Saudaraku,
Di zaman para rasul yang berkaitan langsung dengan keberadaan jemaat mula-mula di Yerusalem, mereka mengalami kegairahan sejati. Roh Kudus telah dicurahkan, komunitas orang percaya hidup dalam persekutuan dan persatuan yang luar biasa. Alkitab menarasikan bagaimana keberadaan jemaat mula-mula di Yerusalem hidup dalam kepedulian, tiada berkekurangan di antara mereka. Jemaat yang menjual tanah, rumah dan harta benda benda lainnya semua hasilnya dipersembahkan kepada Tuhan dengan meletakkan hasilnya di depan para kaki rasul-rasul untuk dibagikan kepada jemaat yang membutuhkan.
Di tengah gelombang kasih yang melanda jemaat tersebut, muncul kisah pasangan suami-istri; Ananias dan Safira. Kisah Para Rasul 5: 1-11 mengisahkan Ananias dan Safira telah melihat serta menyaksikan bagaimana tulusnya jemaat menghormati para dermawan yang rela berbagi dengan sesamanya. Ketakjuban Ananias dan Safira melahirkan keinginan dalam hati untuk memperoleh penghormatan yang sama. Mereka bergegas untuk menjual sebidang tanah. Namun, di balik dinding pintu rumah mereka yang tertutup rapat ada bisikan yang menguji ketulusan hati mereka. “Kita berikan sebagian saja, tetapi kita katakan pada rasul-rasul bahwa ini adalah seluruh hasil penjualannya” mungkin demikianlah rencana mereka. Suami-istri ini telah sepakat berbuat demikian.
Saudaraku, persoalannya bukan di jumlah uang yang mereka serahkan, karena tanah tersebut milik mereka sendiri. Masalahnya terletak pada keinginan hati mereka sebagai dermawan untuk terlihat lebih suci daripada kenyataan sesungguhnya alias bersandiwara. Suatu konfrontasi yang tak terduga sebelumnya, ketika Ananias melangkah maju dengan penuh rasa percaya diri sebagai “dermawan yang tulus” berdiri di hadapan Petrus. Lalu menyerahkan uang tersebut sambal mengharapkan apresiasi dalam bentuk pujian dan ucapan terima kasih.
Namun, harapan dan kenyataan terasa berbeda, suasana pertemuan seketika berubah menjadi dingin. Petrus yang dipenuhi Roh Kudus, tidak terlena dengantumpukan uang yang ada, melainkan melihat dengan jelas kegelapan di hati Ananias; “Ananias, mengapa hatimu dikuasai Iblis, sehingga engkau mendustai Roh Kudus?” tanya Petrus. Kalimat tersebut ibarat petir menyambar di siang bolong. Petrus menegaskan bahwa Ananias tidak sedang membohongi manusia, melainkan membohongi Allah sendiri Allah Maha Tahu. Mendengar teguran keras tersebut, Ananias tersungkur lalu mati. Peristiwa tersebut menimbulkan ketakutan hebat atas jemaat.
Ketika Safira masuk tanpa mengetahui apa sebelumnya telah terjadi atas suaminya. Petrus menawarkan kesempatan emas dengan mengajukan pertanyaan, “Katakanlah kepadaku, dengan harga sekian kah tanah itu kamu jual?” Safira memiliki waktu berpikir untuk berkata sejujurnya akan persekongkolan dengan suaminya. Namun, Safira memilih untuk tetap berkomitmen atas kebohongan mereka seraya berkata “Betul, sekian.” Jawabannya singkat sekaligus kalimat terakhirnya lalu tersungkur dan mati.
Pesan penting bagi kita, kisah ini berakhir dengan catatan bahwa “sangat ketakutanlah seluruh jemaat yang ada.” Mereka menyadari bahwa di tengah kasih Allah yang melimpah, ada kekudusan yang tidak boleh diremehkan serta dipermainkan. Ananias dan Safira menjadi peringatan abadi bagi setiap orang percaya bahwa Allah Yang Maha Kuasa menghendaki kejujuran dalam keterbatasan daripada kesempurnaan dalam kepalsuan. Biarkan Roh Kudus memeriksa setiap sudut kegelapan dalam hati kita.
Teriring salam dan doa, Tim Penggembalaan Rehobot
Di tengah kasih Allah yang melimpah, ada kekudusan yang tidak boleh diremehkan serta dipermainkan.