Skip to content

Ada Asa di Balik Ucapan Syukur

 

Setiap manusia tentu memiliki harapan atau cita-cita yang baik, indah, dan menyenangkan. Namun di sisi lain, kita harus sadar dan menerima kenyataan bahwa harapan tidak selalu terwujud seperti yang kita inginkan. Memang ada asa yang menjadi nyata, tetapi tidak sedikit pula yang meleset dari tujuan. Hal ini berlaku bagi semua orang, termasuk orang percaya. Kita berharap awan hitam segera berlalu, tetapi yang datang justru badai. Hidup tidak selalu seindah warna aslinya. Namun, kita bersyukur sebab iman percaya kita kepada Allah tidak dibayangi keraguan, apalagi ditutupi kecurigaan terhadap penyertaan-Nya. Haleluya, puji Tuhan! Di balik pekatnya awan, ternyata selalu ada pelangi yang indah. Di balik peristiwa yang menakutkan, selalu ada penyertaan dan pelajaran hidup yang berharga yang Allah sediakan. Kiranya Allah membukakan mata rohani kita agar mampu melihat rencana besar-Nya di balik setiap peristiwa kehidupan orang percaya.

Coba kita renungkan: apa yang menjadi pergumulan hidup kita sepanjang tahun 2025? Jika hari ini kita masih dapat membaca renungan ini, itu sudah menjadi bukti nyata penyertaan Allah dalam hidup kita. Jangan pernah meragukan Allah. Jangan mencurigai-Nya, apalagi berhenti percaya kepada-Nya. Kita adalah biji mata-Nya, harta kekal-Nya. Ia pasti menjaga, melindungi, dan membela anak-anak-Nya dengan cara-Nya yang ajaib. Jangan hidup di masa lalu dengan beban nostalgia yang tidak akan pernah terulang. Jangan biarkan diri terus terintimidasi oleh peristiwa yang memalukan atau kegagalan yang telah terjadi. Datanglah kepada Tuhan, memohon pengampunan dan penyertaan-Nya. Ia pasti memberikan pengampunan atas setiap kesalahan kita. Mari kita bertekad untuk tidak mengulanginya dan berkomitmen untuk hidup lebih baik lagi.

Allah tidak berurusan dengan masa lalu yang sudah kita selesaikan bersama-Nya, seburuk apa pun itu. Ia berurusan dengan hidup kita hari ini—dengan bagaimana kita mengukir masa depan bersama-Nya. Seperti yang dikatakan Rasul Paulus dalam Filipi 3:13–14: “Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan surgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.” Ampunilah diri sendiri sebagaimana Allah telah mengampuni dosa-dosa masa lalu yang sudah diselesaikan. Jangan hidup untuk masa lalu. Jangan biarkan Iblis menakut-nakuti kita dengan kesalahan yang seolah belum diampuni.

Kita percaya bahwa ketika kita mengaku dosa di hadapan Tuhan dan berkomitmen untuk tidak mengulanginya, Allah yang setia dan adil akan mengampuni kesalahan kita dan melupakan pelanggaran itu. Maka, hiduplah sesuci-sucinya dan sekudus-kudusnya sebagai wujud komitmen kita kepada Tuhan. Mungkin komitmen yang kita buat di awal tahun 2025 mulai pudar seiring berjalannya waktu. Namun kini, ketika kita sebentar lagi memasuki tahun yang baru—tahun 2026—marilah kita memperbarui kembali tekad dan hati kita. Dengan memahami dan menghidupi kehendak Allah untuk tetap bersyukur, kita akan bersemangat menapaki tahun yang baru, meski penuh misteri dan ketidakpastian.

Tahun yang penuh misteri ini bukan berarti kita hidup tanpa arah atau makna. Justru, ketika seseorang memahami kehendak Allah dan melakukannya, ia tahu bahwa ia tidak berjalan sendiri. Ia percaya penyertaan Allah tidak pernah absen dalam setiap langkah hidupnya. Jika Allah telah menyertai kita sepanjang tahun 2025, maka penyertaan-Nya akan terus nyata di tahun-tahun berikutnya—sampai di penghujung tahun, bahkan sampai pada ujung kehidupan.

Mari kita tinggalkan dan syukuri seluruh perjalanan di tahun 2025, sambil menatap tahun 2026 dengan hati yang penuh keyakinan akan penyertaan Allah yang tidak pernah berubah.