Matius 6:12
“Dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami.”
Petikan ayat dalam Injil Matius 6:12 merupakan bagian dari rangkaian doa yang diajarkan oleh Tuhan Yesus kepada murid-murid-Nya. Jika membaca keseluruhan doa yang diajarkan-Nya, sesungguhnya Tuhan Yesus tidak sekadar memaparkan kalimat-kalimat doa, melainkan gaya hidup yang harus terimplementasi dalam kehidupan manusia, yakni orang-orang percaya. Ayat-ayat sebelumnya dalam pasal 6 Injil Matius telah mengokohkan bahwa doa yang diajarkan oleh Tuhan Yesus harus terwujud dalam perilaku, bukan sekadar kata, kalimat, atau narasi doa.
Matius 6:5 berkata, “Dan apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti orang munafik. Mereka suka mengucapkan doanya dengan berdiri di rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya, supaya mereka dilihat orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya.” Berdoa atau berdialog dengan Allah adalah gaya hidup orang-orang percaya. Ini merupakan ruang yang sangat pribadi antara orang percaya dengan Allahnya, tanpa perlu diketahui oleh siapa pun. Mengapa dikesankan adanya sikap munafik dalam urusan berdialog dengan Allah? Karena manusia memiliki potensi besar untuk bersikap tidak jujur di hadapan Tuhan. Oleh sebab itu, kita harus benar-benar waspada dan menjauhkan diri dari sikap munafik ketika berdialog dengan Tuhan dalam doa.
Jika Alkitab menyinggung adanya kemunafikan dalam berdoa, itu berarti potensi tersebut nyata terjadi di tengah orang-orang percaya. Kita perlu waspada terhadap diri kita sendiri agar tidak jatuh ke dalam kemunafikan tersebut. Kemunafikan—kepura-puraan, sandiwara, bertopeng, dan berwajah dua—sangat mungkin terjadi dalam kehidupan rohani. Inilah alasan mengapa pesan Tuhan Yesus dalam Matius 6:5 disampaikan kepada murid-murid-Nya pada waktu itu dan tetap relevan bagi orang-orang percaya pada masa kini.
Berdoa adalah berdialog antara kita dengan Allah, Bapa di surga. Sifatnya sangat pribadi dan mencerminkan relasi yang intim. “Masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu, dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi.” Pesan ini menegaskan bahwa doa adalah waktu pribadi seseorang dengan Allah. Lalu bagaimana ketika seseorang diminta berdoa untuk membuka ibadah yang dihadiri banyak orang? Di sinilah diperlukan kestabilan rohani orang percaya. Ingat, berdoa tetaplah berdialog dengan Allah dan bersifat pribadi. Berdoalah di hadapan orang banyak sebagaimana kita berdoa secara pribadi. Yang disampaikan bukan rangkaian kalimat doa, melainkan dialog dengan Allah.
Orang percaya perlu menghindari doa dengan maksud-maksud tertentu, misalnya menyampaikan kalimat doa yang terkesan akademis, ingin dianggap pintar berdoa, atau menyisipkan bahasa roh agar terlihat lebih rohani. Penulis tidak mengatakan bahwa berbahasa roh dalam doa itu salah, tetapi hal tersebut harus dilakukan dengan ketat dalam tuntunan Roh Kudus. Jangan sampai doa hanya menjadi sarana untuk tampil, membangun panggung, atau mencari popularitas, pengakuan, dan decak kagum pendengar. Berdoalah dengan hati, bukan sekadar dengan mulut. Ucapan doa harus sinkron atau sama dengan perilaku. Jika tidak, seseorang sedang menghabiskan waktu menaikkan doa yang tidak didengarkan oleh Allah.
Orang-orang percaya tentu menginginkan agar doa mereka didengar dan dikabulkan oleh Allah. Orang percaya adalah anak-anak Allah, dan Allah tentu mendengar percakapan anak-anak-Nya. Namun, ada hal penting yang perlu diperhatikan ketika kita berdoa kepada Allah, yakni kita harus berada dalam keadaan bersih, tidak menyimpan dosa atau pelanggaran. Yesaya 59:2 berkata, “Tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu.” Pernyataan nabi Yesaya, yang diilhami oleh Roh Kudus, memberikan peringatan yang serius ketika kita berurusan dengan Allah. Allah tidak dapat berdekatan dengan kejahatan dan dosa.