Anugerah Lawatan Tuhan

Mari kita memikirkan hal ini dengan serius. Kalau dulu tokoh-tokoh iman Perjanjian Lama seperti Abraham, Ishak, Yakub, Musa, Daniel bisa berdialog dengan Tuhan, hal itu karena Allah begitu nyata di dalam hidup mereka. Tetapi kita yang hidup di zaman Perjanjian Baru—dimana Roh Kudus dimeteraikan dalam diri kita, dan kita sering berkata: “Ia ada di dalam hatiku”—mengapa kita seperti tidak pernah mendengar Tuhan berbicara? Mengapa kita seperti tidak pernah berdialog dengan Dia, sehingga banyak suara Tuhan yang berlalu dan terlewatkan? Kalau kita mendengar pendeta berkhotbah bahwa dia mendengar suara Tuhan, itu kita anggap luar biasa. Padahal, itu standar normal orang percaya. Salah satu jawaban yang Tuhan berikan terkait pertanyaan mengapa kita tidak bisa berdialog dengan Tuhan dan tidak bisa mendengar suara-Nya adalah karena banyak suara yang kita tangkap. Begitu gaduh pikiran dan jiwa kita, sehingga kita tidak mendengar suara Tuhan. Kalau firman Tuhan mengatakan, “jika kau mendengar suara Tuhan hari ini, jangan keraskan hatimu.” Jangankan bisa tahu kehendak-Nya, mendengar suara-Nya pun sama sekali tidak.

Jika hal ini berlangsung terus, kita akan ditelan dunia. Banyak orang Kristen akan ditelan dunia. Maka, jangan kita membuka hati untuk suara-suara lain selain suara Tuhan. Banyaknya suara yang kita dengar, itu akan membuat pikiran kita menjadi keruh dan gaduh. Apa yang tidak perlu kita dengar, kita dengar; apa yang tidak perlu kita lihat, kita lihat; apa yang tidak perlu kita baca, kita baca, sehingga pikiran kita seperti benang kusut. Nanti kita akan mulai mengerti apa artinya “asupan yang mengacaukan.” Kalau kita nonton sesuatu di TV—entah berita, entah apa yang seharusnya tidak perlu kita dengar—hal itu dapat merusak kita. Kalau kita melihat pemandangan alam, kita melihat betapa cerdas dan cerdiknya hewan ciptaan Allah, kita menjadi kagum dan semakin menghormati Tuhan. Karena bagaimana hal itu bisa terjadi kalau bukan karena adanya satu Pribadi cerdas yang menciptakannya? Dunia ini penuh dengan masukan yang bisa membuat pikiran kita keruh atau rusak. Mari kita bertekad untuk tidak mengonsumsi sesuatu yang tidak perlu dalam pikiran kita, seperti percakapan yang tidak perlu, juga gadget kita yang penuh dengan masukan-masukan yang tidak perlu.

“Pada hari ini, jika kamu mendengar suara-Nya, janganlah keraskan hatimu seperti dalam kegeraman.” Seharusnya, kita bisa mendengar suara-Nya. Namun kalau sampai tidak mendengar suara-Nya, bayangkan betapa rusaknya kita. Mari, kita bukan hanya puasa tidak makan, kita juga puasa bicara; kalau tidak perlu, tidak usah bicara. Lalu kita juga puasa dari masukan-masukan dari gadget dan medsos kita agar pikiran kita bersih. Satu-satunya tujuan kita melakukan semua itu hanyalah agar kita tidak melewatkan lawatan Tuhan atas hidup kita. Tuhan pasti menanggapi semua dialog yang disampaikan oleh umat-Nya. Hanya saja kita tidak boleh mengatur tanggapan tersebut dengan keinginan dan waktu kita sendiri. Tuhan tidak mungkin tidak melawat orang yang mencari suara-Nya. 

Sebagai perbandingan, kita sering mendengar bagaimana seseorang menjalin persekutuan dengan kuasa kegelapan. Kuasa kegelapan tersebut dapat dengan aktif merespons dialog dan permintaan dari manusia yang mencarinya. Jika kuasa kegelapan yang derajatnya jauh di bawah Tuhan dapat dijumpai dengan nyata, apalagi Tuhan. Hanya saja, kita yang sering kali melewatkan lawatan dan sapaan Tuhan dalam kehidupan kita sehari-hari. Kita terbiasa mengabaikan lawatan Tuhan di gereja melalui pengkhotbah atau firman yang disampaikan karena sibuk memikirkan berbagai hal yang menyita pikiran kita. 

Kita terbiasa untuk melewatkan lawatan Tuhan melalui sesama kita yang membutuhkan pertolongan, karena kekhawatiran akan kekurangan. Ironisnya, kita melewatkan lawatan Tuhan dalam peristiwa hidup sehari-hari karena terlalu banyak bersungut-sungut dan kurang memperhatikan aspek didikan Tuhan melalui peristiwa tersebut. Sejatinya, Tuhan selalu rindu melawat setiap umat-Nya. Lawatan Tuhan harus direspons dengan hati dan pikiran yang siap. Oleh karenanya, betapa penting kita menyediakan bejana hati dan pikiran kita dari menit ke menit; jam ke jam; dan hari ke hari. Persiapan tersebut kita lakukan hanya untuk menyambut lawatan Tuhan dalam kehidupan kita. Tinggalkan hal-hal yang dapat mengganggu dan memenuhi pikiran kita. Lawatan Tuhan melalui berbagai hal dalam hidup kita adalah anugerah yang tidak ternilai. Jangan sampai kita melewatkan anugerah tersebut. Bayangkan apabila kita dapat menangkap lawatan-Nya, suara-Nya, isi hati-Nya setiap hari. Betapa berbahagianya hidup kita. Ini seharusnya menjadi sesuatu yang normal; standar. Jika Allah hidup, ia dapat ditemui, dan lawatan-Nya nyata bagi kita. Persiapkan seluruh keberadaan hidup–hati dan pikiran– untuk menyambut lawatan Allah setiap hari.

Setiap kita memiliki anugerah lawatan Tuhan. Dan kalau Tuhan melawat kita, hendaknya kita mengerti dan kita menerima lawatan Tuhan tersebut.