Matius 4:12
Tetapi waktu Yesus mendengar, bahwa Yohanes telah ditangkap, menyingkirlah Ia ke Galilea.
Penangkapan Yohanes Pembaptis bukan sekadar peristiwa politik atau sosial. Itu adalah sebuah guncangan besar dalam dunia rohani pada saat itu. Yohanes adalah nabi yang bersuara lantang, pembawa pesan pertobatan, dan seseorang yang mempersiapkan jalan bagi Mesias. Banyak orang mengikuti dia, banyak yang bertobat melalui pelayanannya. Lalu tiba-tiba—ia ditangkap. Bagi banyak orang, ini bisa menjadi momen kekecewaan. Bagaimana mungkin seorang hamba Tuhan yang setia justru mengalami hal seperti itu? Di mana keadilan Tuhan? Mengapa Tuhan mengizinkan hal ini terjadi? Situasi seperti ini sering kali mengguncang iman. Ketika sesuatu yang kita anggap “baik” tiba-tiba berhenti. Ketika seseorang yang kita hormati jatuh atau disingkirkan. Ketika pelayanan yang sedang bertumbuh tiba-tiba terganggu. Kita mulai bertanya: apa yang sebenarnya sedang Tuhan lakukan?
Namun, di tengah peristiwa itu, Yesus tidak diam. Ia tidak terjebak dalam kebingungan atau ketakutan. Ia tidak mundur dalam arti menyerah. Ia justru mengambil langkah. Ia pergi ke Galilea dan memulai pelayanan-Nya. Di sinilah kita melihat prinsip rohani yang sangat dalam: ketika satu musim berakhir, Tuhan sedang membuka musim yang baru. Penangkapan Yohanes bukanlah akhir dari karya Tuhan. Itu adalah bagian dari transisi. Apa yang tampak seperti kehilangan, sebenarnya adalah ruang bagi sesuatu yang baru untuk dimulai.
Sering kali kita melihat perubahan sebagai ancaman. Kita merasa nyaman dengan apa yang sudah ada. Kita terbiasa dengan pola lama. Kita ingin segala sesuatu tetap seperti semula. Namun Tuhan adalah Allah yang terus bekerja, dan sering kali pekerjaan-Nya membawa kita keluar dari zona nyaman. Bayangkan jika para pengikut Yohanes hanya fokus pada kehilangan itu. Mereka bisa saja berhenti di situ, meratapi keadaan, kehilangan arah, dan tidak menyadari bahwa Mesias yang dijanjikan sudah mulai bergerak.
Bukankah ini juga yang sering terjadi dalam hidup kita? Kita terlalu terpaku pada apa yang telah hilang, sehingga kita tidak melihat apa yang sedang Tuhan mulai. Perubahan memang tidak mudah. Ia sering datang dengan rasa kehilangan—kehilangan rutinitas, kehilangan kenyamanan, bahkan kehilangan orang-orang yang kita kasihi. Namun iman mengajarkan kita untuk melihat lebih dalam, bahwa di balik setiap perubahan, ada tangan Tuhan yang sedang bekerja.
Yesus tidak hanya bereaksi terhadap situasi. Ia merespons dengan kesadaran akan rencana Allah. Ia tahu bahwa waktunya telah tiba. Apa yang Yohanes mulai, kini Ia lanjutkan. Apa yang dipersiapkan, kini digenapi. Ini menunjukkan bahwa pekerjaan Tuhan tidak bergantung pada satu orang saja. Tuhan memakai banyak orang, dalam musim yang berbeda, untuk menggenapi rencana-Nya. Yohanes memiliki perannya. Yesus memiliki peran-Nya. Dan setiap peran itu penting.
Dalam kehidupan kita, ada masa-masa di mana kita menjadi “Yohanes”—mempersiapkan, menabur, membangun dasar. Ada juga masa di mana kita dipanggil untuk menjadi “Yesus”—melanjutkan, menuai, dan menggenapi. Namun kita tidak selalu tahu kapan musim itu berubah. Itulah sebabnya kita memerlukan kepekaan rohani. Kita perlu belajar membaca waktu Tuhan. Tidak semua perubahan adalah sesuatu yang harus kita lawan. Kadang, itu adalah sesuatu yang harus kita terima dan jalani dengan iman.
Ada orang yang terus mencoba mempertahankan sesuatu yang sebenarnya sudah selesai. Mereka menolak perubahan karena takut akan ketidakpastian. Akibatnya, mereka terjebak di masa lalu dan kehilangan kesempatan untuk masuk ke dalam musim baru yang Tuhan sediakan. Tidak demikian dengan Yesus. Ia tidak mencoba “mengembalikan” Yohanes. Ia tidak melawan situasi secara emosional. Ia melangkah maju. Ini adalah sikap yang sangat penting: keberanian untuk melangkah ke depan, bahkan ketika kita belum sepenuhnya memahami apa yang akan terjadi. Iman bukan berarti kita tahu semua jawaban. Iman berarti kita percaya kepada Pribadi yang memegang masa depan kita.
Setiap perubahan membawa dua kemungkinan: kita bisa menjadi pahit, atau kita bisa bertumbuh. Kita menjadi pahit ketika kita terus melihat ke belakang dan berkata, “Seharusnya tidak begini.” Kita bertumbuh ketika kita melihat ke depan dan berkata, “Tuhan, apa yang Engkau sedang kerjakan sekarang?” Jangan hanya melihat apa yang hilang, tetapi lihat juga apa yang sedang Tuhan mulai. Mungkin ada “Yohanes” dalam hidup kita yang telah “ditangkap”—sesuatu yang kita andalkan, yang selama ini menjadi bagian penting dalam hidup kita, tetapi sekarang tidak ada lagi. Ingatlah, Tuhan tidak pernah berhenti bekerja. Bahkan ketika sesuatu berakhir, itu bukan berarti Tuhan selesai. Itu berarti Ia sedang mengalihkan fokus, membuka jalan baru, dan mengundang kita untuk ikut serta dalam pekerjaan-Nya yang berikutnya.