Skip to content

Mengikut Tuhan Yesus

 

Tuhan Yesus tidak pernah mengubah standar bagi seseorang yang ingin menjadi murid atau pengikut-Nya, yakni menyangkal diri dan memikul salibnya setiap hari. Dalam Lukas 9:23, Kata-Nya kepada mereka semua: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku.” Syarat, standar, atau ketentuan ini bukan tiba-tiba muncul di tengah pengiringan kepada-Nya. Tuhan Yesus sudah mengatakannya sejak awal ketika seseorang berkeinginan untuk menjadi murid dan pengikut-Nya. Tuhan Yesus tidak pernah memaksa, mendorong, merayu, bahkan mengiming-imingi seseorang untuk menjadi murid-Nya dengan berbagai keuntungan yang akan didapat. Seseorang yang melakukan sesuatu karena tekanan atau paksaan akan berakhir pada ketidaksetiaan. Ia melakukannya karena keterpaksaan dan hal itu dapat menjadi beban mental yang sangat mengganggu dirinya sendiri.

Oleh karena itu, menjadi murid Tuhan Yesus atau menjadi pengikut-Nya harus lahir dari kesadaran diri seutuhnya dan memperhitungkan segala sesuatu sejak awal pengiringan tersebut. Ada sebuah pertanyaan yang harus dijawab secara tegas oleh orang-orang Kristen atau orang-orang percaya yang mengambil keputusan untuk menjadi murid Tuhan Yesus: “Apa yang melatarbelakangi atau menjadi alasan seseorang untuk menjadi murid-Nya dan mengikut Tuhan Yesus?” Jawaban atas pertanyaan ini akan menjadi dasar yang kokoh atau justru rapuh dalam perjalanan seseorang menjadi murid-Nya. Apa yang menjadi daya tarik seseorang untuk menjadi murid dan mengikut Tuhan Yesus perlu dipahami dengan benar sejak awal.

Kita membaca dalam Injil-Injil Sinoptik bahwa Tuhan Yesuslah yang memanggil kedua belas murid-Nya. Ini bukan panggilan yang bersifat paksaan, tekanan, ancaman, atau intimidasi. Panggilan Tuhan Yesus kepada kedua belas murid-Nya adalah sebuah undangan. Setiap murid yang dipanggil-Nya memiliki hak prerogatif untuk menolak undangan-Nya itu. Dalam catatan Injil disebutkan bahwa ketika Tuhan Yesus memanggil para murid, mereka segera meninggalkan jala, perahu, dan keluarga mereka serta mengikut Tuhan Yesus. Kemungkinan besar para murid telah mendengar berita-berita tentang Tuhan Yesus. Sehingga saat mereka menerima tawaran untuk menjadi murid-Nya, itu merupakan sebuah kesempatan yang sangat langka dan terbatas.

Bagaimana tidak langka dan terbatas? Kita membaca bahwa banyak orang yang telah disembuhkan dari berbagai penyakit maupun dibangkitkan oleh Tuhan Yesus. Bahkan ada yang dilepaskan dari kuasa setan meminta kepada Tuhan Yesus untuk menjadi murid dan mengikuti-Nya. Namun, Tuhan Yesus berkata, “Pulanglah..” (Lukas 8:38-39). Maka, menjadi murid atau pengikut Tuhan Yesus pada saat itu memiliki nilai yang dapat dibanggakan. Mereka memiliki Guru yang sangat cerdas, memiliki kuasa untuk menyembuhkan, serta dapat melakukan berbagai mukjizat dan tanda ajaib. Murid-murid pasti memiliki pemikiran sendiri mengenai alasan mereka mau menjadi murid Tuhan Yesus kala itu. Namun, Tuhan Yesus berkata, “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku.”

Demikian pula, setiap kita memiliki latar belakang tersendiri ketika mengambil keputusan untuk menjadi murid dan pengikut Tuhan Yesus. Ada yang mengambil keputusan setelah mengalami kesembuhan atau menerima pertolongan ketika menghadapi berbagai masalah. Setelah itu, seseorang dapat mengucapkan janji besar dengan semangat yang menyala-nyala untuk menjadi orang Kristen, menjadi orang percaya, bahkan melayani pekerjaan-Nya. Namun, melalui berbagai peristiwa dan perjalanan waktu, ucapan janji itu akan diuji kebenaran atau kepalsuannya. Ada yang tetap memegang janji itu, ada yang mulai kelelahan, dan tidak sedikit yang akhirnya mengundurkan diri seraya menarik kembali janji tersebut.

Misalnya, seorang pemuda yang untuk pertama kalinya mengikuti sebuah retreat dan tersentuh hatinya, lalu berkata, “Saya akan melayani Tuhan seumur hidupku, ke mana pun Ia membawaku.” Ini merupakan pengalaman jatuh cinta untuk pertama kalinya kepada Tuhan yang tentunya harus dijaga dan dirawat agar tidak seumur jagung. Namun, yang terjadi bisa sebaliknya. Ketika beberapa bulan kemudian pelayanan mulai menuntut pengorbanan waktu, materi, dan perasaan, perjalanan pelayanan bisa berhenti sejenak seraya berpikir, “Kok jadi begini?” Cinta mula-mula bisa bergeser, berubah, dan tidak sedikit yang akhirnya padam.