Skip to content

Ada Kemungkinan

 

Jadi, manusialah yang harus diubah. Mengubah manusia dari kodrat dosa ke kodrat ilahi membutuhkan waktu yang panjang. Pertaruhannya adalah segenap hidup tanpa batas. Dalam Kolose 1:21 dinyatakan bahwa tindakan manusia yang tidak taat kepada Allah merupakan sikap memusuhi Allah. Memang, oleh kurban Yesus kita diperdamaikan, tetapi perdamaian itu tidak terwujud secara otomatis. Harus ada langkah dari dua pihak. Ketika Yesus mati di kayu salib bagi kita, itu merupakan proses pendamaian secara pasif bagi kita. Bahkan ketika kita masih seteru, kita sudah diperdamaikan. Kita belum lahir, Yesus sudah menyediakan pendamaian itu. Namun, setelah kita hadir sebagai manusia, kita harus memilih.

Banyak orang menjadi Kristen sejak kecil karena orang tuanya beragama Kristen. Sesungguhnya, mereka menjadi Kristen tanpa memilih. Dalam pengertian ini, mereka belum menjadi Kristen yang sejati. Jika orang tua dapat memberikan teladan bagaimana mengikut Yesus dengan meneladani hidup-Nya, bahkan sampai pada tingkat menderita bagi Tuhan, barulah anak melihat bahwa kehidupan seperti ini tidak bisa diikuti secara otomatis. Anak harus berjuang untuk memiliki hidup dan mengikut Yesus dengan benar.

Dari pihak Allah, semuanya telah dilakukan. Allah sudah memulai. Bapa menyelesaikannya di Bukit Golgota dengan mengutus Putra-Nya sebagai jalan pendamaian. Namun, dari pihak manusia juga harus ada langkah atau tindakan konkret untuk mewujudkan pendamaian itu. Dalam Kolose 1:19–23 dikatakan: “Karena seluruh kepenuhan Allah berkenan diam di dalam Dia, dan oleh Dialah Ia memperdamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya, baik yang ada di bumi maupun yang ada di sorga, sesudah Ia mengadakan pendamaian oleh darah salib Kristus. Juga kamu yang dahulu hidup jauh dari Allah dan yang memusuhi-Nya dalam hati dan pikiran seperti yang nyata dari perbuatanmu yang jahat, sekarang diperdamaikan-Nya di dalam tubuh jasmani Kristus oleh kematian-Nya, untuk menempatkan kamu kudus dan tak bercela dan tak bercacat di hadapan-Nya. Sebab itu kamu harus bertekun dalam iman, tetap teguh dan tidak bergoncang, dan jangan mau digeser dari pengharapan Injil, yang telah kamu dengar dan yang telah dikabarkan di seluruh alam di bawah langit, dan yang aku ini, Paulus, telah menjadi pelayannya.”

Dari ayat ini jelas terlihat adanya kemungkinan seseorang “digeser” dari pengharapan Injil apabila ia tetap mengasihi dunia dan hidup dalam daging. Hal ini sejalan dengan Yakobus 4:4, “Hai kamu, orang-orang yang tidak setia! Tidakkah kamu tahu bahwa persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah? Jadi, barangsiapa hendak menjadi sahabat dunia ini, ia menjadikan dirinya musuh Allah.” Jika saat ini kebahagiaan kita masih bertumpu pada materi dunia, berarti kita menjadikan diri kita musuh Allah. Orang yang hidup untuk memuaskan keinginannya sendiri sedang membangun persahabatan dengan dunia dan permusuhan dengan Allah. Itulah yang disebut hidup dalam daging.

Roma 8:7 mengatakan, “Sebab keinginan daging adalah perseteruan terhadap Allah, karena ia tidak takluk kepada hukum Allah; hal ini memang tidak mungkin baginya.” Jika kita masih mengikuti keinginan daging, kita menjadikan diri kita musuh Allah. Jangan mengatakan bahwa kita sudah diperdamaikan dengan Allah. Proses mematikan daging, ambisi, dan hawa nafsu bukanlah perkara mudah. Namun, melalui perjalanan waktu dan komitmen yang makin bulat, hal itu dapat dikerjakan—meskipun kadang masih belum stabil. Semakin kita menjadi serupa dengan Yesus, semakin kita dapat berdamai dengan Allah. Standar untuk berdamai dengan Allah adalah Yesus sendiri. Karena keinginan daging adalah perseteruan terhadap Allah, maka daging itu harus dimatikan.

Orang yang mudah marah, ingin memukul orang lain, apalagi merasa kuat, mengancam, ingin memenjarakan orang, dan bangga dapat menyakiti sesama, adalah orang yang tidak berdamai dengan Allah. Ironisnya, hal-hal seperti ini bisa terjadi di lingkungan gereja, bahkan di antara para majelis dan pendeta. Karena itu, kita belajar: ketika kita disakiti, kita diam; ketika kita difitnah, kita diam; ketika kita dibully, kita diam. Mengapa demikian? Karena kita ingin berdamai dengan Allah. Jika kita terpancing untuk marah dan membalas dendam, kita justru menjadikan diri kita musuh Allah.