Skip to content

Memiliki Kualitas Hati seperti Yesus

 

Matius 9:36

Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala.

Faktanya, dunia tidak kekurangan orang yang mampu melihat kesalahan. Kita hidup di tengah budaya yang begitu cepat memberikan penilaian. Ketika seseorang jatuh, kesalahannya segera dibicarakan. Ketika seseorang gagal, orang lain dengan mudah menunjukkan kekurangannya. Ketika seseorang berbeda, kita sering lebih cepat membuat jarak daripada mencoba memahami. Kita dapat begitu mudah melihat apa yang salah dalam diri orang lain, tetapi sering kali lupa bahwa di balik kesalahan itu ada seorang manusia yang sedang membutuhkan kasih, pertolongan, tuntunan, dan keselamatan.

Teks Matius 9:36 memperlihatkan sesuatu yang sangat indah tentang kualitas hati Yesus. Ketika melihat orang banyak, Ia tidak sekadar melihat kerumunan. Yesus melihat manusia yang lelah dan terlantar. Ia melihat kebutuhan mereka yang terdalam. Ketika melihat keadaan itu, hati-Nya tergerak oleh belas kasihan. Inilah kualitas hati yang perlu kita teladani. Yesus tidak pernah membenarkan dosa, tetapi Ia tidak menjadikan dosa sebagai alasan untuk berhenti mengasihi manusia. Yesus tidak mengabaikan kesalahan, tetapi Ia juga tidak membiarkan kesalahan seseorang menjadi identitas terakhir orang tersebut. Yesus mampu melihat seseorang lebih jauh daripada kegagalannya.

Hal ini terlihat ketika Yesus berhadapan dengan para pemungut cukai dan orang-orang berdosa. Ketika Matius mengadakan perjamuan dan Yesus makan bersama mereka, orang Farisi mempertanyakannya. Bagi mereka, orang-orang tersebut adalah kelompok yang harus dijauhi. Namun, Yesus justru hadir di tengah mereka. Bukan karena Yesus menyetujui kehidupan mereka, melainkan karena Ia datang untuk mencari dan menyelamatkan mereka yang membutuhkan keselamatan.

Ada perbedaan antara hati yang menghakimi dan hati yang berbelas kasihan. Hati yang menghakimi cenderung berkata, “Dia memang seperti itu.” Hati yang berbelas kasihan berkata, “Dia membutuhkan pertolongan.” Hati yang menghakimi berhenti pada kesalahan. Hati yang berbelas kasihan melihat kemungkinan pemulihan. Hati yang menghakimi ingin menjauh dari orang yang terluka, tetapi hati yang berbelas kasihan justru mendekat untuk membawa kasih dan pengharapan. Bukan berarti kita harus menutup mata terhadap dosa atau menganggap semua hal benar. Belas kasihan juga tidak berarti kehilangan kebenaran. Sebaliknya, belas kasihan membuat kita menyampaikan kebenaran dengan hati yang ingin menyelamatkan, bukan menghancurkan. Yesus penuh kasih sekaligus penuh kebenaran.

Karena itu, pertanyaan penting bagi kita hari ini adalah, “Bagaimana kualitas hati yang kita miliki sekarang?” Kualitas hati seperti Yesus tidak terlihat dari seberapa banyak kita mengetahui tentang Tuhan, tetapi dari bagaimana kita memperlakukan manusia yang Tuhan tempatkan di sekitar kita. Mungkin hari ini ada seseorang yang membutuhkan penerimaan kita. Ada seseorang yang menunggu pengampunan. Ada seseorang yang sedang tersesat dan membutuhkan arah. Ada seseorang yang kelihatannya kuat, tetapi sebenarnya sedang lelah dan terlantar. Jangan sampai kita menjadi orang yang hanya mampu menunjukkan kesalahan mereka, tetapi tidak pernah menghadirkan kasih Kristus bagi mereka.

Dunia tidak kekurangan orang yang mampu menilai. Dunia sangat membutuhkan orang yang mau berbelas kasihan. Kiranya ketika Tuhan memandang hati kita, Ia menemukan hati yang semakin menyerupai hati-Nya, yaitu hati yang mampu melihat manusia bukan hanya dari kesalahannya, tetapi dari kebutuhannya akan keselamatan; bukan hanya dari masa lalunya, tetapi dari kemungkinan masa depan yang Tuhan sediakan; bukan hanya sebagai orang yang harus dihakimi, tetapi sebagai jiwa yang perlu dikasihi, diterima, diampuni, dan dituntun kembali kepada-Nya.