Skip to content

Pergilah Membawa Damai Sejahtera

 

Yesus berkata kepada kedua belas murid itu, “Apabila kamu masuk kota atau desa, carilah di situ seorang yang layak dan tinggallah padanya sampai kamu berangkat.” Kemudian, ketika masuk ke sebuah rumah, mereka harus memberi salam kepada rumah itu. Kalimat ini tampaknya sederhana. Namun, di baliknya terdapat gambaran penting mengenai bagaimana seorang utusan Kristus seharusnya hadir di tengah dunia. Murid-murid tidak diutus hanya untuk membawa sebuah informasi. Mereka diutus untuk membawa berita Kerajaan Allah. Kehadiran mereka seharusnya menjadi kesempatan bagi manusia untuk mendengar bahwa Allah sedang bertindak dan manusia dipanggil untuk merespons-Nya. Karena itu, pelayanan Kristen tidak boleh hanya berbicara tentang apa yang kita katakan, tetapi juga tentang bagaimana kita hadir di tengah kehidupan orang lain.

Yesus berkata, “Kamu telah menerima dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma.” Prinsip ini sangat penting. Pelayanan dimulai dari kesadaran bahwa kita sendiri adalah penerima anugerah. Kita tidak datang kepada orang lain sebagai orang yang lebih baik, lebih suci, atau lebih layak. Kita datang sebagai orang yang terlebih dahulu menerima kasih karunia. Orang yang sadar bahwa hidupnya adalah anugerah akan lebih mudah menghadirkan anugerah. Sebaliknya, ketika pelayanan kehilangan kesadaran akan kasih karunia, pelayanan dapat berubah menjadi arena untuk mencari pengakuan. Kita mulai ingin dihargai, dipuji, dianggap penting, bahkan merasa bahwa pelayanan orang lain harus mengikuti cara kita. Yesus justru mengajarkan murid-murid untuk pergi dengan kesederhanaan. Mereka tidak boleh menjadikan pelayanan sebagai kesempatan untuk mendapatkan keuntungan pribadi.

Di sinilah pelayanan menjadi kesaksian. Dunia tidak hanya membutuhkan orang Kristen yang pandai berbicara tentang Kristus. Dunia membutuhkan orang Kristen yang membawa karakter Kristus dalam kehadirannya. Di rumah, apakah kehadiran kita membawa damai atau justru ketegangan? Di tempat kerja, apakah kehadiran kita membuat orang lain merasa dihargai atau justru tertekan? Di gereja, apakah pelayanan kita membangun orang lain atau membuat mereka merasa tidak cukup baik? Kita dapat berbicara tentang kasih Kristus selama berjam-jam, tetapi jika kehadiran kita penuh dengan kesombongan, kemarahan, dan kepentingan diri, kesaksian kita menjadi kontradiktif.

Yesus mengutus murid-murid untuk pergi. Artinya, iman tidak boleh berhenti di dalam ruang ibadah. Ada dunia yang harus ditemui. Ada keluarga yang membutuhkan kasih. Ada orang yang sedang kehilangan pengharapan. Ada manusia yang membutuhkan seseorang untuk mendengarkan mereka. Karena itu, kata “pergilah” bukan hanya perintah kepada para misionaris atau pendeta. Dalam konteks kehidupan sehari-hari, setiap orang percaya dipanggil untuk menjadi pembawa kehadiran Kristus.

Namun, membawa damai tidak berarti selalu diterima. Yesus juga berbicara mengenai kemungkinan penolakan. Jika suatu rumah atau kota tidak menerima mereka, mereka harus meninggalkannya. Ini penting. Kita bertanggung jawab atas kesetiaan kita, tetapi kita tidak selalu dapat mengendalikan respons orang lain. Ada saatnya kita sudah berbicara dengan kasih, tetapi orang lain menolak. Kita sudah menolong, tetapi disalahpahami. Kita sudah melakukan yang benar, tetapi tidak dihargai. Jangan biarkan penolakan membuat kita berhenti menjadi pembawa damai. Tugas kita bukan memaksa manusia menerima Kristus. Tugas kita adalah menjadi saksi Kristus dengan setia.

Kiranya ketika kita meninggalkan suatu tempat, orang-orang dapat mengingat bukan hanya kata-kata kita, tetapi juga karakter Kristus yang mereka lihat melalui hidup kita. Ke mana pun Tuhan mengutus kita, biarlah kehadiran kita menjadi kesempatan bagi orang lain untuk merasakan kasih, kebenaran, dan damai sejahtera Kristus.