Skip to content

Undurnya Roh-Roh Jahat

 

Matius 8:29

Apa urusan-Mu dengan kami, hai Anak Allah? Adakah Engkau ke mari untuk menyiksa kami sebelum waktunya?

Ada keadaan hidup yang begitu rusak sehingga manusia merasa tidak mungkin dipulihkan. Dua orang di wilayah Gadara hidup di antara kuburan, dikuasai roh-roh jahat, sangat berbahaya, dan membuat orang lain tidak berani melalui jalan itu. Mereka bukan hanya kehilangan ketenangan, melainkan juga kehilangan kehidupan yang sewajarnya sebagai manusia. Masyarakat mungkin telah mengenal mereka cukup lama, tetapi pengenalan itu tidak membuahkan pemulihan. Orang banyak hanya mampu merasa takut, menghindar, dan menerima keadaan tersebut sebagai kenyataan yang tidak dapat diubah.

Kuburan dalam kisah itu bukan sekadar keterangan tempat, melainkan juga menghadirkan suasana kematian, kenajisan, keterasingan, dan hilangnya pengharapan. Kuasa jahat mendorong manusia menjauh dari komunitas kehidupan dan tinggal dalam wilayah kehancuran. Sebaliknya, pekerjaan Allah selalu mengembalikan manusia kepada kehidupan yang benar: pikirannya dipulihkan, relasinya ditata, martabatnya ditegakkan, dan arah hidupnya dikembalikan kepada rancangan semula. Keselamatan tidak berhenti pada terlepasnya seseorang dari penderitaan; keselamatan harus membawa manusia hidup bagi kehendak Allah.

Injil Matius menggambarkan bahwa roh-roh jahat itu telah mengenali Yesus sebagai Anak Allah, bahkan sebelum Ia bertindak. Mereka mengetahui bahwa Yesus memiliki otoritas dan bahwa akan tiba waktu ketika seluruh kekuatan kejahatan dihakimi. Benteng-benteng yang selama ini menakutkan manusia tidak dapat mempertahankan pengaruhnya di hadapan otoritas Allah yang dinyatakan melalui Yesus. Kebenaran ini tidak diberikan supaya orang percaya menjadi terobsesi pada dunia roh atau melihat roh-roh jahat di balik setiap persoalan. Perhatian utama Matius justru diarahkan kepada Yesus. Pertanyaannya bukan seberapa mengerikan kuasa kegelapan, melainkan: siapakah Yesus sehingga roh-roh jahat pun tunduk kepada perintah-Nya? Dialah Anak yang dikasihi Bapa, yang diutus dan diberi kuasa untuk menghadirkan pemerintahan Allah. Pelayanan-Nya menyatakan bahwa Kerajaan Allah sedang menerobos wilayah yang dikuasai dosa, kematian, kehancuran, dan ketakutan.

Pertanyaan para roh jahat, “Apakah Engkau datang untuk menyiksa kami sebelum waktunya?” juga memperlihatkan bahwa kejahatan mempunyai batas. Penghakiman terakhir memang belum digenapi, tetapi kemenangan Allah telah mulai dinyatakan melalui pelayanan Yesus. Karena itu, orang percaya tidak perlu hidup dalam ketakutan seolah-olah kuasa gelap menentukan akhir sejarah. Bapa telah menetapkan hari ketika segala kejahatan diselesaikan. Sambil menantikan hari itu, kita dipanggil untuk berdiri di pihak Kerajaan-Nya, menolak dosa, dan menghadirkan kehidupan di tengah dunia yang masih terluka.

Namun, kita harus memeriksa diri dengan jujur. Roh-roh jahat mengenal identitas Yesus dan menyebut-Nya Anak Allah, tetapi pengenalan itu tidak membuat mereka mengasihi atau menaati Allah. Berarti, pengetahuan yang benar mengenai Yesus belum tentu merupakan iman yang menyelamatkan. Seseorang dapat mengucapkan pengakuan yang tepat, memahami doktrin, bahkan mengetahui ayat-ayat Alkitab, tetapi tetap mempertahankan kehendaknya sendiri. Iman sejati bukan hanya mengenali otoritas Yesus, melainkan bersedia menempatkan seluruh hidup di bawah otoritas tersebut.

Apakah masih ada wilayah dalam diri kita yang tidak boleh disentuh oleh firman? Mungkin bukan kerasukan seperti yang dialami dua orang Gadara, tetapi ada kebencian yang dipelihara, nafsu yang disembunyikan, ambisi yang menguasai, kepahitan yang dianggap wajar, atau kebiasaan dosa yang terus dibela. Semua itu dapat merampas kebebasan batin. Kita mungkin tetap beribadah, tetapi jalan hidup kita telah dikuasai oleh sesuatu selain kehendak Allah. Yesus datang bukan sekadar membuat kita merasa aman, melainkan membebaskan kita agar kembali hidup bagi Allah. Pembebasan harus direspons dengan pertobatan, pemberesan, dan ketaatan. Kita tidak boleh meminta kuasa Tuhan sambil mempertahankan tempat bagi dosa. Kita juga tidak dapat menggunakan anugerah sebagai alasan untuk bersikap pasif. Anugerah membuka jalan pemulihan; tanggung jawab kita adalah meninggalkan kegelapan dan berjalan dalam terang.