Skip to content

Takut kepada Hal yang Salah

 

Matius 9:8

Maka orang banyak yang melihat hal itu takut lalu memuliakan Allah yang telah memberikan kuasa sedemikian itu kepada manusia.

Manusia dapat sangat takut kehilangan kesehatan, pekerjaan, keamanan, atau orang yang dikasihinya, tetapi jarang atau bahkan hampir tidak pernah gemetar ketika berbuat dosa dan kesalahan. Seseorang akan merasa terguncang ketika hasil pemeriksaan kesehatan memburuk, pendapatan terancam, atau masa depan tidak menentu. Namun, ketika hati telah condong mencintai dunia, kebencian dipelihara, dan kehendak Allah diabaikan, ia masih dapat menjalani hari seolah-olah tidak terjadi sesuatu yang serius.

Matius memperlihatkan rangkaian peristiwa yang menyingkapkan berbagai sumber ketakutan manusia. Para murid takut menghadapi badai. Penduduk Gadara takut terhadap dua orang yang dikuasai roh jahat. Orang lumpuh menghadapi kelemahan tubuh dan keterbatasan hidup. Semua itu menakutkan. Akan tetapi, ketika Yesus menjumpai seorang lumpuh, Ia membawa persoalan yang paling mendasar ke permukaan, yakni dosa. Badai dapat menenggelamkan perahu dan penyakit dapat mengakhiri kehidupan jasmani, tetapi dosa berhubungan dengan keadaan manusia di hadapan Allah dan arah kekekalan.

Setelah orang lumpuh itu bangkit dan berjalan, orang banyak diliputi ketakutan serta memuliakan Allah. Ketakutan mereka bukanlah kepanikan menghadapi hal-hal yang mengerikan. Mereka sedang berhadapan dengan pekerjaan Allah yang melampaui kemampuan manusia. Mereka menyaksikan bahwa Allah telah memberikan kepada Anak Manusia otoritas untuk menyatakan pengampunan dan membuktikannya melalui kesembuhan. Peristiwa tersebut seharusnya membangkitkan kegentaran yang sehat: Allah sedang bekerja, Kerajaan-Nya sedang dinyatakan, dan manusia tidak boleh lagi memperlakukan dosa sebagai perkara ringan.

Sayangnya, kita sering memiliki susunan ketakutan yang terbalik. Kita lebih takut kehilangan penerimaan manusia daripada kehilangan perkenanan Allah. Kita lebih takut usaha merugi daripada memperoleh keuntungan melalui ketidakjujuran. Kita lebih takut hubungan terganggu daripada membiarkan hubungan itu menyeret kita keluar dari kehendak Tuhan. Kita lebih takut hidup susah daripada hidup tidak suci. Ketakutan seperti ini menunjukkan apa yang sebenarnya kita anggap paling berharga.

Takut akan Allah bukanlah ketakutan yang membuat manusia menjauh dari-Nya tanpa pengharapan. Takut akan Allah adalah kesadaran mendalam bahwa hidup berlangsung di hadapan-Nya dan setiap pilihan memiliki konsekuensi kekal. Kesadaran ini membuat kita berhenti mempermainkan anugerah. Kita tidak lagi berkata, “Nanti saya bertobat,” sebab tidak ada jaminan bahwa kesempatan hari ini akan kembali tersedia esok hari. Akan tiba saatnya ketika perjalanan hidup berakhir dan tidak ada lagi kesempatan untuk memperbaiki keputusan yang sengaja kita pertahankan sekarang.

Mengingat akan kematian dan penghakiman kekal bukanlah sikap muram yang melenyapkan sukacita. Justru kesadaran akan keterbatasan waktu menolong kita menjalani kehidupan secara bertanggung jawab. Kita belajar membedakan mana yang hanya mendesak dan mana yang sungguh bernilai kekal. Banyak orang menghabiskan tenaga untuk membangun kenyamanan, nama baik, dan kekayaan, tetapi mengabaikan pembentukan karakter. Padahal, ketika hidup berakhir, yang dibawa menghadap Allah bukanlah banyaknya milik kita, melainkan kualitas diri yang telah terbentuk melalui setiap keputusan dan ketaatan.

Di sisi lain, pengampunan memberikan keberanian untuk menghadapi badai kehidupan. Jika kita hidup dalam perdamaian dengan Allah dan sungguh-sungguh berjalan dalam kehendak-Nya, penderitaan tidak lagi menjadi terminal akhir. Penyakit, kehilangan, dan kematian tetaplah menyakitkan, tetapi semua itu tidak dapat menggagalkan tujuan kekal Allah bagi orang yang setia. Perspektif kekekalan membuat kita tidak meremehkan penderitaan, tetapi menempatkannya pada ukuran yang benar. Yang terutama bukanlah apakah hidup kita selalu nyaman, melainkan apakah kita ditemukan hidup berkenan kepada Bapa. Karena itu, periksalah apa yang paling kita takuti hari ini. Ketakutan dapat menjadi jendela yang memperlihatkan pusat hati kita. Jika kehilangan uang lebih menakutkan daripada kehilangan integritas, berarti uang telah mengambil tempat yang tidak semestinya. Jika penolakan manusia lebih menakutkan daripada ketidaktaatan kepada Allah, berarti penilaian manusia telah menjadi tuan atas hidup kita.