Skip to content

Balok di Mata Sendiri

 

Tuhan Yesus mengajar kita untuk tidak hanya melihat kesalahan orang lain, tetapi terlebih dahulu melihat kesalahan diri sendiri. Tuhan menghendaki kita menjadi sempurna. Artinya, kita harus kritis dalam menilai diri sendiri, bukan terhadap orang lain. Banyak orang sangat teliti melihat keadaan orang lain, sedangkan terhadap dirinya sendiri ia bersikap longgar. Memang lebih mudah melihat kelemahan atau kesalahan orang lain, lalu memberi tanggapan atau komentar, bahkan menghakimi dan menjatuhkan vonis, daripada memeriksa keadaan diri sendiri.

Sebenarnya, ketika kita tidak menyukai seseorang, kita sedang menghakiminya. Kita tahu ia salah atau keliru, tetapi tetaplah menerima dia sebagai saudara kita. Namun kita juga tidak boleh bersikap munafik. Kita menerima dia apa adanya; walaupun ia pernah bersalah kepada kita, kita tidak berhak menghukumnya. Kadang seseorang tidak melukai kita secara langsung, tetapi melukai sahabat atau pasangan kita. Dalam keadaan seperti ini pun kita tetap harus menunggu komando Tuhan. Jadi, ketika Tuhan melarang kita menghakimi sesama, bukan berarti kita harus berdiam diri jika seseorang melakukan kesalahan. Ada kesalahan yang memang harus diluruskan melalui tindakan. Misalnya dalam hubungan antara pemimpin perusahaan dan bawahan, ada disiplin yang harus diterapkan sehingga kita perlu menegur dan memperbaiki.

Jika kita mengetahui ada orang yang jatuh dalam dosa dan kita tidak mengingatkannya, maka kita turut ambil bagian dalam perbuatan dosanya. Jika itu memang menjadi tanggung jawab kita, maka kita harus menegurnya. Namun jika itu bukan bagian kita, sebaiknya kita diam. Sebab sering kali tanpa kita sadari kita sedang menghakimi orang lain. Kita merasa sedang mendiskusikan masalah orang lain secara objektif. Padahal objektif menurut kita belum tentu objektif yang benar. Kita seakan-akan sedang mencari solusi, tetapi sebenarnya kita melakukannya karena kemarahan, kejengkelan, atau karena kita tidak merasa puas jika tidak membicarakannya. Pada kenyataannya, kita sedang memandang rendah orang lain dan merasa berhak untuk menghakimi mereka.

Sikap seperti ini membuat seseorang merasa lebih baik daripada orang lain sehingga membangkitkan kesombongan, bahkan kesombongan rohani. Ketika kita membicarakan kesalahan orang lain—sekalipun orang tersebut memang bersalah—tetapi jika Tuhan tidak menghendaki kita membicarakannya, hal itu tetap berbahaya. Ingat, ini bukan berarti kita berkompromi dengan kesalahan. Roma 14:10 berkata, “Tetapi engkau, mengapakah engkau menghakimi saudaramu? Atau mengapakah engkau menghina saudaramu? Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Allah.”

Mungkin kita termasuk orang yang mengetahui banyak rahasia, dan sering kali tanpa sadar beberapa rahasia itu bocor kepada orang terdekat kita, misalnya kepada pasangan hidup. Walaupun mungkin rahasia itu aman di tangan mereka, sebenarnya kita tidak berhak mempercakapkan kesalahan orang lain. Jika kita melakukannya, kita menjadi pribadi yang kurang agung. Dalam gereja sering terdapat orang-orang yang mengalami inferiority complex, yaitu rasa rendah diri, minder, atau kurang percaya diri. Kadang-kadang mereka menjadi sangat kritis karena ingin dihargai. Mereka menunjukkan sesuatu yang dianggap bernilai untuk mengangkat dirinya, salah satunya dengan membicarakan kesalahan orang lain.

Mereka bahkan merasa lebih bangga jika yang dibicarakan adalah kekurangan orang yang lebih terhormat di dalam komunitas mereka—seperti pemimpin, pendeta, atau seseorang yang memiliki martabat. Dengan membicarakan hal itu, seolah-olah kehormatannya ikut terangkat. Di mana-mana selalu ada orang seperti ini, yang senang membicarakan kelemahan orang lain. Ingat, jangan berteman dekat dengan orang seperti ini. Kita bisa “tergarami” oleh semangat suka membicarakan orang lain. Jika kita sudah “tergarami”, kita pun akan melakukan hal yang sama tanpa kita sadari.