Skip to content

Allah Lebih dari Realitas

 

Allah adalah realitas yang selalu hadir di dalam kehidupan, waktu, tempat, ruang, dan persoalan-persoalan hidup kita. Allah sungguh-sungguh akan menjadi nyata bagi orang-orang yang benar-benar mau berurusan dengan Dia—orang-orang yang sungguh-sungguh rindu mengalami perjumpaan dengan Allah. Kita harus memercayai dan mengakui bahwa Allah lebih dari realitas yang dapat kita saksikan, raba, lihat, dan dengar. Allah telah ada dari kekekalan sampai kekekalan. Segala sesuatu dapat berlalu, tetapi Allah tetap sama.

Itulah sebabnya Allah lebih dari realitas. Ia telah ada sebelum segala dimensi yang dikenal manusia—baik dimensi waktu, ruang, maupun dimensi-dimensi lain—ada. Dialah yang menciptakan segala sesuatu dari yang tidak ada menjadi ada. Selama kita hidup, kita harus sungguh-sungguh mengalami perjumpaan dengan Dia. Tidak mungkin seseorang yang tidak pernah mengalami perjumpaan dengan Allah dapat menjadi anak Allah dan masuk sebagai anggota keluarga Kerajaan Allah.

Mengalami Allah yang hidup—memiliki pengalaman perjumpaan dengan Allah—bukanlah sesuatu yang opsional, melainkan suatu keniscayaan; sesuatu yang seharusnya terjadi dan berlangsung dalam hidup orang percaya. Jika hal itu tidak terjadi, itu adalah sebuah kemalangan. Makhluk lain, seperti hewan, tidak perlu mengalami perjumpaan dengan Allah. Tetapi manusia berbeda. Orang-orang yang menjalankan agama hanya dengan tata cara keberagamaan dapat hidup dalam praktik keagamaannya tanpa perjumpaan dengan Allah. Dan sayangnya, itulah yang telah menjadi standar bagi banyak orang beragama. Akibatnya, perjumpaan dengan Allah dipandang sebagai sesuatu yang luar biasa, padahal seharusnya itulah yang normal dan alami.

Faktanya, banyak teolog, pemimpin gereja, dan jemaat Kristen masih hidup dalam keberagamaan yang kosong. Mereka memiliki pengetahuan tentang Allah, tetapi tidak mengalami perjumpaan dengan Allah. Hidup kekristenan mereka dibangun dan didasarkan semata-mata pada doktrin yang mereka akui sebagai kebenaran. Ketika seseorang merasa telah memiliki pengetahuan tentang Allah, ia sering menganggap dirinya sudah mengalami perjumpaan dengan Allah. Jemaat pun berpikir, jika mereka telah mengetahui ajaran tentang Allah dan pergi ke gereja, itu sudah cukup sebagai perjumpaan dengan Allah.

Bahkan, sekalipun seseorang pernah mengalami mukjizat, hal itu belum tentu berarti ia telah mengalami perjumpaan dengan Allah. Perjumpaan dengan Allah adalah kehidupan yang berjalan bersama Allah secara terus-menerus, hidup dalam persekutuan yang nyata dengan Dia. Allah harus senyata pasangan hidup, senyata orang tua, senyata dokter yang memberi nasihat medis, senyata pengacara yang memberi nasihat hukum, dan senyata sahabat yang kita ajak bergaul. Jika Allah tidak senyata itu, maka ada sesuatu yang tidak beres—itu adalah sebuah kemelesetan.

Banyak orang Kristen—termasuk para teolog dan pemimpin gereja—sibuk dengan doktrin, tetapi tidak sibuk membangun perjumpaan konkret dengan Allah. Terlebih lagi, ketika seseorang telah menyandang gelar sarjana, magister, atau doktor teologi, ia sering merasa telah menjadi agen pengetahuan tentang Allah. Jemaat pun menganggap mereka sebagai orang-orang yang dapat dipercaya untuk membawa jemaat kepada Allah. Padahal, yang dimiliki sering kali hanyalah pengetahuan tentang Allah di dalam pikiran, bukan pengalaman perjumpaan dengan Allah. Jadi, jangan heran jika ada teolog, pendeta, atau rohaniwan yang jatuh dalam pelanggaran moral. Pengetahuan tentang Allah saja tidak cukup untuk membangun takut akan Allah yang sejati, karena Allah yang hanya ada di dalam pikiran tidak membuat seseorang gentar akan Allah secara proporsional. Tanpa perjumpaan yang nyata, hati manusia tidak dibentuk untuk takut akan Allah dengan benar.

Jika para pengajar berada dalam keadaan seperti itu, maka kekristenan yang kosong tersebut menjadi standar bagi gereja dan jemaat. Dan hal ini telah berlangsung dari abad ke abad—puluhan bahkan ratusan tahun. Akibatnya, gereja mengalami kemerosotan yang sangat tajam. Kita menyaksikan bagaimana kekristenan hampir punah di banyak negara Barat yang dahulu dikenal sebagai negara Kristen, penuh dengan teolog, seminari, dan sekolah tinggi teologi yang sangat terakreditasi dan akademis. Kita juga melihat kenyataan bahwa Allah membiarkan gereja termegah di dunia, Hagia Sophia, berubah menjadi rumah ibadah agama lain. Ini merupakan peringatan keras bahwa kekristenan yang hanya bersifat agamawi adalah sesuatu yang memuakkan dan mengecewakan hati Allah Bapa. Orang Kristen sibuk berdebat, saling menyerang, dan saling menyakiti, tetapi tidak hidup dalam perjumpaan yang benar dan nyata dengan Tuhan.