2 Timotius 3:1-5, “Ketahuilah bahwa pada hari-hari terakhir akan datang masa yang sukar. Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang. Mereka akan membual dan menyombongkan diri, mereka akan menjadi pemfitnah, mereka akan berontak terhadap orang tua dan tidak tahu berterima kasih, tidak memedulikan agama, tidak tahu mengasihi, tidak mau berdamai, suka menjelekkan orang, tidak dapat mengekang diri, garang, tidak suka yang baik, suka mengkhianat, tidak berpikir panjang, berlagak tahu, lebih menuruti hawa nafsu daripada menuruti Allah. Secara lahiriah, mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakikatnya mereka memungkiri kekuatannya. Jauhilah mereka itu.”
Jadi pada saat itu, agama masih eksis, keyakinan kepada Tuhan masih ada. Namun mereka memungkiri esensi, inti dari ibadah. Sama seperti keadaan kita sekarang, bukan? Maka, pertanyaan untuk kita hari ini, apakah kita sudah bersih dari virus mencintai diri sendiri, hamba uang, tidak jujur, menyombongkan diri, pemfitnah, dan lainnya? Apakah kita sudah sungguh-sungguh memeriksa hidup kita? Mungkin kita berkata, “Hidup saya jauh dari hal-hal ini.” Secara label, mungkin kita tidak merasa memilikinya. Apalagi jika kita sebagai rohaniwan, sebagai pendeta. Label-label ini adalah label-label yang negatif. Kita tidak mau memiliki label ini. Egois, hamba uang, pemfitnah, berontak terhadap orang tua, tidak tahu berterima kasih, tidak tahu mengasihi, tidak mau berdamai, dan seterusnya.
Kalau bukan oleh pimpinan Roh Kudus, kita bisa tidak menyadari bahwa kita sebenarnya terpapar oleh virus kefasikan dunia ini. Dan kita harus mempersiapkan diri kita menghadapi dunia yang terus bergerak, terus berubah. Sesuai dengan apa yang dikatakan Tuhan Yesus sendiri dalam Matius 24 bahwa dunia semakin jahat. Dan karena bertambahnya kejahatan, kasih kebanyakan orang menjadi dingin. Kita mengkhotbahkannya, kita mengajarkannya kepada orang lain, tetapi pernahkah kita bertanya kepada diri kita sendiri, introspeksi dengan jujur, apakah kita memiliki kasih seperti yang Tuhan Yesus kehendaki kita miliki? Kasih standar Tuhan. Jika tidak, berarti kita terpapar dengan virus ini: cinta diri sendiri atau egois, menjadi hamba uang, ada kesombongan, tidak tulus, tidak mau berdamai, artinya tidak bisa mengampuni orang. Kalau sudah sakit hati, sudah dendam, tidak bisa mengampuni.
Jangan kita anggap itu adalah hal naif. Justru ini yang prinsip, yang semua ini dirangkai dengan satu kata: kasih. Mari kita jujur untuk mengoreksi diri sendiri dan mohon Roh Kudus menerangi kita. Siapa yang sadar kalau dirinya itu sombong? Siapa yang sadar bahwa dirinya tidak tulus? Siapa yang sadar kalau dia sukar mengampuni orang? Mari kita kembali kepada apa yang paling prinsip dalam hidup pelayanan kita, apa tujuan pelayanan kita? Bukankah tujuan pelayanan kita pada dasarnya adalah mengubah, mengembalikan manusia ke rancangan Allah semula?
Ironis, jarang kita menemukan orang yang makin tinggi gelarnya, makin rohani. Rohani artinya orang yang hidup dalam kekudusan, yang fokusnya adalah langit baru bumi baru, dan tidak terikat keindahan dunia. Rendah hati, lemah lembut, rela berkorban untuk orang lain, apa pun ia persembahkan bagi Tuhan tanpa batas. Tetapi kenyataan yang kita temukan, makin tinggi gelarnya, makin tidak rohani. Mari kita melihat dunia yang sedang terpapar oleh berbagai virus dosa dan kejahatan, yang tergiring ke dalam kegelapan abadi. Ingat, kita harus jadi hamba-hamba Tuhan yang rohani. Jangan makin tinggi gelar kita, makin sombong, makin angkuh, makin arogan. Bisa bicara, tetapi tidak memancarkan pribadi Kristus.
Coba renungkan satu hal ini: seandainya Tuhan Yesus datang ke dunia hari ini, puaskah Tuhan dengan hidup kita? Pelayanan tidak harus berkhotbah di mimbar. Kalau kita tidak bisa pergi ke pulau-pulau jauh, uang kita yang bisa membawa hamba-hamba Tuhan ke pulau-pulau yang jauh, dan kita menanam saham kekal di situ. Merekalah, yang menjadi perpanjangan tangan kita. Menyongsong hari esok, masalah dunia bukan hanya demografi. Masalah yang lebih besar adalah kejahatan manusia yang bertambah-tambah, dan membawa orang menuju kebinasaan. Tetapi bagaimana kita bisa mengubah orang lain, kalau kita sendiri belum berubah? Bagaimana mahasiswa bisa berubah, kalau dosen-dosennya tidak berubah?
Bagaimanapun, tidak bisa ditutupi apakah orang itu rohani atau tidak. Ingat, yang rohani adalah orang yang hidup kudus, fokus langit baru bumi baru, tidak terikat dunia, rela berkorban apa pun untuk pekerjaan Tuhan, hidupnya tidak melukai, tidak menyakiti sesama, dan pasti bisa dirasa oleh sesama. Jadi, menjadi tantangan kita semua untuk memiliki kehidupan rohani yang betul-betul baik. Sebab, kalau kita memiliki pikiran dan perasaan Kristus, maka di mana pun kita hadir, kita menulari sesama. Tidak bisa tidak.
Kalau bukan oleh pimpinan Roh Kudus, kita bisa tidak menyadari bahwa kita sebenarnya terpapar oleh virus kefasikan dunia ini.