menjadi orang-orang yang unggul di mata Allah. Suatu hari, bila orang percaya tersebut berjumpa dengan Bapa, Bapa akan menemukan pribadi Anak-Nya di dalam diri orang tersebut.