Skip to content

Orangtua Sebagai Wakil Tuhan

 

Sebutan orang tua sebagai “wakil Tuhan” tidak asing di telinga kita. Pada umumnya, kalimat tersebut digunakan untuk menasihati anak-anak agar menghormati orang tuanya. Sebutan “wakil Tuhan” menegaskan betapa besarnya peran orang tua terhadap anak-anak dan oleh karena itu anak-anak perlu menghormati orang tua dengan sungguh-sungguh. Tidak jarang sebutan ini digunakan untuk menyudahi suatu pertengkaran antara orang tua dan anak. Sebutan tersebut menegaskan otoritas orang tua atas kehidupan anak, sehingga anak harus mengikuti keputusan orang tua. Tentu sebutan orang tua sebagai wakil Tuhan tidak keliru, tetapi perlu dihayati dengan sungguh-sungguh mengingat bahwa itu adalah sebuah klaim yang serius.

Jika seseorang mengaku bahwa ia adalah wakil Tuhan, maka ia wajib mencerminkan Tuhan itu sendiri. Jangan sampai kita hanya menginginkan otoritas yang dibawa oleh sebutan tersebut, tetapi tidak menyadari adanya tanggung jawab besar di baliknya. Dengan meyakini bahwa orang tua adalah wakil Tuhan, maka kita terpanggil untuk berpikir dan berperasaan seperti Dia. Ini adalah sebuah panggilan pertobatan internal. Sebelum kita mengajar, kita perlu belajar. Sebelum kita hendak mewakili Tuhan, kita perlu “menjadi” seperti Tuhan. Sebab, dengan menyebut dirinya sebagai “wakil Tuhan,” anak akan menantikan seperti apakah Tuhan itu. Bisa jadi, orang tualah yang menjadi wajah pertama dan terakhir yang menurutnya menggambarkan Tuhan. Betapa celakanya apabila orang tua gagal menggambarkan wajah-Nya.

Menjadi wakil Tuhan juga berarti selalu tanggap dalam menjawab kebutuhan anak. Sebagaimana Allah yang kehadiran-Nya diwakili oleh Tuhan Yesus selalu tanggap terhadap kebutuhan kita, bahkan sebelum kita memintanya, demikian pula seharusnya orang tua sebagai wakil-Nya. Kebutuhan terbesar anak tentu dimulai dari sandang, pangan, dan papan. Namun, di balik ketiganya ada kebutuhan besar yang hadir bersamaan, yakni kehadiran kita sebagai orang tua. Sangat dapat dipahami, terlebih di kota-kota besar, apabila ada orang tua yang kesulitan untuk selalu hadir karena kesibukan. Namun, kesibukan tidak boleh menjadi alasan untuk tidak menghadirkan waktu yang berkualitas bersama anak. Mereka perlu berinteraksi dengan orang tua untuk dapat mencicipi hadirat Allah, dan hal ini perlu diatur dengan sengaja. Jika interaksi dengan orang tua tidak ada, maka akan lebih sulit bagi seorang anak untuk memiliki koneksi dengan Allah pada masa mendatang. Sebab, ia telah memiliki gambaran tentang Allah yang sulit dijangkau, sebagaimana yang digambarkan oleh orang tuanya.

Kisah Yairus yang memohon kesembuhan bagi anaknya dalam Matius 9:18–19 tidak hanya menggambarkan belas kasihan dan kuasa Tuhan. Dari sudut pandang lain, kita dapat membaca kisah ini sebagai kisah seorang ayah yang hadir dan rela mengorbankan apa pun demi anaknya. Sebagai seorang pemimpin rumah ibadat, tentu Yairus memiliki nilai diri yang tinggi. Namun, nilai diri itu ia tanggalkan ketika berlutut di hadapan Yesus, seorang “guru jalanan” dan anak tukang kayu. Hal yang dapat dipandang memalukan bagi seorang pemimpin rumah ibadat justru ia lakukan demi anak tunggalnya. Tindakan Yairus dapat menggambarkan orang tua yang mencerminkan wajah Allah yang rela mengorbankan Anak-Nya demi dosa manusia. Yairus juga hadir dalam titik terendah kehidupan anaknya tanpa ragu mengorbankan waktu dan harga dirinya. Dalam hal ini, Yairus dapat dikatakan telah memberi gambaran tentang menjadi wakil Tuhan yang baik.

Sepenggal kisah Yairus memberikan pelajaran kepada setiap orang tua—tidak hanya mereka yang memiliki hubungan biologis dengan anak, tetapi juga setiap orang yang berada di sekitar anak-anak—tentang makna menjadi wakil Tuhan. Wakil Tuhan bukan sekadar sebutan yang mengandung otoritas, melainkan juga tanggung jawab moral dan spiritual. Di satu sisi, dengan menyadari betapa seriusnya panggilan ini, setiap kita dipanggil untuk terus membenahi diri dan hadir dalam kehidupan setiap anak. Kitalah kitab-kitab terbuka yang dapat menjelaskan siapakah Allah kepada mereka yang belum dapat memahami atau mengalami Allah secara langsung. Di sisi lain, betapa terhormatnya kita apabila memiliki kesempatan untuk mencerminkan wajah Allah bagi manusia-manusia kecil yang baru belajar tentang kehidupan.