Skip to content

Bagi Kemuliaan Allah dan Kemajuan Kerajaan-Nya

 

Markus 6:3

“Bukankah Ia ini tukang kayu, anak Maria…?”

Banyak orang Kristen masih beranggapan bahwa pekerjaan yang paling mulia di hadapan Tuhan adalah menjadi pendeta, penginjil, atau pelayan gereja sepenuh waktu. Sebaliknya, pekerjaan di dunia sekuler dianggap kurang rohani atau hanya sebagai sarana mencari nafkah. Akibatnya, sebagian orang merasa bahwa mereka baru dapat sungguh-sungguh melayani Tuhan apabila meninggalkan profesinya dan masuk ke dalam pelayanan penuh waktu.

Namun, Alkitab memberikan gambaran yang jauh lebih luas mengenai panggilan hidup orang percaya. Tidak semua orang dipanggil menjadi pelayan gereja sepenuh waktu, tetapi semua orang dipanggil untuk melayani Tuhan melalui pekerjaan yang dipercayakan kepada mereka. Baik sebagai petani, guru, dokter, pengusaha, pegawai negeri, karyawan, ibu rumah tangga, teknisi, maupun pendeta, setiap profesi dapat menjadi pelayanan yang memuliakan Allah apabila dilakukan dengan motivasi yang benar.

Sebelum memulai pelayanan-Nya di depan umum, Tuhan Yesus terlebih dahulu menjalani kehidupan sebagai seorang tukang kayu. Penduduk Nazaret mengenal-Nya sebagai “tukang kayu.” (Markus 6:3) Ia bekerja dengan tekun, hidup sederhana, dan bertanggung jawab. Tradisi gereja mula-mula juga memahami bahwa Yusuf kemungkinan telah meninggal sebelum pelayanan Yesus dimulai. Karena itu, sebagai anak sulung, Yesus kemungkinan besar ikut menopang kehidupan Maria dan adik-adik-Nya. Walaupun Alkitab tidak menceritakannya secara rinci, kehidupan Yesus menunjukkan bahwa bekerja tidak pernah bertentangan dengan kekudusan. Sebaliknya, melalui kesetiaan dalam pekerjaan sehari-hari, Ia memuliakan Bapa.

Hal yang sama terlihat dalam kehidupan Rasul Paulus. Walaupun dipakai Tuhan secara luar biasa untuk memberitakan Injil, Paulus tetap bekerja sebagai pembuat kemah bersama Akwila dan Priskila (Kisah Para Rasul 18:3). Ia tidak selalu bergantung pada jemaat, melainkan menunjukkan bahwa pekerjaan dan pelayanan bukanlah dua hal yang saling bertentangan. Justru melalui pekerjaannya, Paulus memperlihatkan tanggung jawab, kerendahan hati, dan kasih kepada jemaat. Karena itu, tidak semua orang dipanggil menjadi pelayan gereja sepenuh waktu. Sebagian besar orang percaya justru ditempatkan Allah di kantor, sekolah, rumah sakit, perusahaan, pasar, pabrik, kampus, dan berbagai bidang profesi untuk menjadi terang Kristus. Tempat kerja adalah ladang pelayanan yang Tuhan percayakan. Di sanalah kita belajar hidup jujur ketika orang lain memilih jalan yang curang, sabar ketika menghadapi tekanan, mengampuni ketika menghadapi rekan kerja yang sulit, serta mengasihi melalui pelayanan kepada pelanggan, pasien, murid, atau masyarakat.

Jangan pernah merasa bahwa pekerjaan Anda kurang berarti di hadapan Tuhan. Selama pekerjaan itu dilakukan dengan cara yang benar dan tidak bertentangan dengan firman Tuhan, pekerjaan tersebut memiliki nilai kekal apabila dipersembahkan bagi kemuliaan Allah. Lebih dari itu, hasil pekerjaan kita juga dipakai Tuhan untuk mendukung pekerjaan Kerajaan-Nya. Melalui berkat yang Tuhan percayakan, kita dapat menolong mereka yang membutuhkan, mendukung pelayanan gereja, mengutus misionaris, membantu pendidikan, memperhatikan kaum miskin, dan mengambil bagian dalam penyebaran Injil.

Karena itu, bekerja memiliki dimensi yang jauh lebih luas daripada sekadar mencari penghasilan. Setiap berkat yang diperoleh dengan jujur dapat menjadi alat untuk memuliakan Tuhan apabila dikelola dengan bijaksana. Sebaliknya, kemalasan dan hidup yang tidak produktif membuat seseorang kehilangan kesempatan untuk menjadi berkat bagi sesama. Allah memanggil kita bukan untuk menjadi beban, melainkan untuk menopang orang lain. Seperti yang ditulis Rasul Paulus, “Adalah lebih berbahagia memberi daripada menerima.” (Kisah Para Rasul 20:35)

Pada akhirnya, Alkitab mengarahkan pandangan kita kepada kekekalan. Orang yang setia dalam perkara kecil akan dipercayai perkara yang lebih besar (Matius 25:21). Kesetiaan dalam pekerjaan hari ini merupakan bagian dari proses Allah membentuk karakter, integritas, dan tanggung jawab kita untuk mengambil bagian dalam pemerintahan Kristus di langit dan bumi yang baru. Karena itu, jangan memisahkan pekerjaan dan pelayanan. Jadikan kantor sebagai tempat kesaksian, usaha sebagai ladang pelayanan, rumah sebagai tempat menghidupi kasih Kristus, dan setiap tugas sebagai persembahan kepada Allah. Apa pun profesi kita, selama dilakukan dengan iman, kasih, dan integritas, pekerjaan itu menjadi ibadah yang berkenan kepada Tuhan.

Kiranya setiap kali kita mengucapkan doa, “Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya,” kita diingatkan bahwa Allah bukan hanya menyediakan kebutuhan kita, tetapi juga memanggil kita untuk bekerja dengan setia, mengelola berkat-Nya dengan bijaksana, serta memakai seluruh hidup kita bagi kemuliaan nama-Nya dan kemajuan Kerajaan-Nya.