Pengkhotbah 3:1
“Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apa pun di bawah langit ada waktunya. Ada waktu untuk lahir, ada waktu untuk meninggal; ada waktu untuk menanam, ada waktu untuk mencabut yang ditanam; ada waktu untuk membunuh, ada waktu untuk menyembuhkan; ada waktu untuk merombak, ada waktu untuk membangun; ada waktu untuk menangis, ada waktu untuk tertawa.”
Kita ada dalam perjalanan waktu dan untuk segala sesuatu ada waktunya. Maka, mumpung kita masih punya kesempatan, carilah Tuhan dengan sungguh-sungguh, sebagaimana dikatakan dalam Pengkhotbah 12:1, “Ingatlah akan Penciptamu pada masa mudamu. Sebelum tiba hari-hari yang malang dan mendekat tahun-tahun yang kau katakan, ‘tak ada kesenangan bagiku di dalamnya.’” Masa muda mencakup seluruh fase awal kehidupan, sejak usia dini. Kata “ingat” dalam bahasa Ibrani zakor (זָכַר), artinya mempertimbangkan, bukan hanya memunculkan tentang Tuhan di dalam memori kita, namun memiliki pertimbangan akan Tuhan. Maka, kita harus belajar untuk mencari dan mengenal siapa Pencipta kita. Berbeda dengan hewan yang tidak pernah mempertanyakan siapa penciptanya.
Dunia serba tidak menentu—tiba-tiba bisa pecah perang, bencana, epidemi—kalau terjadi begitu, kita mau apa? Manusia bisa apa? Rumah-rumah terbakar seperti kertas. Dan pada akhirnya, dunia akan menjadi lautan api. Namun banyak orang tidak percaya dan tidak peduli. Sama seperti pada zaman Nuh, orang tidak percaya akan ada air bah. Sejatinya, ini adalah masalah besar. Oleh sebab itu, pertimbangkan Penciptamu sejak dini atau pada masa mudamu, sebelum tiba hari-hari yang malang dan mendekat tahun-tahun yang kau katakan, “Tak ada kesenangan bagiku di dalamnya.” Perhatikan, kalau kita serius memikirkan hal ini, maka masalah lain tidak akan menggerogoti jiwa kita. Apakah itu masalah jodoh, keluarga, bisnis atau masalah apa pun.
Ayat 2-3, “Sebelum matahari dan terang, bulan dan bintang-bintang menjadi gelap, dan awan-awan datang kembali sesudah hujan. Pada waktu penjaga-penjaga rumah gemetar, dan orang-orang kuat membungkuk, dan perempuan-perempuan penggiling berhenti karena berkurang jumlahnya, dan yang melihat dari jendela semuanya menjadi kabur.” Ini adalah keadaan yang sangat mengerikan. Namun, jika kita bersahabat dengan Tuhan, sekalipun dunia berakhir, kita akan dibawa ke Rumah Bapa.
Ayat 4-7, “Dan pintu-pintu di tepi jalan tertutup, dan bunyi penggilingan menjadi lemah, suara menjadi seperti kicauan burung, dan semua penyanyi perempuan tunduk, juga orang menjadi takut tinggi, dan ketakutan ada di jalan. Pohon badam berbunga, belalang menyeret dirinya dengan susah payah, dan nafsu makan tak dapat dibangkitkan lagi, karena manusia pergi ke rumahnya yang kekal, dan peratap-peratap berkeliaran di jalan. Sebelum rantai perak diputuskan dan pelita emas dipecahkan, sebelum tempayan dihancurkan dekat mata air dan roda timba dirusakkan di atas sumur, dan debu kembali menjadi tanah seperti semula dan roh kembali kepada Allah yang mengaruniakannya.”
Pertanyaannya apakah ada akhir kehidupan? Sebenarnya tidak ada. Yang ada adalah akhir kehidupan di bumi, tetapi roh manusia dalam kesadaran akan masuk kemuliaan kekal atau kehinaan kekal. Maka, Alkitab berkata, “bukan tanpa alasan roh yang ditempatkan dalam diri kita, diingini dengan cemburu.” Allah ingin roh ini kembali kepada-Nya.
Ayat 13-14, “Akhir kata dari segala yang didengar ialah: Takutlah akan Allah dan berpeganglah pada perintah-perintah-Nya, karena ini adalah kewajiban setiap orang. Karena Allah akan membawa setiap perbuatan ke pengadilan yang berlaku atas segala sesuatu yang tersembunyi, entah itu baik, entah itu jahat.”
Jadi, pembaringan terakhir atau akhir kehidupan, sebelum seseorang menutup mata, merupakan situasi yang paling dahsyat dari segala situasi yang pernah dialami seseorang dalam hidup. Tidak ada pengalaman yang lebih menggetarkan dari ketika seseorang hendak melepaskan nyawa. Jadi momentum transisi dari kefanaan menuju kekekalan, itu momentum yang sangat dahsyat. Kita tidak tahu momentum itu kapan dan berapa lama. Momentum ini tidak dapat dihadapi dengan sikap sembarangan. Persiapannya memerlukan waktu yang panjang.
Kalau hanya masalah ekonomi yang ambruk, kegagalan studi, kegagalan rumah tangga, itu masih bukan masalah dibandingkan dengan ini. Jadi, ketika seseorang hendak bersentuhan dengan kekekalan, sementara ia tidak siap menghadapi kekekalan itu, itu sangat mengerikan. Kengerian dan ketakutan dalam situasi tersebut tidak pernah dialami sebelumnya. Itulah sebabnya Tuhan Yesus berkata, “Jangan takut terhadap apa pun yang dapat membunuh tubuh. Tapi takutlah kepada Allah yang bukan saja berkuasa membunuh tubuhmu, tetapi juga membuangnya ke dalam api kekal.” Untuk itu, kita harus terus menjalani hidup dengan kesadaran bahwa ada ujung perjalanan ini. Dan kalau kita menjalani hidup hari ini, sesungguhnya hanya untuk persiapan kekekalan nanti.