Skip to content

Kebenaran Keberadaan Allah

Saudaraku,

Banyak orang Kristen yang tidak mengerti, sampai tidak sanggup mengenakan hidup kekristenan yang sejati. Padahal, betapa istimewanya kita menjadi umat pilihan. Artinya, menjadi umat yang diberi kesempatan untuk menjadi anak-anak Allah. Bayangkan, selama bertahun-tahun kita berpikir bahwa karena kita mengaku dan merasa percaya Yesus, kita sudah menjadi anak-anak Allah tanpa mempersoalkan apakah kita benar-benar sudah berkeberadaan sebagai anak-anak Allah atau belum. Gereja dan banyak pendeta sangat toleransi—dengan toleransi yang salah—sehingga menjadi bentuk konformisme, bentuk penyesuaian dengan dunia.

Dan kekristenan yang dikenakan adalah kekristenan yang sebenarnya palsu. Tapi dengan berbagai alasan doktrinal, terjadi pembenaran-pembenaran. Kekristenan dirangkai, diformat dalam sistematika, dogmatika. Dan seakan-akan kalau seseorang memahami doktrin yang diakui, diklaim benar, dia sudah jadi Kristen yang benar. Tetapi kalau seseorang tidak memiliki doktrin yang diklaim benar, otomatis dicap sesat; artinya bukan jadi anak-anak Allah. Ukuran yang dipakai hanya sebatas pada penalaran. Betapa miskinnya keadaan ini.

Kekristenan yang sejati tidak demikian, Saudaraku. Kekristenan adalah jalan hidup. Jelas bukan jalan hukum; namun hidup-Nya Yesus. Sampai akhirnya mestinya kita berani berkata, entah apa yang kamu rumuskan dan pahami tentang Tuhan, tapi perilakumu harus agung seperti Yesus.” Dan perilaku itu harus benar-benar membuktikan bahwa kamu adalah anak-anak Allah, yaitu kehidupan yang tidak bercacat, tidak bercela. Pasti tidak melukai sesama, murah hati, penuh belas kasihan, penuh pengampunan, penuh perhatian kepada sesama. Jangan banyak bicara, tetapi buktikan bahwa perilaku kita adalah perilaku anak-anak Allah.

Karena kebenaran keberadaan Allah harus dibuktikan dari kehidupan orang percaya. Bagaimana Allah yang disembah, hidup di dalam dirinya. Bagaimana menghidupkan Allah di dalam hidup kita. Jangan kita memberi tekanan yang lain, sehingga terjadi penyimpangan, ketidaktepatan, atau kemelesetan. Makanya, bukan sebuah pernyataan yang tidak berdasar bahwa orang harus bersentuhan dengan Allah. Maka sekarang yang kita lakukan adalah mencari Tuhan. Kita tanya pada diri kita sendiri, ‘apakah saya sudah hidup di hadapan Tuhan?’ Sering kali, kalau kita sudah keluar dari gereja, kita merasa sudah ‘bebas’ dari lingkupan hadirat Allah. Padahal sejatinya, kita harus ada di hadirat Tuhan setiap saat, karena Allah Maha Hadir.

Sebab begitu kita percaya Yesus, kita punya perjanjian dengan Dia, ada covenant. Perjanjiannya apa? Tinggalkan dunia. Jangan menyenangi dunia, jangan menikmati hiburan dunia, dan jangan berbuat dosa. Tapi kalau kita kompromi, “bolehlah sedikit,” itu yang membuat kita akhirnya tidak bertumbuh secara benar. Ingat, seesorang yang digigit zombie jadi zombie. Jadi kalau kita ‘digigit’ Roh Kudus mestinya kita menjadi anak-anak Allah. Tapi seberapa banyak ‘gigitan’ itu? Seberapa banyak kita menjadi carang yang menempel pada pokok anggur untuk menerima atau meneguk air kehidupan?

Begitu menjadi umat pilihan, tujuan kita hanya satu, yaitu berubah menjadi serupa dengan Yesus, dan tidak boleh menyimpang. Sebab menjadi serupa dengan Yesus artinya bukan hanya hidup kudus tidak bercela, tetapi menjadi anggur yang tercurah dan roti yang terpecah. Maka, kalau kita mengakui bahwa setiap waktu kita adalah milik Tuhan, berarti itu adalah proses pendewasaan. Kita tidak akan pernah menyesal, Saudara. Sebab kehidupan yang sesungguhnya itu adalah kehidupan nanti di langit baru bumi baru, bukan hari ini. Jadi, tidak ada ruangan untuk diri kita sendiri. Semua harus diarahkan untuk Tuhan. Kita harus kerja, bisnis, cari uang sebanyak-banyaknya, tetapi kita harus peka. Untuk apa harta, waktu, tenaga dan pikiran kita? Kita harus mendengar Tuhan bicara, supaya kita memiliki bagian dalam pekerjaan Tuhan.

Teriring salam dan doa,

Pdt. Dr. Erastus Sabdono

Kebenaran keberadaan Allah harus dibuktikan dari kehidupan orang percaya.