Skip to content

Ada di Pihak Tuhan

 

Kita harus curiga terhadap hal-hal tertentu yang dulu biasa kita lakukan, karena jangan-jangan hal itu tidak berkenan di hadapan Allah. Jangan-jangan itu merupakan suatu kesalahan atau ketidaktepatan di hadapan Allah. Tentu tidak terus-menerus demikian, sebab pada akhirnya kita akan menjadi dewasa dan mampu membedakan apa yang baik, yang berkenan, dan yang sempurna. Kehidupan orang yang meyakini bahwa Allah itu ada pasti menjadi berbeda. Kita dapat menjadi orang yang berbeda dari orang lain, karena perilaku kita, tingkah laku kita, cara berkomunikasi, dan emosi kita juga berbeda. Dahulu kita begitu akrab dengan orang-orang tertentu, tetapi ketika kita mulai bergaul dengan Allah, kita menjadi seperti “paranoid” terhadap dosa. Kita tidak mau lagi menyentuh dosa.

Sekarang mungkin ada di antara kita yang memiliki persoalan—masalah pasangan hidup, ekonomi, anak, keluarga besar, pekerjaan, atau berbagai masalah lain. Mungkin juga saat ini kita sedang terancam oleh suatu bahaya tertentu. Percayalah, ada Allah yang hidup. Cobalah merapat kepada Tuhan. Jika kita dapat merapat kepada-Nya, percayalah bahwa Tuhan itu hidup dan pasti menolong kita. Tidak mungkin Tuhan tidak menolong kita. Tuhan akan melindungi kita. Tuhan tidak pernah meninggalkan kita. Tuhan pasti menopang kita. Melalui pemberitaan firman ini, kita harus semakin dikuatkan. Kita harus percaya bahwa di balik semua yang kelihatan ini ada Allah yang nyata, Allah yang hidup, Allah yang Mahahadir. Karena itu kita tidak boleh takut. Jika kita takut dan khawatir secara berlebihan, kita seperti melecehkan Allah. Kita seakan menghina kekuasaan-Nya dan meremehkan kuasa-Nya, padahal Allah itu kuat dan berkuasa.

Jika kita berkata, “Mengapa saya sulit yakin?” hal itu biasanya karena kita tidak hidup sesuai dengan kehendak-Nya. Kesucian berkaitan erat dengan keyakinan akan keberadaan Allah. Jika kita yakin bahwa Allah itu ada, kita pasti akan berusaha hidup suci. Iman kita pun menjadi kokoh. Ketika iman kita kokoh, kita tidak takut menghadapi keadaan apa pun. Dan Allah yang memerintah itu pasti akan campur tangan dalam persoalan hidup kita. Jika kita benar-benar hidup sebagai anak-anak Allah yang baik—yang hidup suci dan berkenan di hadapan-Nya—maka Allah pasti akan membela kita.

Karena itu kita harus sering “melirik” hati Tuhan dan bertanya, “Tuhan, apakah Engkau di pihakku?” Bahkan sebenarnya pertanyaannya justru harus dibalik: “Aku berada di pihak siapa sekarang?” Jika kita tidak berada di pihak Allah, jangan berharap Allah berada di pihak kita. Tetapi jika kita hidup di pihak Allah, Allah pasti berada di pihak kita. Lalu bagaimana kita dapat hidup di pihak Tuhan? Pertama, jelas dengan hidup suci—hidup tidak bercacat dan tidak bercela. Kedua, melakukan apa yang Allah kehendaki untuk kita lakukan, yaitu menolong sesama yang membutuhkan. Tuhan akan mempertemukan kita dengan orang-orang yang perlu kita tolong. Melalui hal itu Tuhan mengajar kita untuk berada di pihak-Nya.

Karena itu bersyukurlah jika Tuhan sering membawa kita kepada keadaan-keadaan yang merepotkan—bertemu dengan orang-orang yang menyusahkan atau membutuhkan pertolongan. Mungkin dahulu kita sering mengeluh, tetapi sekarang kita mulai mengerti bahwa ada maksud Tuhan di balik semua itu. Tuhan sedang memberi kesempatan kepada kita untuk menyenangkan hati-Nya. Kitalah yang harus bertanya, “Tuhan, sebenarnya Engkau menghendaki apa dalam hidupku yang dapat menyenangkan Engkau?”

Yang ketiga, kita harus berusaha menolong orang lain agar mereka juga hidup seperti kita—hidup takut akan Allah, mengasihi Tuhan, dan tidak mencintai dunia. Bukankah ini sesuatu yang luar biasa? Jika Tuhan masih mengizinkan kita hidup hari ini, menerima firman-Nya, dan semakin yakin bahwa Allah itu ada, maka kita harus bertumbuh dalam keyakinan tersebut. Tidak ada seorang pun yang berharap kepada Tuhan lalu diabaikan. Tidak ada. Tuhan pasti memperhatikan. Namun ingat, kita harus berada di pihak Tuhan. Jangan hidup semaunya sendiri. Kita harus hidup sesuai dengan kehendak Allah. Jika Tuhan berada di pihak kita dan membela kita, tidak ada lawan yang dapat mengalahkan kita. Karena itu kita harus berada di pihak Tuhan: hidup suci, menolong orang-orang di sekitar kita yang membutuhkan pertolongan, dan berusaha menolong orang lain supaya mereka juga hidup takut akan Allah seperti kita.