Matius 9:31
Namun, mereka keluar dan memasyhurkan Dia ke seluruh daerah itu.
“Kasihanilah kami, hai Anak Daud!” Demikianlah seruan dua orang buta ketika mereka mengikuti Yesus. Mereka datang kepada Yesus dengan iman dan ketekunan sampai akhirnya mengalami mukjizat. Mata mereka yang sebelumnya tidak dapat melihat kini dicelikkan. Setelah sekian lama hidup dalam kegelapan, mereka akhirnya dapat melihat dunia, melihat orang-orang di sekitar mereka, dan yang terpenting, melihat karya Tuhan dalam hidup mereka. Namun, ada satu hal menarik yang terjadi setelah mukjizat itu. Yesus berpesan dengan tegas kepada mereka, “Jagalah supaya jangan seorang pun mengetahui hal ini” (Mat. 9:30). Akan tetapi, ayat berikutnya mencatat sesuatu yang berbeda: “Tetapi mereka keluar dan memasyhurkan Dia ke seluruh daerah itu.” Mereka tidak mampu menyimpan pengalaman tersebut untuk diri mereka sendiri.
Ada sesuatu yang dapat kita pelajari dari respons kedua orang buta ini. Orang yang sungguh-sungguh menyadari pertolongan Tuhan tidak akan mudah melupakan siapa yang telah menolongnya. Mereka tidak menjadikan mukjizat sebagai alasan untuk memusatkan perhatian kepada diri sendiri, tetapi justru memusatkan perhatian kepada Yesus. Mereka tidak berkata, “Lihatlah, sekarang kami sudah bisa melihat!” tetapi mereka keluar dan memasyhurkan Dia. Sering kali kita begitu bersemangat ketika menerima berkat, tetapi setelah itu justru lebih banyak membicarakan berkatnya daripada Pribadi yang memberikan berkat tersebut. Kita menceritakan keberhasilan, pekerjaan baru, kesembuhan, pertolongan, pencapaian, atau pintu yang Tuhan bukakan, tetapi tanpa sadar semakin sedikit menyebut Tuhan yang mengerjakannya.
Kisah kedua orang buta ini mengingatkan kita bahwa mukjizat seharusnya membawa kita semakin dekat kepada Tuhan, bukan semakin jauh dari-Nya. Berkat seharusnya membuat kita semakin bersyukur, bukan semakin sombong. Pertolongan Tuhan seharusnya membuat kita semakin rendah hati, bukan merasa bahwa kita berhasil karena kekuatan sendiri.
Menarik juga bahwa setelah menerima mukjizat, mereka tidak langsung mengadakan pesta untuk merayakan diri sendiri. Mereka keluar dan memasyhurkan Yesus. Ada kemungkinan mereka ingin orang lain mengetahui siapa yang telah mengubah hidup mereka. Pengalaman pribadi mereka menjadi kesaksian yang dapat menguatkan orang lain. Kesaksian seperti inilah yang dibutuhkan dunia hari ini. Banyak orang sedang kehilangan harapan. Ada yang sedang berjuang dalam keluarga, pekerjaan, kesehatan, pelayanan, pendidikan, maupun pergumulan pribadi. Kesaksian tentang kesetiaan Tuhan dapat menjadi pengingat bahwa Tuhan masih bekerja dan tidak pernah meninggalkan umat-Nya.
Mungkin kita juga pernah mengalami pertolongan Tuhan yang luar biasa. Jangan biarkan pengalaman itu berhenti hanya sebagai cerita pribadi. Ceritakanlah kebaikan Tuhan dengan kerendahan hati. Bukan untuk meninggikan diri, melainkan untuk meninggikan nama-Nya. Bukan supaya orang berkata, “Hebat sekali hidupmu,” melainkan supaya mereka berkata, “Betapa baiknya Tuhan!” Orang yang tidak melupakan pertolongan Tuhan akan memiliki hati yang penuh syukur. Hati yang penuh syukur akan selalu menemukan alasan untuk memasyhurkan nama-Nya. Karena itu, jangan hanya menikmati mukjizat Tuhan. Jadikanlah hidup kita sebagai kesaksian tentang Tuhan yang melakukan mukjizat itu. Biarlah setiap pertolongan yang kita terima membuat kita semakin rendah hati, semakin bersyukur, dan semakin berani menceritakan kebaikan-Nya kepada orang lain.