Ketika Matius menyebut nama kedua belas murid dalam Matius 10:2–4, mungkin bagi kita hanyalah sebuah daftar. Namun, bagi Yesus, mereka adalah orang-orang yang akan dipakai untuk membawa berita Kerajaan Allah. Yang menarik adalah keberagaman mereka. Mereka tidak berasal dari latar belakang yang sama. Mereka tidak memiliki karakter dan cara berpikir yang sama. Bahkan secara politik, mereka dapat berada pada posisi yang sangat berbeda. Matius pernah menjadi pemungut cukai, sedangkan Simon disebut sebagai orang Zelot. Keduanya datang dari dunia yang secara sosial dan ideologis dapat berseberangan. Namun, Yesus menempatkan mereka dalam satu kelompok. Ini memberikan pelajaran penting bagi gereja: kesatuan tidak berarti semua orang harus sama. Kesatuan berarti orang-orang yang berbeda bersedia tunduk kepada Tuhan yang sama dan menjalankan panggilan yang sama.
Sering kali manusia lebih mudah membangun komunitas berdasarkan kesamaan. Kita nyaman dengan orang yang berpikir seperti kita, memiliki latar belakang seperti kita, memiliki gaya pelayanan seperti kita, bahkan memiliki pendapat yang sama dengan kita. Namun, Yesus menunjukkan sesuatu yang berbeda. Ia membentuk komunitas murid yang tidak semuanya sama. Mereka harus belajar hidup bersama, melayani bersama, berjalan bersama, dan pada akhirnya mengalami bahwa pusat kehidupan mereka bukan diri mereka masing-masing, melainkan Kristus.
Gereja tidak dibangun berdasarkan keseragaman manusia. Gereja dibangun di atas Kristus. Karena itu, perbedaan dalam gereja tidak selalu merupakan ancaman. Perbedaan dapat menjadi ruang bagi kita untuk belajar mengasihi, merendahkan hati, menghargai, dan bekerja bersama. Bahkan, daftar kedua belas murid itu mengingatkan kita bahwa panggilan Tuhan tidak menghapus keunikan seseorang, tetapi mengarahkan keunikan itu kepada tujuan Kerajaan Allah.
Petrus tetap Petrus. Yohanes tetap Yohanes. Matius tetap Matius. Mereka tidak harus menjadi orang lain supaya dapat dipakai Tuhan. Namun, mereka harus dibentuk oleh Yesus. Demikian juga dengan kita. Tuhan tidak memanggil kita untuk menjadi salinan orang lain. Tuhan memiliki pekerjaan yang berbeda bagi setiap orang. Ada yang dipanggil berkhotbah, mengajar, melayani anak-anak, mengurus administrasi, melayani musik, menguatkan orang sakit, dan menjadi saksi Kristus melalui pekerjaannya. Yang penting bukanlah apakah pelayanan kita terlihat besar atau kecil, melainkan apakah kita menjalankan bagian yang Tuhan percayakan kepada kita. Bahkan, nama Yudas Iskariot muncul dalam daftar tersebut. Ini menunjukkan bahwa kedekatan dengan komunitas rohani tidak otomatis menjamin kesetiaan hati. Seseorang dapat berada di antara murid-murid Yesus, tetapi akhirnya memilih jalannya sendiri. Karena itu, panggilan bukan hanya persoalan masuk dalam daftar, melainkan persoalan tetap setia kepada Dia yang memanggil.
Kita perlu bertanya kepada diri sendiri: Apakah saya sedang membangun pelayanan berdasarkan Kristus atau berdasarkan kelompok saya? Apakah saya dapat bekerja bersama orang yang berbeda dengan saya? Apakah saya lebih sibuk mempertahankan kepentingan pribadi daripada menjalankan misi Tuhan? Pertanyaan-pertanyaan ini penting karena panggilan Tuhan bukan hanya berbicara tentang apa yang kita kerjakan, tetapi juga tentang bagaimana kita berjalan bersama orang lain dalam menjalankan pekerjaan-Nya.
Dua belas orang itu berbeda, tetapi mereka dipanggil untuk satu tujuan. Demikian pula gereja hari ini. Kita berbeda usia, pendidikan, karakter, pengalaman, kemampuan, dan latar belakang. Namun, kita mempunyai satu Tuhan, satu Injil, dan satu panggilan untuk menghadirkan Kerajaan Allah. Perbedaan tidak seharusnya membuat kita kehilangan tujuan yang sama. Karena itu, jangan biarkan perbedaan menjadi alasan untuk terpecah. Biarlah perbedaan menjadi kesempatan untuk menunjukkan bahwa Kristus sanggup menyatukan orang-orang yang berbeda dalam satu panggilan. Bukan kesamaan yang membuat kita menjadi satu, melainkan Kristus yang menjadi pusat hidup kita.