Skip to content

Katakan Saja Sepatah Kata

 

Ada kalanya kita merasa harus melihat terlebih dahulu sebelum percaya. Kita ingin bukti sebelum mengambil langkah. Kita ingin kepastian sebelum menyerahkan diri. Kita ingin melihat hasil sebelum mempercayai firman Tuhan. Kisah seorang perwira dalam Matius 8:5–13 memperlihatkan bentuk iman yang berbeda. Perwira itu datang kepada Yesus karena hambanya sedang sakit keras. Ia memiliki kedudukan, kekuasaan, dan kemungkinan besar sumber daya yang cukup. Namun, semua itu tidak dapat menyelesaikan masalah yang sedang dihadapinya.

Ada keadaan tertentu dalam hidup yang membuat kita sadar bahwa kemampuan manusia memiliki batas. Perwira itu datang kepada Yesus dan memohon pertolongan. Menariknya, ia tidak meminta Yesus datang ke rumahnya. Ketika Yesus menyatakan kesediaan untuk datang, perwira itu menjawab, “Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku, katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh.” Inilah iman yang luar biasa. Ia percaya bahwa satu perkataan Yesus cukup.

Perwira itu memahami otoritas. Sebagai seorang yang berada di bawah kekuasaan dan memiliki bawahan, ia mengetahui bahwa perkataan seseorang yang memiliki otoritas dapat menghasilkan tindakan. Karena itu, ia memahami bahwa Yesus tidak perlu hadir secara fisik untuk melakukan mukjizat. Cukup berkata-kata. Betapa sering kita meremehkan kuasa firman Tuhan karena terlalu berfokus pada apa yang dapat dilihat. Kita membaca firman Tuhan, tetapi tidak selalu mempercayainya. Kita mendengar janji Tuhan, tetapi masih terus dikuasai kecemasan.

Iman bukan sekadar mengetahui bahwa Yesus berkuasa. Iman berarti mempercayai kuasa-Nya bahkan ketika kita belum melihat hasilnya. Yesus kemudian memuji iman perwira tersebut. Bahkan, Yesus mengatakan bahwa Ia tidak menemukan iman sebesar itu di antara orang Israel. Mengapa iman orang ini begitu istimewa? Karena iman yang benar selalu berhubungan dengan pengenalan yang benar terhadap Tuhan. Semakin kita mengenal siapa Kristus, semakin kita belajar mempercayai firman-Nya. Persoalannya, sering kali iman kita bergantung pada situasi. Ketika keadaan baik, kita mudah berkata bahwa Tuhan baik. Namun, ketika doa belum dijawab, kita mulai mempertanyakan kebaikan Tuhan.

Perwira ini mengingatkan kita bahwa kuasa Tuhan tidak bergantung pada apa yang sedang kita lihat. Mungkin hari ini ada doa yang belum terjawab. Ada keluarga yang belum mengalami pemulihan. Ada pekerjaan yang belum menemukan jalan keluar. Ada pelayanan yang belum menghasilkan sesuatu seperti yang diharapkan. Ada persoalan yang tampaknya semakin rumit. Jangan buru-buru menyimpulkan bahwa Tuhan tidak bekerja. Firman Tuhan tetap memiliki kuasa sekalipun kita belum melihat hasilnya.

Namun, kita perlu memahami bahwa percaya kepada firman Tuhan bukan berarti memaksa Tuhan memenuhi semua keinginan kita. Iman bukan manipulasi rohani. Iman berarti mempercayai karakter, kuasa, dan kehendak Tuhan. Perwira itu percaya kepada Yesus. Itulah pusat imannya. Hari ini kita membutuhkan iman yang benar, bukan iman yang hanya percaya ketika melihat mukjizat, melainkan iman yang tetap berdiri ketika mukjizat belum terjadi. Ada kalanya Tuhan berkata, “Tunggu.” Ada kalanya Tuhan berkata, “Tidak.” Ada kalanya Tuhan membuka jalan yang sama sekali tidak kita pikirkan. Namun, dalam semua keadaan itu, kita dipanggil untuk tetap percaya kepada-Nya. Sebab, dasar iman kita bukanlah hasil yang kita terima. Dasar iman kita adalah Pribadi yang kita percayai.