Skip to content

Bapa yang Berdaulat

 

Ketika Tuhan Yesus mengajarkan doa, “Bapa kami yang di surga,” Ia sedang memperkenalkan Allah sebagai Bapa yang berdaulat atas seluruh ciptaan. Ia adalah Raja yang memiliki takhta, wilayah pemerintahan, dan kuasa yang kekal. Kalimat “yang di surga” menunjukkan bahwa Allah memiliki pemerintahan yang sempurna, kudus, dan tidak tergoyahkan. Tidak ada kekacauan atau pemberontakan yang dapat menggagalkan rencana-Nya. Segala sesuatu berada di bawah kedaulatan-Nya.

Berbeda dengan Allah, Iblis adalah pribadi yang telah kehilangan tempatnya karena pemberontakannya. Ia tidak memiliki kerajaan kekal yang sah. Karena itu, ia terus berusaha menyeret manusia menjauh dari Allah. Ironisnya, banyak orang rela mengorbankan kebenaran demi mempertahankan kenyamanan, status, harta, atau jabatan di dunia ini. Mereka sibuk membangun kehidupan sementara, tetapi melupakan rumah kekal mereka.

Padahal, dunia ini bukan rumah kita yang sesungguhnya. Semua yang ada di dalamnya akan berlalu, tetapi Kerajaan Allah tetap selama-lamanya. Karena itu, ketika kita menyebut “Bapa kami yang di surga,” kita sedang mengakui bahwa hidup kita berada di bawah pemerintahan-Nya. Kita mengakui bahwa hanya Dia yang layak menjadi Raja dan bahwa tidak ada kuasa yang lebih besar daripada kuasa-Nya. Kesadaran ini memberi ketenangan bagi orang percaya, sebab Bapa kita memegang kendali atas segala sesuatu.

Namun, pengakuan tersebut tidak boleh berhenti sebagai doktrin. Sebagai anak-anak Kerajaan Surga, kita dipanggil untuk menghadirkan nilai-nilai surga di bumi. Di tengah kebencian, kita menghadirkan kasih. Di tengah dusta, kita hidup dalam kebenaran. Di tengah keegoisan, kita belajar melayani. Menghadirkan surga berarti menghadirkan kehendak Allah melalui kehidupan kita sehingga orang lain dapat melihat pantulan karakter Bapa di dalam diri kita.

Itulah sebabnya Tuhan Yesus menyebut kita terang dunia. Kehidupan orang percaya harus menjadi kesaksian yang nyata. Ketika kita bekerja dengan jujur, mengampuni orang yang bersalah, tetap setia dalam penderitaan, dan melayani tanpa mencari pujian, kita sedang menghadirkan pemerintahan Allah di bumi. Tuhan Yesus sendiri adalah teladan sempurna. Seluruh hidup-Nya dipenuhi ketaatan kepada kehendak Bapa. Melalui hidup-Nya, pekerjaan Iblis dihancurkan dan Kerajaan Allah dinyatakan. Hari ini, Tuhan ingin terus menyatakan kerajaan-Nya melalui kehidupan orang percaya yang hidup dalam ketaatan yang sama.

Sebagai warga Kerajaan Surga, kita juga memiliki pengharapan yang berbeda dari dunia. Kita percaya bahwa hidup tidak berakhir pada kematian. Bumi yang sekarang akan berlalu, tetapi Allah menyediakan langit baru dan bumi baru bagi umat-Nya. Karena itu, kita tidak hidup hanya untuk perkara-perkara sementara, melainkan untuk tujuan yang kekal.

Pengharapan kekal tidak membuat kita mengabaikan kehidupan sekarang. Sebaliknya, pengharapan itu mendorong kita untuk hidup lebih sungguh-sungguh, bekerja dengan tekun, melayani dengan setia, dan memuliakan Tuhan dalam setiap aspek kehidupan. Adam pertama gagal menghadirkan pemerintahan Allah di bumi karena jatuh ke dalam dosa, tetapi Tuhan Yesus, Sang Adam Kedua, datang untuk memulihkan tujuan tersebut. Kini, kita dipanggil untuk melanjutkan tugas itu.

Doa “Bapa kami yang di surga” bukan sekadar doa hafalan. Itu adalah deklarasi identitas dan panggilan hidup. Setiap kali mengucapkannya, kita mengakui bahwa kita adalah milik Kerajaan Surga dan dipanggil untuk mencerminkan pemerintahan Bapa. Kiranya melalui hidup kita, dunia dapat melihat kasih, damai sejahtera, kekudusan, dan terang Kristus, sebab kita adalah anak-anak dari Bapa yang berdaulat dan memiliki Kerajaan yang kekal.